Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Aqidatul Awam · Belajar
Kembali ke koleksi belajar
KELAS 1 · BAHASA INDONESIA

Syarah Aqidatul Awam — Kelas 1

Pondok Pesantren Ibadurrahman Temas

29 pelajaran57 bait148 soal latihan4 evaluasiNaskah Versi 4 · Edisi santri · A4
عَقِيدَةُ الْعَوَامِّ
PELAJARAN 26 DARI 29

Membenarkan Rasul dan meneladani Ash Shiddiq

Matan dan makna

٤٩. وَبَلَّغَ الْأُمَّةَ بِالْإِسْرَاءِ ۞ وَفَرْضِ خَمْسَةٍ بِلَا امْتِرَاءِ

Terjemahan makna

Beliau menyampaikan kepada umat tentang Isra dan kewajiban lima salat tanpa keraguan.

٥٠. قَدْ فَازَ صِدِّيقٌ بِتَصْدِيقٍ لَهُ ۞ وَبِالْعُرُوجِ الصِّدْقُ وَافَى أَهْلَهُ

Terjemahan makna

Ash-Shiddiq memperoleh keberuntungan dengan membenarkan beliau; kebenaran berita Mikraj pun sampai kepada orang yang layak menerimanya.

Kosakata pilihan

Kosakata ArabMakna
بَلَّغَmenyampaikan risalah
الْأُمَّةَumat yang menerima penyampaian Nabi
فَرْضِkewajiban
بِلَا امْتِرَاءِtanpa keraguan
صِدِّيقٌAsh-Shiddiq, sebutan Abu Bakar dalam bait ini
بِتَصْدِيقٍdengan membenarkan berita Rasul

Risalah disampaikan kepada umat

Sesudah menerima perintah, Rasulullah ﷺ menyampaikan berita Isra dan kewajiban salat kepada umat. Bait ini mengingatkan kita pada sifat tabligh: para rasul menyampaikan apa yang diperintahkan Allah untuk disampaikan. Mereka tidak menyembunyikan wahyu yang wajib diterima umat demi kenyamanan diri atau karena khawatir tidak disukai orang.

Berita Rasul tidak hanya untuk dikagumi. Perintah salat menuntut penerimaan dan pelaksanaan. Santri belajar bahwa akidah dan ibadah saling berhubungan: keyakinan kepada Rasul membuat kita menerima ajarannya, lalu berusaha melaksanakannya sesuai bimbingan beliau. Jika belum memahami tata caranya, jalan yang benar ialah belajar, bukan menolak kewajibannya.

Siapa Ash Shiddiq

Sebutan Ash-Shiddiq pada bait ini menunjuk Sayyidina Abu Bakar, sahabat Nabi yang terkenal dengan keteguhannya membenarkan Rasulullah. Nazam memuji pembenaran beliau terhadap berita Nabi. Pembenaran tersebut berlandaskan kepercayaan kepada kerasulan dan kejujuran Rasul, bukan sekadar keinginan menerima kisah yang menakjubkan.

Kisah pembenaran Abu Bakar terhadap Isra masyhur dalam sirah. Kita mengambil pelajaran tentang keteguhan beliau. Adapun percakapan tertentu yang dinisbatkan kepada beliau atau Nabi perlu dibaca bersama sumber riwayatnya.

Meneladani seorang sahabat berarti mempelajari keutamaannya kemudian mengambil sikap baik yang dapat kita lakukan. Santri tidak perlu mengaku sudah memiliki keteguhan seperti Abu Bakar. Ia dapat mulai dengan jujur ketika menerangkan pelajaran, melaksanakan kewajiban, dan tetap belajar saat menemukan pertanyaan. Pujian terhadap sahabat mengajak kita bertumbuh dalam kebaikan, bukan membanggakan diri karena telah mengetahui sebuah kisah.

Mengapa Rasul dibenarkan

Kita menerima berita yang benar-benar berasal dari Rasul karena beliau adalah utusan Allah yang benar dan terpercaya. Kemampuan akal kita tidak selalu mencapai rincian perkara gaib. Sesuatu yang tidak biasa terjadi juga tidak langsung menjadi mustahil menurut akal. Allah berkuasa memuliakan Nabi dengan mukjizat.

Namun dasar tersebut tidak berarti kita menerima semua pesan yang diberi judul “hadis Nabi”. Ada dua pertanyaan yang berbeda: apakah Rasul benar, dan apakah suatu ucapan terbukti berasal dari Rasul? Keyakinan terhadap pertanyaan pertama tidak menghapus keharusan memeriksa pertanyaan kedua. Meneliti sumber riwayat merupakan cara menjaga ajaran beliau agar tidak bercampur dengan berita yang keliru.

Ketelitian ketika membawa berita agama

Santri yang membaca cerita agama dapat mencatat sumbernya lalu meminta penjelasan guru. Jika hanya ada tulisan “kata Nabi” tanpa keterangan, ia tidak buru-buru menyebarkannya. Ia juga tidak langsung menghina orang yang mengirimnya. Tanggapan yang baik menggabungkan kehati-hatian terhadap berita dan kesantunan terhadap orang.

Ketelitian berlaku pula ketika menyampaikan pelajaran sendiri. Katakan “ayat Al-Qur’an” untuk ayat, “sabda Nabi” untuk hadis yang telah diketahui, dan “penjelasan guru” untuk uraian pembelajaran. Ketiganya dapat memiliki hubungan, tetapi bukan satu jenis perkataan. Kebiasaan menyebut sumber dengan benar melatih amanah ilmu sejak dini.

Satu berita mungkin berisi ayat yang benar, penjelasan yang baik, lalu tambahan cerita yang sumbernya belum diketahui. Bagian yang telah jelas tidak membuat seluruh tambahan otomatis benar. Santri belajar memeriksa bagian-bagiannya dengan bantuan guru. Jika sudah telanjur menyampaikan keterangan yang salah, ia memperbaikinya kepada pendengar dengan redaksi yang jelas dan tetap menjaga kesantunan.

Pembenaran yang tampak dalam amal

Menerima kewajiban salat hendaknya menghasilkan perhatian pada waktu dan pelaksanaannya. Seseorang tidak cukup berkata bahwa berita Rasul benar, lalu sengaja meremehkan perintahnya. Santri yang lalai berusaha memperbaiki diri dan memohon ampunan, sambil terus belajar. Kita tidak memakai satu kekurangan amal sebagai alasan untuk menebak isi hati semua orang.

Bertanya untuk memahami pelajaran juga perlu dibedakan dari sengaja mendustakan Rasul. Seorang pemula mungkin belum mengerti arti mukjizat atau cara membaca riwayat. Guru membantunya dengan penjelasan. Teman tidak ditugasi menghakimi keimanannya. Dengan adab ini, keteguhan menerima risalah berjalan bersama keberanian bertanya dan tanggung jawab beramal.

Pada akhir pelajaran, setiap santri dapat memilih satu kewajiban yang perlu lebih dijaga. Ia membuat langkah sederhana yang dapat dilaksanakan dan meminta bimbingan apabila diperlukan. Dengan demikian, pembenaran terhadap risalah mempunyai pengaruh pada kebiasaan sehari-hari.

Dalil yang dipelajari

يَا أَيُّهَا الرَّسُولُ بَلِّغْ مَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ …

Terjemahan makna

Wahai Rasul, sampaikanlah apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu …

QS. Al-Ma’idah [5]: 67, bagian awal ayat.

Sapaan kepada Rasul disertakan agar penerima perintah jelas. Tabligh berarti Rasul menyampaikan risalah yang Allah perintahkan untuk disampaikan.

… إِنَّ الصَّلَاةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ كِتَابًا مَوْقُوتًا

Terjemahan makna

Sungguh, salat merupakan kewajiban yang ditetapkan waktunya atas orang-orang beriman.

QS. An-Nisa’ [4]: 103, petikan.

Pembenaran terhadap perintah salat diwujudkan dengan menjaga kewajiban itu pada waktunya.

Penerapan dalam kehidupan

Zaid menerima sebuah pesan panjang yang diawali “Rasulullah bersabda”. Ia menyimpan pertanyaan tentang sumbernya dan bertanya kepada guru sebelum meneruskan pesan tersebut. Pada waktu yang sama, ia tetap mempelajari hadis yang sumbernya telah jelas. Ia menjaga berita agama karena mencintai Rasulullah.

Rangkuman

Rasul menyampaikan risalah yang diperintahkan Allah untuk disampaikan.

Ash-Shiddiq dalam bait ini menunjuk Abu Bakar dan keteguhannya membenarkan Rasul.

Menerima berita Rasul tidak berarti membenarkan semua cerita yang mengatasnamakan beliau.

Pembenaran risalah diikuti ketelitian sumber, ketaatan, dan usaha memperbaiki diri.

Hafalan: Hafalkan bait 49–50. Pahami hubungan sifat tabligh, pembenaran risalah, dan tanggung jawab beramal.

Latihan 5 soal

  1. Lengkapi kalimat berikut: Penyampaian risalah berhubungan dengan sifat …; sebutan Ash-Shiddiq pada bait ini menunjuk ….

    Lihat pedoman jawaban

    Tabligh; Abu Bakar.

  2. Mengapa keteguhan Abu Bakar bukan berarti santri boleh menerima semua cerita agama tanpa memeriksa sumber?

    Lihat pedoman jawaban

    Abu Bakar membenarkan Rasul yang benar. Suatu cerita yang mengatasnamakan Rasul masih perlu diperiksa apakah benar berasal dari beliau.

  3. Urutkan langkah ketika menerima cerita yang disebut sebagai hadis.
    (a) Menyampaikan cerita setelah sumbernya jelas.
    (b) Mencatat sumber yang disebutkan pengirim.
    (c) Meminta penjelasan guru tentang sumber tersebut.

    Lihat pedoman jawaban

    (b) → (c) → (a). Jika sumbernya belum jelas, jangan melanjutkan ke langkah penyampaian. Ketelitian dijaga bersama kesantunan.

  4. Nilai pernyataan ini dan berikan alasannya: “Jika bagian awal sebuah pesan memuat ayat yang benar, seluruh tambahan ceritanya pasti benar.”

    Lihat pedoman jawaban

    Salah. Bagian yang sudah jelas tidak membuat tambahan cerita otomatis benar. Sumber tambahan itu tetap perlu diperiksa.

  5. Seorang pemula bertanya tentang arti mukjizat. Temannya menganggap pertanyaan itu membuktikan ia mendustakan Rasul. Bagaimana seharusnya menanggapi keadaan ini?

    Lihat pedoman jawaban

    Bertanya untuk memahami perlu dibedakan dari sengaja mendustakan Rasul. Pemula dibantu dengan penjelasan dan diarahkan kepada guru. Temannya tidak menebak atau menghakimi keimanannya dari pertanyaan belajar itu.

Catat bacaanmu

Syarah Aqidatul Awam — Kelas 1 · Pelajaran 26 · Membenarkan Rasul dan meneladani Ash Shiddiq

Tersimpan di perangkat ini. Masuk agar progres dapat dibuka di perangkat lain.
Masuk untuk sinkronisasi

BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Syarah Aqidatul Awam — Kelas 1 · Pelajaran 26 · Membenarkan Rasul dan meneladani Ash ShiddiqVersi 4

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan