Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Aqidatul Awam · Belajar
Kembali ke koleksi belajar
KELAS 1 · BAHASA INDONESIA

Syarah Aqidatul Awam — Kelas 1

Pondok Pesantren Ibadurrahman Temas

29 pelajaran57 bait148 soal latihan4 evaluasiNaskah Versi 4 · Edisi santri · A4
عَقِيدَةُ الْعَوَامِّ
PELAJARAN 16 DARI 29

Menerima Petunjuk Rasul dan Beriman kepada Hari Akhir

Matan dan makna

٢٧. وَكُلُّ مَا أَتَى بِهِ الرَّسُولُ ۞ فَحَقُّهُ التَّسْلِيمُ وَالْقَبُولُ

Terjemahan makna

Segala yang dibawa Rasul wajib disambut dengan ketundukan dan penerimaan.

٢٨. إِيمَانُنَا بِيَوْمٍ آخِرٍ وَجَبْ ۞ وَكُلِّ مَا كَانَ بِهِ مِنَ الْعَجَبْ

Terjemahan makna

Kita wajib beriman kepada hari akhir dan segala peristiwa menakjubkan yang terjadi di dalamnya.

Kosakata pilihan

Kosakata ArabMakna
التَّسْلِيمُketundukan kepada petunjuk Rasul
الْقَبُولُpenerimaan terhadap petunjuk yang benar berasal dari Rasul
إِيمَانُنَاiman kita
بِيَوْمٍ آخِرٍkepada hari akhir
الْعَجَبْperistiwa menakjubkan pada hari akhir

Menerima petunjuk dengan ilmu

Matan mengajarkan taslim dan qabul: ketundukan serta penerimaan terhadap petunjuk Rasulullah ﷺ. Kita membenarkan beliau karena Allah mengutus dan menjaga beliau sebagai pembawa wahyu. Penerimaan itu diwujudkan dengan mempelajari ajaran dan mengikuti perintahnya. Bertanya untuk memahami bukan sikap menentang. Santri yang belum mengerti dapat meminta penjelasan dengan santun agar penerimaannya disertai pengetahuan yang benar.

Namun, suatu cerita belum tentu berasal dari Rasul hanya karena pengirimnya menyebutnya hadis. Kita perlu memeriksa sumber. Pesan berantai, mimpi seseorang, atau cerita tanpa rujukan tidak otomatis menjadi dalil. Sikap cermat menjaga kita dari menisbatkan sesuatu yang keliru kepada Nabi. Kita menerima berita yang benar dari beliau sambil membedakannya dari tambahan yang dibuat manusia.

Dunia bukan akhir perjalanan

Iman kepada hari akhir berarti membenarkan kehidupan sesudah dunia dan perkara yang Allah serta Rasul-Nya beritakan tentangnya. Kehidupan kita tidak berakhir menjadi tanpa makna setelah kematian. Allah mempersiapkan pertanggungjawaban dan balasan. Karena itu, tindakan yang tidak diketahui manusia tetap diperhatikan oleh Allah. Kezaliman tidak lenyap hanya karena pelakunya berhasil menyembunyikannya, dan kebaikan tidak sia-sia karena tidak dipuji.

Pengetahuan tentang akhirat berasal dari wahyu. Akal membantu memahami bahwa Allah mampu membangkitkan ciptaan-Nya, tetapi tidak menyusun seluruh rinciannya dari dugaan. Kita mengimani pokok berita serta mempelajari penjelasan yang sahih. Jika cara suatu peristiwa tidak diterangkan, kita tidak menggambar lalu memastikan gambaran itu sebagai kenyataan. Sikap ini menyatukan iman kepada kuasa Allah dengan kejujuran tentang batas pengetahuan. Pengenalan berikut menghimpun pokok berita akhirat, bukan memastikan seluruh rincian urutan peristiwanya.

Barzakh kebangkitan dan mahsyar

Sesudah meninggal, manusia memasuki barzakh, yakni alam antara kematian dan kebangkitan. Kita membenarkan pertanyaan serta nikmat dan azab kubur berdasarkan berita agama yang benar. Istilah alam kubur tidak berarti seluruh keadaan itu hanya dapat berlaku pada orang yang dimakamkan dengan cara tertentu. Allah berkuasa atas semua yang telah meninggal, sekalipun manusia tidak mengetahui seluruh keadaan mereka.

Allah kemudian membangkitkan manusia; kebangkitan disebut ba‘ts. Manusia dihimpun untuk menghadapi pertanggungjawaban; penghimpunan disebut hasyr, dan tempat penghimpunan dikenal sebagai mahsyar. Allah yang menciptakan manusia pada awalnya berkuasa menghidupkannya kembali. Tulang yang hancur dan tubuh yang tidak lagi kita lihat tidak berada di luar ilmu-Nya. Keterbatasan pengalaman kita tidak membatasi kuasa Allah.

Hisab mizan dan shirath

Hisab berarti perhitungan amal. Kita akan menghadapi pertanggungjawaban atas apa yang dikerjakan, dengan keadilan dan rahmat Allah. Mizan ialah timbangan amal yang Allah tegakkan. Tidak ada kezaliman pada keputusan-Nya. Kita tidak perlu memastikan bentuk mizan menurut timbangan di pasar. Yang perlu dipahami ialah amal dan hak sesama sungguh diperhitungkan, bukan hanya dilupakan setelah kehidupan dunia berakhir.

Shirath adalah jembatan di atas neraka yang diberitakan dalam hadis. Kita mengimani kenyataannya tanpa menambah gambaran yang tidak berdasar. Pembahasan hisab, mizan, dan shirath menumbuhkan kehati-hatian terhadap amal. Seorang santri yang pernah merusak barang teman tidak cukup berusaha menyembunyikannya. Ia mengakui, memperbaiki kerusakan, dan mengembalikan hak sesuai kemampuannya, sambil bertobat serta meminta bimbingan.

Haudh dan syafaat

Haudh ialah telaga yang Allah karuniakan kepada Nabi Muhammad ﷺ. Berita tentangnya menunjukkan kemuliaan beliau dan karunia bagi umat yang Allah muliakan untuk meminumnya. Kita mempelajarinya sebagai berita akhirat yang benar, bukan menyamakan seluruh keadaannya dengan kolam yang biasa dilihat. Rincian yang sahih dapat dipelajari bertahap; yang belum diterangkan tidak kita tambahkan hanya untuk membuat cerita lebih menarik.

Syafaat ialah pertolongan melalui permohonan yang Allah izinkan. Nabi Muhammad mempunyai kemuliaan syafaat dengan izin-Nya. Tidak seorang pun dapat memaksa Allah atau memberi syafaat secara mandiri. Harapan terhadap syafaat mendorong kita mengikuti Rasul, menjaga ibadah, dan bertobat. Harapan itu tidak menjadi alasan sengaja menyakiti orang dengan anggapan bahwa semua kewajiban dapat ditinggalkan tanpa pertanggungjawaban.

Surga neraka dan karunia melihat Allah

Surga adalah tempat kenikmatan yang Allah sediakan bagi hamba beriman, sedangkan neraka adalah tempat azab. Keduanya adalah kenyataan yang kita imani, bukan sekadar perumpamaan tentang perasaan senang dan susah. Memasuki surga merupakan karunia serta rahmat Allah. Amal saleh tetap diperintahkan: kita beribadah, menjaga hak, dan berharap kepada-Nya. Kita memohon keselamatan dari azab tanpa merasa diri pasti suci.

Surga dan neraka telah diciptakan Allah dan tidak akan musnah. Keduanya tetap merupakan makhluk yang bergantung kepada Allah; kekalnya terjadi karena Allah mengekalkannya. Ini berbeda dari baqa Allah, yaitu kekal tanpa akhir, dengan keberadaan yang tidak bermula dan tidak bergantung kepada apa pun. Kekalnya neraka tidak berarti setiap muslim yang berdosa kekal di dalamnya; balasan ditetapkan Allah dengan keadilan dan rahmat-Nya.

Di akhirat, orang beriman mendapat karunia melihat Allah sebagaimana diberitakan wahyu. Inilah kenikmatan yang amat besar. Melihat Allah tidak berarti Allah menjadi tubuh atau menempati tempat dan arah tertentu. Allah tidak menyerupai makhluk dan tidak diliputi penglihatan. Pada tahap ini, kita membenarkan karunia tersebut, menyucikan Allah dari keserupaan, dan memperbaiki ibadah dengan harapan memperoleh rida-Nya.

Tobat dan hak sesama

Iman kepada akhirat menumbuhkan tanggung jawab, tetapi tidak menutup pintu harapan. Orang yang berdosa diperintahkan bertobat: berhenti dari kesalahan, menyesal, dan bertekad tidak mengulanginya. Jika menyangkut hak manusia, hak itu harus dipulihkan dengan cara yang benar. Seorang santri yang telah keliru dapat kembali belajar dan memperbaiki diri. Ia tidak perlu menyerah seakan rahmat Allah telah tertutup baginya.

Kita tidak menetapkan surga atau neraka bagi orang tertentu hanya berdasarkan dugaan kita. Penilaian akhir berada pada Allah. Sikap kita terhadap teman yang salah ialah membantu menghentikan kesalahan dan memperbaiki akibatnya, bukan mengucapkan vonis akhirat. Guru membimbing dengan tegas serta penuh harapan. Mengingat akhirat seharusnya menguatkan amanah dan keberanian bertobat, sekaligus menenangkan orang yang sedang berusaha kembali kepada kebaikan.

Menyiapkan bekal mulai hari ini

Bekal akhirat dimulai dari kesempatan yang ada sekarang. Salat, belajar dengan niat baik, menolong teman, berkata jujur, dan menjaga barang merupakan bagian kehidupan yang dapat bernilai ibadah. Jangan meremehkan kebaikan kecil. Santri dapat memilih satu tindakan yang akan dikerjakan hari ini dan memeriksa kembali pada malam hari. Pemeriksaan diri dilakukan untuk memperbaiki langkah, bukan untuk membanggakan banyaknya amal.

Pelajaran akhirat menghubungkan takut berbuat salah dengan harapan terhadap rahmat Allah. Jika keduanya dijaga, kita terdorong beramal dan tetap mempunyai jalan untuk bangkit ketika tergelincir. Sesudah belajar istilah-istilahnya, ulangi makna setiap istilah dengan bahasa sendiri. Kemudian tanyakan: adakah hak yang belum dikembalikan, ibadah yang perlu diperbaiki, atau orang yang dapat dibantu? Jawabannya menjadi langkah nyata menyiapkan bekal.

Dalil yang dipelajari

وَضَرَبَ لَنَا مَثَلًا وَنَسِيَ خَلْقَهُ قَالَ مَنْ يُحْيِي الْعِظَامَ وَهِيَ رَمِيمٌ
قُلْ يُحْيِيهَا الَّذِي أَنْشَأَهَا أَوَّلَ مَرَّةٍ وَهُوَ بِكُلِّ خَلْقٍ عَلِيمٌ

Terjemahan makna

Dia membuat perumpamaan bagi Kami dan melupakan penciptaan dirinya. Dia berkata, “Siapa yang dapat menghidupkan tulang-belulang yang telah hancur?” Katakanlah, “Yang akan menghidupkannya ialah Dia yang menciptakannya pertama kali. Dia mengetahui setiap ciptaan.”

QS. Yasin [36]: 78–79.

Pertanyaan tentang tulang yang hancur disertakan agar kata “menghidupkannya” jelas. Allah yang menciptakan manusia pada awalnya berkuasa membangkitkannya kembali.

وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ نَاضِرَةٌ
إِلَىٰ رَبِّهَا نَاظِرَةٌ

Terjemahan makna

Wajah-wajah pada hari itu berseri-seri, memandang kepada Tuhannya.

QS. Al-Qiyamah [75]: 22–23.

Orang beriman mendapat karunia melihat Allah di akhirat. Karunia itu diimani bersama tanzih: Allah tidak menyerupai makhluk dan tidak diliputi penglihatan.

Penerapan dalam kehidupan

Ihsan menemukan barang yang pernah ia ambil tanpa izin. Sesudah mempelajari pertanggungjawaban akhirat, ia mengembalikan barang, meminta maaf, dan bertobat. Ia tetap berharap kepada Allah sambil memperbaiki kesalahan. Ia juga memeriksa sumber sebuah pesan yang menyebut hadis, agar tidak menyebarkan berita yang keliru tentang Rasulullah.

Rangkuman

Taslim berarti menerima dan mengikuti petunjuk yang benar-benar berasal dari Rasul.

Kita mengimani barzakh, kebangkitan, mahsyar, hisab, mizan, shirath, haudh, dan syafaat sesuai berita yang benar.

Surga dan neraka adalah kenyataan; syafaat berlaku dengan izin Allah.

Melihat Allah di akhirat merupakan karunia bagi orang beriman, tanpa menyerupakan Allah dengan tubuh, tempat, atau arah.

Iman kepada akhirat menumbuhkan amanah, tobat, pemulihan hak, dan harapan terhadap rahmat Allah.

Hafalan: Hafalkan bait 27–28 dan QS. Yasin [36]: 79. Kuasai makna istilah akhirat dengan bahasa sendiri; ulangi QS. Al-Qiyamah [75]: 22–23 bersama penjelasan tanzih.

Latihan 6 soal

  1. “Setiap pesan yang disebut hadis wajib langsung diterima tanpa memeriksa sumbernya.” Benar atau salah? Jelaskan hubungannya dengan taslim kepada Rasul.

    Lihat pedoman jawaban

    Salah. Taslim berarti menerima petunjuk yang benar-benar berasal dari Rasul. Sebutan hadis dalam pesan belum membuktikan sumber dan kesahihannya, sehingga berita itu perlu diperiksa.

  2. Pasangkan istilah akhirat dengan maknanya.

    Kata atau pernyataanPasangan makna
    1. Barzakha. Perhitungan amal
    2. Ba‘tsb. Jembatan di atas neraka
    3. Hasyrc. Alam antara kematian dan kebangkitan
    4. Hisabd. Penghimpunan manusia
    5. Mizane. Timbangan amal
    6. Shirathf. Kebangkitan
    Lihat pedoman jawaban

    1–c, 2–f, 3–d, 4–a, 5–e, 6–b: barzakh–alam antara kematian dan kebangkitan; ba‘ts–kebangkitan; hasyr–penghimpunan; hisab–perhitungan amal; mizan–timbangan amal; shirath–jembatan di atas neraka.

  3. Jelaskan haudh dan syafaat, lalu mengapa harapan syafaat tidak membolehkan kita meninggalkan tanggung jawab?

    Lihat pedoman jawaban

    Haudh ialah telaga karunia bagi Nabi Muhammad. Syafaat ialah pertolongan melalui permohonan yang Allah izinkan. Harapan karunia Allah tidak membatalkan perintah ibadah, tobat, dan pemulihan hak; ia mendorong kita mengikuti Rasul serta memperbaiki amal.

  4. Seorang santri berkata bahwa ia tidak dapat memperbaiki diri karena pernah berdosa. Berikan nasihat yang menunjukkan iman kepada akhirat dan rahmat Allah.

    Lihat pedoman jawaban

    Ia perlu berhenti dari kesalahan, menyesal, bertekad tidak mengulanginya, dan memulihkan hak manusia bila ada. Allah memberi kesempatan bertobat. Pertanggungjawaban akhirat mendorong perbaikan, sedangkan harapan rahmat mencegah putus asa.

  5. “Orang beriman melihat Allah di akhirat berarti Allah mempunyai tubuh dan menempati arah tertentu.” Benar atau salah? Jelaskan pembetulannya.

    Lihat pedoman jawaban

    Salah. Orang beriman mendapat karunia melihat Allah sebagaimana diberitakan wahyu. Allah tidak menyerupai makhluk, tidak menjadi tubuh, tidak menempati tempat atau arah, dan tidak diliputi penglihatan.

  6. Apa perbedaan kekalnya surga dan neraka dengan baqa Allah? Apakah kekalnya neraka berarti setiap muslim yang berdosa kekal di dalamnya?

    Lihat pedoman jawaban

    Surga dan neraka adalah makhluk yang kekal karena Allah mengekalkannya dan tetap bergantung kepada-Nya. Baqa Allah berarti kekal tanpa akhir, dengan keberadaan yang tidak bermula dan tidak bergantung kepada apa pun. Kekalnya neraka tidak berarti setiap muslim yang berdosa kekal di dalamnya; balasan ditetapkan Allah dengan keadilan dan rahmat-Nya.

BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Syarah Aqidatul Awam — Kelas 1 · Pelajaran 16 · Menerima Petunjuk Rasul dan Beriman kepada Hari AkhirVersi 4

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan