Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Aqidatul Awam · Belajar
Kembali ke koleksi belajar
KELAS 1 · BAHASA INDONESIA

Syarah Aqidatul Awam — Kelas 1

Pondok Pesantren Ibadurrahman Temas

29 pelajaran57 bait148 soal latihan4 evaluasiNaskah Versi 4 · Edisi santri · A4
عَقِيدَةُ الْعَوَامِّ
PELAJARAN 3 DARI 29

Mengenal akidah mukallaf dan sifat dua puluh

Matan dan makna

٥. وَبَعْدُ فَاعْلَمْ بِوُجُوبِ الْمَعْرِفَهْ ۞ مِنْ وَاجِبٍ لِلّٰهِ عِشْرِينَ صِفَهْ

Terjemahan makna

Selanjutnya, ketahuilah kewajiban mengenal dua puluh sifat yang wajib bagi Allah.

Kosakata pilihan

Kosakata ArabMakna
فَاعْلَمْMaka ketahuilah
بِوُجُوبِ الْمَعْرِفَهْKewajiban mengenal Allah
وَاجِبٍYang pasti bagi Allah dan tidak menerima ketiadaan
عِشْرِينَDua puluh
صِفَهْSifat
الْمُكَلَّفُOrang balig dan berakal yang memikul tanggung jawab syariat

Keyakinan yang dipelajari dengan pengertian

Akidah ialah keyakinan yang dipegang dalam hati. Akidah Islam membimbing kita mengenal Allah, menerima para utusan-Nya, dan mempercayai perkara yang diajarkan melalui wahyu. Dasar besarnya telah dikenalkan melalui enam rukun iman. Dalam bait kelima, pengarang mulai menerangkan sejumlah sifat yang wajib bagi Allah. Susunan ini menolong santri mengenal kesempurnaan Allah dengan istilah yang tertib dan mudah diulang.

Mengenal Allah berarti mengetahui keberadaan serta kesempurnaan-Nya sebagaimana yang layak bagi-Nya. Kita memperhatikan tanda-tanda pada alam, mempelajari wahyu, dan menggunakan akal dengan benar. Pengetahuan itu tidak memerlukan gambar tentang bentuk Allah. Kita dapat mengetahui bahwa Pencipta memiliki kekuasaan tanpa membayangkan-Nya sebagai manusia yang sangat besar atau benda yang sangat kuat. Pembahasan akidah mengarahkan pengertian, bukan mengajak menggambar zat Allah.

Pada tingkat ini, mukallaf diperkenalkan sebagai orang yang telah balig dan berakal serta memikul tanggung jawab syariat. Balig menandai masuknya masa tanggung jawab yang berbeda dari masa sebelum balig. Santri yang belum balig tetap perlu belajar, berlatih beribadah, dan mengenal kebaikan. Belajar lebih awal membantu kesiapan menjalankan kewajiban. Keadaan khusus yang memengaruhi tanggung jawab seseorang diterangkan oleh guru sesuai kebutuhan dan pembahasan fikih.

Tiga hukum akal dan perbedaan konteks kata

Wajib menurut akal ialah perkara yang tidak menerima ketiadaan menurut hakikatnya. Dalam pembahasan ketuhanan, keberadaan Allah termasuk wajib. Mustahil menurut akal ialah perkara yang tidak menerima keberadaan, seperti Allah membutuhkan pencipta. Jaiz menurut akal ialah perkara yang dapat ada atau tidak ada, seperti sebuah pohon tertentu tumbuh di halaman. Ketiga istilah ini menata apa yang pasti, tidak mungkin, dan mungkin dalam pembahasan akidah.

Kata wajib juga dipakai dalam fikih. Salat lima waktu wajib berarti Allah memerintahkannya dan seorang mukallaf berkewajiban menunaikannya. Allah wajib ada berarti ketiadaan Allah mustahil, bukan berarti ada pihak yang memerintah Allah untuk ada. Dengan memahami konteks, kita tidak menukar dua pengertian itu. Demikian pula, jaiz menurut akal menunjukkan kemungkinan, sedangkan boleh menurut syariat menunjukkan hukum suatu perbuatan.

Perhatikan contoh dusta. Seseorang dapat memilih berkata dusta, sehingga peristiwa itu mungkin terjadi. Namun kemungkinan terjadinya dusta tidak membuatnya dibolehkan oleh agama. Sebaliknya, sesuatu yang belum pernah kita lihat juga belum tentu mustahil. Kita perlu bertanya: apakah ada pertentangan dalam pengertiannya, atau hanya belum kita saksikan? Latihan seperti ini membantu santri menggunakan istilah dengan cermat sebelum mempelajari sifat-sifat Allah satu demi satu.

Mengapa belajar sifat dua puluh

Sifat dua puluh merupakan susunan pengajaran yang dikenal dalam pembelajaran akidah Asyari. Melaluinya, santri mempelajari sejumlah pokok kesempurnaan Allah dan memahami kekurangan yang mustahil bagi-Nya. Bilangan dua puluh menunjuk susunan yang sedang dipelajari, bukan batas seluruh kesempurnaan Allah. Al-Quran dan hadis mengenalkan banyak nama serta sifat Allah. Pembahasan yang lebih luas akan dipelajari secara bertahap setelah pengertian dasarnya kokoh.

Menghafal nama sifat membantu ingatan, sedangkan memahami makna membantu keyakinan. Santri yang mengucapkan wujud perlu memahami bahwa Allah benar-benar ada. Santri yang mengucapkan ilmu perlu memahami bahwa Allah mengetahui segala sesuatu. Hafalan yang belum dipahami hendaknya dilengkapi dengan penjelasan, contoh, dan pertanyaan. Orang yang belum hafal urutan istilah Arab tidak dengan sendirinya boleh dinilai tidak beriman. Pelajaran kelas diarahkan untuk membimbing pemahaman. Jika lupa suatu istilah, buka kembali pelajarannya, temukan maknanya, lalu jelaskan tanpa menyalin kalimat. Cara ini melatih ingatan sekaligus pengertian.

Kita akan mempelajari sifat-sifat itu dalam beberapa pelajaran. Setiap kali selesai, usahakan dapat menjawab tiga pertanyaan: apa maknanya, kekurangan apa yang ditolak, dan bagaimana keyakinan itu membimbing perilaku? Misalnya, keyakinan bahwa Allah Maha Mengetahui menumbuhkan kejujuran ketika tidak ada manusia yang mengawasi. Dengan cara ini, istilah tidak berhenti sebagai daftar. Pengetahuan tentang Allah menjadi dasar ibadah, rasa tanggung jawab, dan ketenangan dalam menjalani kehidupan.

Dalil yang dipelajari

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ …

Terjemahan makna

Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah …

QS. Muhammad [47]: 19, bagian awal ayat.

Perintah untuk mengetahui keesaan Allah mengarahkan iman agar disertai pengertian.

… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Terjemahan makna

… Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.

QS. Asy-Syura [42]: 11, bagian akhir ayat.

Petikan ini merupakan satu pernyataan yang menetapkan kesempurnaan Allah sekaligus menolak keserupaan-Nya dengan makhluk.

Penerapan dalam kehidupan

Pada satu kertas tertulis Allah wajib ada dan salat wajib dikerjakan. Salim menjelaskan bahwa kalimat pertama membicarakan kemustahilan ketiadaan Allah, sedangkan kalimat kedua membicarakan perintah agama kepada manusia. Ia kemudian menambahkan: dusta mungkin terjadi, tetapi dilarang. Salim memahami istilah melalui konteksnya.

Rangkuman

Akidah dipelajari untuk mengokohkan keyakinan dengan pengertian yang benar.

Mukallaf diperkenalkan sebagai orang yang telah balig dan berakal; santri sebelum balig tetap belajar dan dibimbing.

Wajib, mustahil, dan jaiz menurut akal berarti pasti, tidak mungkin, dan mungkin menurut pembahasan masing-masing.

Kemungkinan suatu peristiwa tidak sama dengan kebolehan perbuatan menurut syariat.

Sifat dua puluh adalah susunan belajar, bukan batas seluruh kesempurnaan Allah.

Hafalan: Bait 5 serta pengertian wajib, mustahil, dan jaiz menurut akal. Berikan contoh dengan bahasa sendiri.

Latihan 6 soal

  1. Apa maksud bilangan dua puluh dalam susunan sifat yang dipelajari? Pilih jawaban yang tepat.

    a. Batas semua kesempurnaan Allah

    b. Susunan pokok sifat Allah yang dipelajari secara tertib

    c. Jumlah nabi yang harus dikenal secara terperinci

    Lihat pedoman jawaban

    Pilihan kedua. Bilangan itu menunjuk susunan pokok sifat yang dipelajari, bukan batas seluruh kesempurnaan Allah.

  2. Pasangkan hukum akal dengan contohnya.

    Kata atau pernyataanPasangan makna
    1. Wajib menurut akala. Sebuah pohon tertentu tumbuh di halaman
    2. Mustahil menurut akalb. Allah membutuhkan pencipta
    3. Jaiz menurut akalc. Allah ada
    Lihat pedoman jawaban

    Wajib menurut akal → Allah ada; mustahil menurut akal → Allah membutuhkan pencipta; jaiz menurut akal → Sebuah pohon tertentu tumbuh di halaman.

  3. Tentukan benar atau salah, lalu betulkan jika salah: Allah wajib ada berarti ada pihak yang memerintah Allah untuk ada.

    Lihat pedoman jawaban

    Salah. Allah wajib ada berarti ketiadaan-Nya mustahil. Pengertian itu berbeda dari wajib dalam fikih, yaitu kewajiban hamba menunaikan perintah Allah.

  4. Seorang santri berkata bahwa ia boleh berdusta karena dusta jaiz menurut akal. Apa yang perlu diperbaiki?

    Lihat pedoman jawaban

    Jaiz menurut akal berarti peristiwa dusta mungkin terjadi. Itu tidak menentukan hukum perbuatannya; dusta tetap dilarang oleh syariat.

  5. Apakah belajar akidah harus ditunda sampai balig? Jelaskan dengan pengertian mukallaf.

    Lihat pedoman jawaban

    Tidak. Mukallaf diperkenalkan sebagai orang balig dan berakal yang memikul tanggung jawab syariat. Santri sebelum balig tetap belajar serta dibimbing agar mengenal Allah dan siap beribadah.

  6. Urutkan langkah ketika lupa suatu istilah: 1. Jelaskan maknanya tanpa menyalin kalimat. 2. Temukan makna istilah itu. 3. Buka kembali pelajarannya.

    Lihat pedoman jawaban

    Urutan yang tepat ialah 3 → 2 → 1: buka kembali pelajaran, temukan maknanya, lalu jelaskan tanpa menyalin kalimat.

Catat bacaanmu

Syarah Aqidatul Awam — Kelas 1 · Pelajaran 3 · Mengenal akidah mukallaf dan sifat dua puluh

Tersimpan di perangkat ini. Masuk agar progres dapat dibuka di perangkat lain.
Masuk untuk sinkronisasi

BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Syarah Aqidatul Awam — Kelas 1 · Pelajaran 3 · Mengenal akidah mukallaf dan sifat dua puluhVersi 4

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan