Kitab Allah dan Suhuf
Matan dan makna
٢٤. أَرْبَعَةٌ مِنْ كُتُبٍ تَفْصِيلُهَا ۞ تَوْرَاةُ مُوسَى بِالْهُدَى تَنْزِيلُهَا
Terjemahan makna
Empat kitab perlu dikenal secara terperinci. Taurat diturunkan kepada Musa dengan membawa petunjuk.
٢٥. زَبُورُ دَاوُدَ وَإِنْجِيلٌ عَلَى ۞ عِيسَى وَفُرْقَانٌ عَلَى خَيْرِ الْمَلَا
Terjemahan makna
Zabur diturunkan kepada Dawud, Injil kepada Isa, dan Al-Furqan kepada sebaik-baik makhluk.
٢٦. وَصُحُفُ الْخَلِيلِ وَالْكَلِيمْ ۞ فِيهَا كَلَامُ الْحَكَمِ الْعَلِيمْ
Terjemahan makna
Juga suhuf bagi Al-Khalil dan Al-Kalim; di dalamnya terdapat firman Allah Yang Maha Menetapkan hukum lagi Maha Mengetahui.
Kosakata pilihan
| Kosakata Arab | Makna |
|---|---|
| كُتُبٍ | kitab-kitab wahyu |
| بِالْهُدَى | dengan membawa petunjuk |
| تَنْزِيلُهَا | penurunannya oleh Allah |
| فُرْقَانٌ | pembeda kebenaran dan kebatilan; sebutan Al-Qur’an |
| صُحُفُ | lembaran-lembaran wahyu |
| الْخَلِيلِ | sebutan bagi Nabi Ibrahim |
| الْكَلِيمْ | sebutan bagi Nabi Musa yang mendapat kemuliaan Allah berfirman kepadanya |
Wahyu sebagai petunjuk
Allah tidak membiarkan manusia hanya mengikuti dugaan tentang cara beribadah dan menjalani kehidupan. Dia menurunkan wahyu kepada para nabi. Sebagian wahyu diterangkan dalam pelajaran ini sebagai kitab dan suhuf. Beriman kepada kitab-kitab Allah berarti membenarkan bahwa petunjuk yang benar-benar diturunkan-Nya berasal dari Allah. Kita mengimani wahyu tersebut dengan hormat karena ia membawa kebenaran, bukan hasil rekaan manusia.
Iman kepada kitab mencakup wahyu kepada Nabi Muhammad ﷺ serta wahyu kepada para nabi sebelumnya. Kita tidak menolak kitab terdahulu hanya karena tidak menjadi umat rasul penerimanya. Pada saat yang sama, sebagai umat Nabi Muhammad, pedoman syariat yang kita ikuti ialah Al-Qur’an dan petunjuk beliau. Membenarkan asal wahyu terdahulu dan mengikuti syariat Rasulullah merupakan dua sikap yang berjalan bersama.
Empat kitab dan penerimanya
Matan menyebut empat kitab beserta penerimanya: Taurat diturunkan kepada Nabi Musa, Zabur kepada Nabi Dawud, Injil kepada Nabi Isa, dan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad ﷺ. Hafalkan setiap pasangan dengan benar agar kitab tidak tertukar dengan utusan yang menerimanya.
Al-Qur’an dalam bait dua puluh lima disebut Al-Furqan. Maknanya ialah pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Sebutan ini mengingatkan bahwa wahyu membimbing cara menilai keyakinan serta perbuatan. Ungkapan khair al-mala pada bait menunjuk Nabi Muhammad ﷺ sebagai penerima Al-Qur’an. Dengan memahami ungkapan tersebut, kita dapat membaca nazam tanpa mengira bahwa kitab keempat diturunkan kepada tokoh yang berbeda.
Suhuf Ibrahim dan Musa
Suhuf berarti lembaran-lembaran wahyu. Bait dua puluh enam menyebut suhuf Al-Khalil dan Al-Kalim. Al-Khalil pada bait menunjuk Nabi Ibrahim, sedangkan Al-Kalim menunjuk Nabi Musa. Al-Qur’an sendiri menyebut suhuf Ibrahim dan Musa. Kita membenarkan adanya wahyu tersebut dan mengambil pelajaran yang diterangkan agama, tanpa mengarang jumlah lembar atau seluruh isinya ketika tidak memiliki dasar yang dapat dipertanggungjawabkan. Perbedaan kitab dan suhuf tidak ditentukan hanya dari ketebalan atau jumlah halaman.
Kedua sebutan menunjukkan kemuliaan yang Allah anugerahkan kepada nabi-Nya. Ibrahim disebut khalil Allah; sebutan itu tidak berarti Allah memerlukan teman untuk menghilangkan kesepian. Musa disebut Al-Kalim karena mendapat kemuliaan Allah berfirman kepadanya. Kita menghubungkannya dengan pelajaran kalam: Allah berfirman dengan kesempurnaan yang layak bagi-Nya, tanpa mulut, alat, atau kebutuhan sebagaimana cara berbicara manusia.
Mengimani kitab terdahulu dengan tepat
Iman kita ditujukan kepada kitab sebagaimana benar-benar diturunkan Allah. Oleh karena itu, membenarkan wahyu terdahulu tidak berarti memastikan bahwa setiap tulisan atau terjemahan yang beredar sekarang sama persis dengan wahyu asal tanpa pemeriksaan. Santri perlu mengetahui batas ini supaya tidak mengucapkan kesimpulan yang terlalu luas. Pembahasan sejarah naskah dan perbedaan ajaran dapat dipelajari dengan bimbingan pada waktunya.
Keteguhan keyakinan tidak memberi izin untuk menghina pemeluk agama lain atau merusak milik mereka. Kita dapat menjelaskan bahwa sebagai muslim kita mengikuti Al-Qur’an dan ajaran Rasulullah dengan bahasa yang santun. Adab menjaga ucapan berlaku pula ketika berbeda keyakinan. Belajar iman hendaknya membuat kita semakin jujur dan adil, bukan menggunakan pelajaran kitab sebagai alasan mencela orang lain.
Berhubungan dengan Alquran
Sebagai pedoman umat Nabi Muhammad ﷺ, Al-Qur’an perlu dibaca, dipelajari, dan diamalkan. Membaca dengan benar merupakan bagian penting dari belajar. Santri menyimak guru, memperbaiki makhraj dan tajwid, serta menjaga adab terhadap mushaf. Bacaan yang belum lancar dapat dilatih sedikit demi sedikit. Jangan mengejek teman yang sedang belajar, sebab kemampuan membaca tumbuh melalui bimbingan dan pengulangan.
Mempelajari makna juga membutuhkan kesabaran. Terjemahan membantu memahami, tetapi tidak selalu menerangkan seluruh konteks sebuah ayat. Bila belum paham, tanyakan kepada guru dan gunakan tafsir yang dapat dipercaya. Jangan mengambil keputusan besar hanya dari potongan yang terpisah. Kesungguhan memahami petunjuk tampak ketika santri menjaga salat, kejujuran, amanah, serta hubungan baik dengan orang-orang di sekitarnya.
Mengamalkan petunjuk secara bertahap
Iman kepada kitab membuat kita bersedia dibimbing oleh petunjuk Allah, bukan hanya merasa bangga memiliki mushaf. Jika pernah menyimpang, kita bertobat dan kembali belajar. Teman dapat saling mengingatkan dengan santun, sementara guru membantu memahami ayat yang belum jelas. Dengan cara ini, pengenalan Taurat, Zabur, Injil, Al-Qur’an, dan suhuf berujung pada rasa hormat terhadap wahyu serta pengamalan yang semakin baik.
Dalil yang dipelajari
وَالَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ وَبِالْآخِرَةِ هُمْ يُوقِنُونَ
Terjemahan makna
Dan mereka yang beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu serta apa yang diturunkan sebelum engkau, dan mereka yakin akan akhirat.
QS. Al-Baqarah [2]: 4.
Iman mencakup wahyu yang diturunkan kepada Nabi Muhammad dan wahyu yang diturunkan kepada para nabi sebelumnya, serta keyakinan akan akhirat.
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ تَزَكَّى
وَذَكَرَ اسْمَ رَبِّهِ فَصَلَّى
بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا
وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى
إِنَّ هَذَا لَفِي الصُّحُفِ الْأُولَى
صُحُفِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى
Terjemahan makna
Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri, mengingat nama Tuhannya, lalu salat. Tetapi kalian lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal akhirat lebih baik dan lebih kekal. Sungguh, hal ini benar-benar terdapat dalam lembaran-lembaran wahyu terdahulu, yaitu lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa.
QS. Al-A‘la [87]: 14–19.
Ayat-ayat sebelumnya disertakan agar ungkapan “hal ini” dapat dipahami. Nasihat tentang penyucian diri, mengingat Allah, salat, dan keutamaan akhirat disebut terdapat dalam suhuf Ibrahim dan Musa.
Penerapan dalam kehidupan
Zaid mencocokkan Taurat–Musa, Zabur–Dawud, Injil–Isa, dan Al-Qur’an–Muhammad ﷺ. Ia membenarkan wahyu yang Allah turunkan kepada semua penerima tersebut. Sebagai umat Rasulullah, ia mengikuti Al-Qur’an dan ajaran beliau. Ketika belum memahami makna ayat, ia mencatat pertanyaan untuk dibahas bersama guru.
Rangkuman
Taurat diturunkan kepada Musa, Zabur kepada Dawud, Injil kepada Isa, dan Al-Qur’an kepada Muhammad ﷺ.
Al-Furqan merupakan sebutan Al-Qur’an sebagai pembeda kebenaran dan kebatilan.
Al-Khalil menunjuk Ibrahim, dan Al-Kalim menunjuk Musa; keduanya disebut menerima suhuf.
Kita mengimani wahyu terdahulu sebagaimana diturunkan Allah dan mengikuti syariat Nabi Muhammad.
Iman kepada kitab tampak dalam membaca, memahami, mengamalkan, dan menjaga adab.
Hafalan: Hafalkan bait 24–26 serta empat pasangan kitab dan penerimanya. Hafalkan QS. Al-A‘la [87]: 18–19 dengan memahami maksud suhuf Ibrahim dan Musa.
Latihan 6 soal
Pasangkan kitab dengan nabi penerimanya.
Kata atau pernyataan Pasangan makna 1. Taurat a. Nabi Isa 2. Zabur b. Nabi Musa 3. Injil c. Nabi Muhammad ﷺ 4. Al-Qur’an d. Nabi Dawud Lihat pedoman jawaban
1–b, 2–d, 3–a, 4–c: Taurat–Musa, Zabur–Dawud, Injil–Isa, Al-Qur’an–Muhammad ﷺ.
Al-Khalil pada matan menunjuk Nabi ___; Al-Kalim menunjuk Nabi ___. Suhuf berarti ___.
Lihat pedoman jawaban
Ibrahim; Musa; lembaran-lembaran wahyu.
Mengapa beriman kepada wahyu terdahulu tidak berarti umat Nabi Muhammad mengambil semua syariat terdahulu sebagai pedomannya sekarang?
Lihat pedoman jawaban
Kita membenarkan asal wahyu yang Allah turunkan, sementara sebagai umat Nabi Muhammad kita mengikuti syariat beliau melalui Al-Qur’an dan ajarannya. Rincian syariat umat terdahulu dapat berbeda.
Hasan membaca potongan terjemahan ayat yang belum dipahaminya. Ia hendak menyebarkan kesimpulannya kepada teman-teman. Apa langkah yang tepat, dan berikan satu pengamalan Al-Qur’an yang sudah jelas dipelajari?
Lihat pedoman jawaban
Ia perlu menunda kesimpulan, mencatat pertanyaan, memeriksa konteks, dan bertanya kepada guru dengan memakai tafsir yang dapat dipercaya. Pengamalan yang sudah dipelajari antara lain menjaga salat, berkata jujur, atau mengembalikan amanah.
Sebutan Al-Furqan bagi Al-Qur’an berarti ___. Apa hubungannya dengan perbuatan kita?
Lihat pedoman jawaban
Pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Petunjuk Al-Qur’an membimbing kita menilai keyakinan serta perbuatan dan memilih tindakan yang benar.
“Suhuf pasti berbeda dari kitab hanya karena jumlah halamannya lebih sedikit.” Benar atau salah? Betulkan kalimat tersebut.
Lihat pedoman jawaban
Salah. Suhuf berarti lembaran-lembaran wahyu. Perbedaan kitab dan suhuf tidak ditentukan hanya dari jumlah halaman atau ketebalan; kita mengikuti keterangan wahyu yang benar dan tidak mengarang jumlahnya.