Isra perjalanan malam yang Allah karuniakan
Matan dan makna
٤٦. وَقَبْلَ هِجْرَةِ النَّبِيِّ الْإِسْرَا ۞ مِنْ مَكَّةٍ لَيْلًا لِقُدْسٍ يُدْرَى
Terjemahan makna
Sebelum hijrah Nabi, terjadilah Isra, yaitu perjalanan malam dari Makkah menuju Al-Quds.
Kosakata pilihan
| Kosakata Arab | Makna |
|---|---|
| هِجْرَةٌ | hijrah Nabi dari Makkah ke Madinah |
| الْإِسْرَاءُ | perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsha |
| لَيْلًا | pada malam hari |
| لِقُدْسٍ | menuju Al-Quds |
| يُدْرَى | diketahui |
| مُعْجِزَةٌ | kejadian luar biasa dari Allah sebagai tanda kebenaran nabi |
Perjalanan malam dari Makkah menuju Al Quds
Isra adalah perjalanan malam Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsha di Al-Quds. Bait 46 menyebut peristiwa ini terjadi sebelum hijrah Nabi ke Madinah. Kata laylan berarti pada malam hari. Dengan tiga penanda itu, kita mengenali waktunya secara umum, tempat awal, serta tempat tujuan tanpa mencampur Isra dengan perjalanan lain.
Al-Quds adalah kota tempat Masjid al-Aqsha berada. Al-Qur’an menyatakan bahwa Allah memperjalankan hamba-Nya dan memperlihatkan sebagian tanda kebesaran-Nya. Peristiwa ini merupakan karunia Allah kepada Rasulullah. Ketika menjelaskan Isra, subjek yang harus kita perhatikan ialah Allah yang memperjalankan; Nabi adalah hamba yang menerima kemuliaan tersebut.
Hamba yang dimuliakan oleh Allah
Ayat Isra menggunakan sebutan ‘hamba-Nya’ untuk Nabi. Sebutan hamba mengandung kehormatan ketika disandarkan kepada Allah. Kemuliaan yang sangat besar tetap berlangsung dalam hubungan penghambaan. Nabi tidak menjadi tuhan karena menerima mukjizat. Beliau adalah rasul pilihan yang seluruh kehidupan dan kemuliaannya berada dalam kuasa Allah.
Dari sini kita belajar menghubungkan penghormatan kepada Nabi dengan tauhid. Kita mencintai beliau, membenarkan risalahnya, dan mensyukuri karunia yang Allah berikan kepadanya. Pada saat yang sama, kita memohon pertolongan dan beribadah kepada Allah. Pengetahuan tentang mukjizat memperkuat keyakinan terhadap kuasa Allah dan kedudukan utusan-Nya.
Ayat dibuka dengan kata subhana, yang menyatakan penyucian Allah. Awal ayat ini mengarahkan perhatian kita kepada Allah yang sempurna dan Mahakuasa. Selanjutnya, penyebutan hamba-Nya mempertemukan dua pengertian: kebesaran Tuhan yang memberi karunia dan kemuliaan hamba yang menerima karunia tersebut.
Di luar kebiasaan bukan mustahil menurut akal
Dalam kehidupan sehari-hari, perjalanan mempunyai jarak dan membutuhkan waktu. Kita mengenali pola itu melalui pengalaman. Isra adalah mukjizat yang melampaui kebiasaan perjalanan manusia. Mukjizat merupakan kejadian luar biasa yang Allah anugerahkan kepada nabi sebagai tanda kebenarannya. Kejadian demikian tidak diukur semata-mata dengan kemampuan manusia melakukan perjalanan biasa.
Kita telah membedakan mustahil menurut akal dari perkara yang tidak biasa terjadi. Mustahil aqli tidak dapat diterima keberadaannya karena mengandung pertentangan. Sebaliknya, kejadian yang melampaui pengalaman manusia tidak otomatis mengandung pertentangan. Ketika Allah memperjalankan hamba-Nya dengan cara yang luar biasa, peristiwa itu tetap berada dalam kuasa-Nya.
Kemungkinan dan kepastian kejadian
Ada dua pertanyaan yang perlu dibedakan: apakah suatu kejadian mungkin dalam kuasa Allah, dan apakah kejadian itu benar-benar terjadi? Kemungkinan saja belum membuktikan bahwa sebuah cerita pernah terjadi. Kita tidak membenarkan setiap cerita luar biasa hanya karena Allah berkuasa mewujudkannya. Kepastian tentang peristiwa memerlukan keterangan yang dapat dipercaya.
Isra kita terima karena diterangkan dalam Al-Qur’an dan dijelaskan melalui riwayat Nabi yang sahih. Dasar penerimaannya ialah wahyu. Dalam penjelasan yang diikuti di sini, Isra berlangsung dengan jasad dan ruh Nabi dalam keadaan sadar. Kita membenarkan peristiwanya tanpa memaksakan penjelasan teknologi, ukuran kecepatan, atau teori yang tidak dinyatakan dalil.
Isra dan Mikraj dalam urutan pelajaran
Isra dan Mikraj sering disebut bersama, tetapi keduanya perlu dibedakan. Isra ialah perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjid al-Aqsha. Mikraj ialah kenaikan ke langit yang dijelaskan pada pelajaran berikutnya. Membedakan dua istilah membantu kita mengikuti urutan nazam dan tidak menggabungkan semua keterangan menjadi satu pengertian yang kabur.
Pada bab ini, pegang keterangan yang jelas: perjalanan malam, dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsha, sebelum hijrah. Bait tidak menetapkan tanggal secara terperinci. Tanggal dan sejumlah rincian sejarah memiliki pembahasan tersendiri. Kita dapat memperluas pengetahuan bersama guru sambil membedakan pokok peristiwa dari rincian yang memerlukan pemeriksaan.
Buah iman dan ketelitian membaca
Mempelajari Isra menumbuhkan penghormatan kepada Rasulullah dan keyakinan terhadap kuasa Allah. Kita belajar bahwa pengalaman sehari-hari bukan batas bagi segala yang Allah kuasakan. Kita juga belajar menjaga ketelitian: membenarkan keterangan wahyu dan tidak menambahkan kepastian atas cerita yang belum diperiksa.
Sikap ini dapat dibawa ke kegiatan membaca. Bila menemukan cerita Isra yang sangat terperinci, tanyakan sumbernya dan pisahkan bagian yang ditegaskan Al-Qur’an dari tambahan penulis. Ketelitian tidak mengurangi cinta kepada Nabi. Justru dengan menyampaikan keterangan yang benar, kita menjaga penghormatan kepada beliau dan membiasakan diri bertanggung jawab atas pengetahuan yang kita sampaikan.
Dalil yang dipelajari
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Terjemahan makna
Mahasuci Dia yang memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjid al-Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami memperlihatkan kepadanya sebagian tanda kebesaran Kami. Sungguh, Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Al-Isra’ [17]: 1.
Ayat ini menyebut Allah yang memperjalankan, hamba yang menerima karunia, waktu malam, tempat awal, tujuan, dan maksud memperlihatkan tanda kebesaran-Nya.
Penerapan dalam kehidupan
Seorang santri berkata, ‘Perjalanan itu tidak biasa kita lakukan, jadi mustahil terjadi.’ Temannya membedakan kebiasaan manusia dari kuasa Allah. Ia kemudian menjelaskan bahwa Isra bukan diterima hanya karena mungkin, melainkan karena diterangkan dalam wahyu.
Rangkuman
Isra ialah perjalanan malam Nabi dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsha di Al-Quds.
Peristiwa itu terjadi sebelum hijrah dan merupakan karunia Allah kepada hamba-Nya.
Kejadian di luar kebiasaan tidak otomatis mustahil menurut akal.
Kita menerima Isra berdasarkan wahyu, bukan berdasarkan dugaan atau cerita tambahan.
Isra berbeda dari Mikraj yang dibahas pada pelajaran berikutnya.
Hafalan: Bait 46 dan pengertian Isra: perjalanan malam, Masjidil Haram menuju Masjid al-Aqsha, sebelum hijrah. QS. Al-Isra’ [17]: 1 dapat dihafalkan bertahap sesuai arahan guru.
Latihan 5 soal
Lengkapi: Isra ialah perjalanan Nabi pada .... dari .... menuju .... Peristiwa ini terjadi sebelum ....
Lihat pedoman jawaban
Pada malam hari, dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjid al-Aqsha di Al-Quds, sebelum hijrah ke Madinah.
Manakah pernyataan yang tepat membedakan Isra dan Mikraj?
a. Isra adalah kenaikan ke langit, sedangkan Mikraj adalah hijrah ke Madinah.
b. Isra dan Mikraj sama-sama berarti perjalanan dari Makkah ke Madinah.
c. Isra adalah perjalanan menuju Masjid al-Aqsha, sedangkan Mikraj adalah kenaikan ke langit.
Lihat pedoman jawaban
Pilihan ketiga: Isra adalah perjalanan dari Masjidil Haram menuju Masjid al-Aqsha, sedangkan Mikraj adalah kenaikan ke langit.
Tentukan benar atau salah, lalu perbaiki bila salah: “Setiap kejadian yang melampaui kebiasaan manusia pasti mustahil menurut akal.”
Lihat pedoman jawaban
Salah. Kejadian di luar kebiasaan tidak otomatis mengandung pertentangan. Mustahil aqli berbeda dari kejadian yang tidak biasa terjadi.
Apakah kemungkinan suatu cerita terjadi sudah cukup untuk membuktikan bahwa cerita itu benar-benar terjadi? Hubungkan jawabanmu dengan Isra.
Lihat pedoman jawaban
Tidak. Kepastian kejadian memerlukan keterangan yang dapat dipercaya. Isra kita benarkan karena diterangkan dalam Al-Qur’an dan riwayat sahih, bukan hanya karena mungkin.
Sebuah bacaan menambahkan tanggal Isra yang sangat terperinci tanpa sumber. Seorang santri lalu berkata bahwa tanggal itu sudah ditetapkan bait 46. Apa yang perlu diperbaiki?
Lihat pedoman jawaban
Bait 46 hanya menyebut bahwa Isra terjadi sebelum hijrah, bukan tanggal secara terperinci. Santri perlu memeriksa sumber keterangan tambahan dan membedakan pokok peristiwa dari rincian sejarah.