Mengendalikan Diri ketika Marah
Bagian 5 · Memperbaiki Hati
Mengenali marah dan memilih tindakan yang tidak menyakiti.
Mari Memperhatikan
Dalam permainan, tendangan Fajar mengenai kaki temannya. Temannya berteriak dan mendorongnya. Fajar merasa panas di wajah dan ingin membalas. Ia mundur beberapa langkah, berhenti bermain sejenak, lalu meminta pembina membantu menjelaskan kejadian.
Ilustrasi rekaan untuk belajar.
Dalil yang Dipelajari
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
لَيْسَ الشَّدِيدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيدُ الَّذِي يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ
Terjemahan makna
Orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat. Orang kuat adalah orang yang menguasai dirinya ketika marah.
HR. Al-Bukhari, no. 6114; Kitab Al-Adab; dari Abu Hurairah.
Sabda Rasulullah dikutip lengkap tanpa sanad.
Marah adalah perasaan yang perlu diarahkan
Kita dapat marah ketika merasa diperlakukan tidak adil, kehilangan sesuatu, atau mengalami gangguan. Perasaan itu memberi tahu bahwa ada hal yang perlu diperhatikan. Namun, tindakan yang dilakukan saat marah tetap menjadi tanggung jawab kita. Memukul, menghina, atau merusak barang dapat menambah kesulitan.
Rasulullah menjelaskan bahwa orang kuat adalah orang yang dapat menguasai diri ketika marah. Kekuatan seperti ini dilatih dengan mengenali tanda dalam diri: suara meninggi, tubuh menegang, atau keinginan segera membalas. Menyadarinya lebih awal memberi kesempatan untuk memilih langkah berikutnya.
Memberi jeda sebelum bertindak
Berhentilah sejenak jika keadaan memungkinkan. Jauhkan diri dari pertengkaran dan cari tempat aman untuk menenangkan diri. Mohonlah perlindungan Allah dan ingatkan diri bahwa persoalan perlu diselesaikan tanpa menambah kerugian. Kamu boleh berkata, “Aku sedang marah. Aku perlu tenang dahulu.”
Setelah lebih tenang, jelaskan kejadian yang membuatmu keberatan. Gunakan kalimat tentang tindakan, bukan hinaan terhadap diri orang lain. “Aku kesakitan ketika didorong” lebih membantu daripada membalas dengan julukan buruk. Jika percakapan tetap memanas, mintalah pendampingan pengasuh.
Memperbaiki akibat kemarahan
Jika sudah membentak atau merusak sesuatu, jangan berhenti pada alasan bahwa kamu sedang marah. Akui tindakanmu dan bicarakan cara memperbaikinya. Pelajari pemicu yang sering muncul, misalnya berebut giliran atau merasa tidak didengarkan, lalu siapkan cara merespons yang lebih baik.
Mengendalikan marah juga tidak berarti membiarkan diri terus disakiti. Fajar boleh menghentikan permainan dan meminta pembina menangani dorongan temannya. Sikap tenang membantu kita menyampaikan masalah dengan jelas dan mencari penyelesaian yang lebih adil.
Yang Perlu Diingat
Kekuatan saat marah tampak pada kemampuan menahan tindakan yang menyakiti dan mencari penyelesaian.
Latihan 3 soal
Apa makna kekuatan dalam hadis yang dipelajari?
Lihat pedoman jawaban
Kemampuan menguasai diri ketika marah, sehingga perasaan tidak langsung berubah menjadi tindakan yang menyakiti.
Mengapa langkah Fajar menjauh sejenak dan meminta pembina membantu merupakan pilihan yang baik?
Lihat pedoman jawaban
Karena memberi kesempatan menenangkan diri, menghindari balasan yang memperbesar masalah, dan membawa persoalan kepada orang yang dapat menangani.
Apa tanggung jawab orang yang sudah merusak barang ketika marah?
Lihat pedoman jawaban
Mengakui perbuatan, meminta maaf, membicarakan perbaikan atau penggantian sesuai keadaan, dan melatih cara mengelola marah agar tidak berulang.
Langkah Pembiasaan
Susun rencana tiga langkah ketika mulai marah: tanda yang kamu kenali, cara mengambil jeda, dan orang yang dapat dimintai bantuan. Simpan sebagai pengingat pribadi.