Sifat Jaiz bagi Allah dan Iman kepada Takdir
Matan dan makna
١٠. وَجَائِزٌ بِفَضْلِهِ وَعَدْلِهِ ۞ تَرْكٌ لِكُلِّ مُمْكِنٍ كَفِعْلِهِ
Terjemahan makna
Dengan karunia dan keadilan-Nya, jaiz bagi Allah tidak mengadakan setiap perkara yang mungkin, sebagaimana jaiz bagi-Nya mengadakannya.
Kosakata pilihan
| Kosakata Arab | Makna |
|---|---|
| جَائِزٌ | mungkin menurut akal; dapat terjadi atau tidak terjadi |
| بِفَضْلِهِ | dengan karunia-Nya |
| وَعَدْلِهِ | dan dengan keadilan-Nya |
| تَرْكٌ | tidak mengadakan perkara yang mungkin |
| مُمْكِنٍ | perkara yang dapat ada atau tidak ada |
Makna jaiz dalam pelajaran akidah
Pada pelajaran sebelumnya, kita mengenal perkara wajib dan mustahil bagi Allah. Kini matan menerangkan perkara jaiz. Jaiz di sini berarti mungkin menurut akal: suatu perkara dapat ada dan dapat tidak ada. Sebuah pohon dapat tumbuh di halaman, tetapi halaman itu juga dapat ada tanpa pohon tersebut. Keberadaan pohon bukan kewajiban yang harus dipenuhi Allah untuk menyempurnakan diri-Nya.
Sifat jaiz bagi Allah ialah mengadakan setiap perkara yang mungkin atau tidak mengadakannya. Allah menciptakan dengan kehendak dan kekuasaan-Nya; tidak ada pihak yang memaksa-Nya. Dia juga tidak menciptakan karena memerlukan bantuan makhluk. Kata jaiz pada pembahasan ini perlu dibedakan dari kata boleh dalam hukum perbuatan manusia. Keduanya dipakai dalam bidang pembahasan yang berbeda.
Karunia keadilan dan keterbatasan manusia
Matan menyebut karunia dan keadilan Allah. Nikmat kehidupan, iman, kesehatan, dan kesempatan belajar adalah pemberian-Nya. Kita menerima nikmat dengan syukur, bukan merasa Allah mempunyai utang yang wajib dibayar kepada kita. Allah Mahasuci dari kezaliman. Ketetapan-Nya tidak dapat diukur dengan kesombongan manusia yang merasa mengetahui seluruh hikmah hanya dari sedikit pengalaman hidupnya.
Ketika seseorang mengalami kesulitan, kita sering belum mengetahui sebab dan hikmahnya. Para nabi juga mendapat ujian. Karena itu, sakit atau kehilangan tidak menjadi bukti pasti bahwa seseorang dibenci Allah. Kita tidak mengarang keputusan tentang rahasia Allah. Tugas kita ialah menolong, berdoa, mencari jalan keluar yang baik, dan tetap menjaga harapan terhadap rahmat-Nya.
Iman kepada qada dan qadar
Iman kepada takdir berarti meyakini bahwa tidak ada kejadian yang keluar dari ilmu, kehendak, dan kekuasaan Allah. Allah mengetahui seluruh peristiwa; Dia tidak terkejut oleh sesuatu yang baru kita saksikan. Istilah qada dan qadar digunakan ulama untuk menjelaskan ketetapan Allah. Pada tahap ini, pahamilah pokok keyakinannya sebelum mempelajari perbedaan rincian definisi yang terdapat dalam kitab-kitab.
Kemampuan dan pilihan manusia juga merupakan karunia Allah. Kita dapat membedakan tindakan yang disengaja dari kejadian yang tidak kita pilih. Tangan yang bergerak karena gemetar berbeda dari tangan yang sengaja mengambil milik teman. Perbedaan itu berhubungan dengan tanggung jawab. Allah menciptakan kita, kemampuan kita, dan perbuatan kita. Kita mempunyai pilihan dan diperintahkan menggunakan kemampuan tersebut untuk menaati-Nya.
Terjadi tidak selalu berarti diperintahkan
Ada perbuatan yang terjadi di dunia tetapi dilarang oleh Allah, seperti mencuri dan berdusta. Terjadinya perbuatan itu tidak berarti Allah meridainya atau memerintahkannya. Ketentuan tentang kejadian dan perintah tentang perilaku perlu dibedakan. Kita mengetahui kewajiban melalui petunjuk syariat; kita tidak menentukan halal dan haram hanya dengan melihat bahwa suatu peristiwa telah berlangsung.
Seseorang yang mengambil uang teman tidak dapat membenarkan dirinya dengan berkata, “Ini sudah menjadi takdir.” Ia telah memilih perbuatan yang dilarang. Ia harus berhenti, bertobat, dan mengembalikan hak pemiliknya. Demikian pula seorang santri tidak boleh membiarkan perundungan dengan alasan semua sudah ditentukan. Mencegah kezaliman dan melindungi yang lemah termasuk usaha baik yang diperintahkan.
Ikhtiar doa dan tawakal berjalan bersama
Kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi sebelum kejadian itu berlangsung. Oleh sebab itu, iman kepada takdir tidak memberi alasan untuk meninggalkan tugas. Santri belajar untuk ujian, menjaga kebersihan agar sehat, dan meminta pertolongan saat sakit. Usaha memakai sebab yang baik bukan lawan dari takdir. Allah mengaruniakan sebab-sebab itu sebagai bagian kehidupan yang kita jalani.
Doa juga merupakan ibadah dan usaha yang diperintahkan. Sesudah belajar, santri memohon kemudahan dan menyerahkan hasil kepada Allah. Sikap ini disebut tawakal. Tawakal tidak berarti menolak bantuan atau berhenti bekerja. Orang yang bertawakal tetap bersungguh-sungguh, memilih cara yang benar, dan menyadari bahwa hasil usahanya tidak sepenuhnya berada dalam kekuasaan dirinya.
Menanggapi hasil dengan iman
Ketika berhasil, seorang mukmin bersyukur dan tidak merendahkan orang lain. Ia mengakui karunia Allah serta bantuan orang-orang di sekitarnya. Jika hasil belum sesuai harapan, ia bersabar, memeriksa usaha, dan memperbaiki langkah. Kesabaran tidak melarang rasa sedih atau meminta pertolongan. Santri yang kecewa boleh berbicara kepada guru agar mendapat bimbingan dan dapat kembali menjalankan tugasnya.
Iman kepada takdir menghindarkan kita dari dua kebiasaan: menyombongkan keberhasilan dan menjadikan kegagalan alasan untuk berhenti selamanya. Kita tidak menguasai seluruh hasil, tetapi masih dapat mengatur niat dan usaha yang menjadi tanggung jawab. Karena Allah membuka kesempatan untuk bertobat dan memperbaiki diri, seorang santri tetap berdoa, belajar, dan melakukan kebaikan yang mampu dikerjakan hari ini.
Dalil yang dipelajari
إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ
Terjemahan makna
Sungguh, segala sesuatu Kami ciptakan dengan ketentuan.
QS. Al-Qamar [54]: 49.
Seluruh ciptaan berada dalam ketentuan Allah; keyakinan ini berjalan bersama kewajiban manusia untuk menaati petunjuk-Nya.
… إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ …
Terjemahan makna
Sungguh, Allah tidak menzalimi walau seberat zarah.
QS. An-Nisa’ [4]: 40, bagian ayat.
Allah Mahasuci dari kezaliman. Kita tidak boleh menilai rahasia setiap musibah berdasarkan dugaan.
Penerapan dalam kehidupan
Umar belum berhasil dalam ujian hafalan. Ia sedih, lalu meminta guru menyimak bagian yang masih keliru. Ia menambah waktu murajaah dan berdoa. Umar menerima hasil yang sudah terjadi sambil memperbaiki usaha berikutnya. Ia tidak berkata bahwa takdir membuat murajaah tidak diperlukan.
Rangkuman
Jaiz bagi Allah berarti mengadakan atau tidak mengadakan perkara yang mungkin.
Tidak ada peristiwa yang keluar dari ilmu, kehendak, dan kekuasaan Allah.
Terjadinya dosa tidak menjadikannya diperintahkan atau diridai Allah.
Iman kepada takdir menyertai ikhtiar, doa, tanggung jawab, syukur, dan sabar.
Hafalan: Hafalkan bait 10 dan QS. Al-Qamar [54]: 49. Kuasai satu kalimat: iman kepada takdir berjalan bersama usaha dan tanggung jawab.
Latihan 4 soal
Jelaskan mengapa Allah tidak membutuhkan penciptaan manusia untuk menjadi sempurna.
Lihat pedoman jawaban
Allah sempurna dan tidak bergantung pada makhluk. Menciptakan atau tidak menciptakan perkara yang mungkin adalah jaiz bagi-Nya; tidak ada kebutuhan atau pihak luar yang memaksa-Nya.
Bandingkan tangan yang gemetar dengan tangan yang sengaja mengambil barang teman. Apa hubungannya dengan tanggung jawab?
Lihat pedoman jawaban
Gemetar bukan tindakan yang dipilih, sedangkan mengambil barang dilakukan dengan sengaja. Manusia dimintai tanggung jawab atas pilihan dan perbuatannya sesuai ketentuan syariat, bukan sekadar karena ada gerakan.
Seorang santri menyebut perundungan sebagai takdir lalu menolak membantu korbannya. Apa yang seharusnya ia lakukan?
Lihat pedoman jawaban
Ia perlu membedakan terjadinya peristiwa dari perintah Allah. Perundungan tetap dilarang; ia harus menolong dengan cara aman, meminta bantuan pengurus atau guru, dan mendukung penghentian kezaliman.
Susun tindakan berikut menjadi contoh ikhtiar, doa, dan tawakal saat ujian hafalan:
a. Menerima hasil sambil memperbaiki kekurangan.
b. Memohon pertolongan Allah setelah menyiapkan diri.
c. Murajaah dan meminta simakan dengan sungguh-sungguh.
Jelaskan mengapa tawakal tidak berarti meninggalkan usaha.Lihat pedoman jawaban
Urutan contoh: c–b–a. Murajaah dan simakan menunjukkan ikhtiar, permohonan kepada Allah menunjukkan doa, lalu penyerahan hasil disertai perbaikan menunjukkan tawakal. Usaha tetap diperintahkan; doa juga dapat dilakukan sebelum dan selama usaha, tidak hanya pada urutan contoh ini.