Allah ada tanpa permulaan dan tanpa akhir
Matan dan makna
٦. فَاللّٰهُ مَوْجُودٌ قَدِيمٌ بَاقِي ۞ مُخَالِفٌ لِلْخَلْقِ بِالْإِطْلَاقِ
Terjemahan makna
Allah itu ada, tanpa permulaan, kekal, dan berbeda dari seluruh makhluk secara mutlak.
Kosakata pilihan
| Kosakata Arab | Makna |
|---|---|
| مَوْجُودٌ | Ada; Allah benar-benar ada |
| قَدِيمٌ | Ada tanpa permulaan |
| بَاقِي | Kekal tanpa akhir |
| الْعَدَمُ | Ketiadaan |
Wujud Allah ada
Wujud berarti ada. Ketika mengatakan Allah memiliki sifat wujud, kita meyakini bahwa Allah benar-benar ada, bukan sekadar nama, cerita, atau gagasan manusia. Keberadaan makhluk menjadi tanda yang mengarahkan kita kepada Penciptanya. Manusia, tumbuhan, dan banyak benda di sekitar kita mengalami permulaan serta perubahan. Mereka tidak menentukan keberadaan dirinya secara mandiri dan tidak menghasilkan diri sendiri ketika belum ada.
Ambillah satu contoh yang dekat: seorang manusia dahulu belum ada, lalu dilahirkan, tumbuh, dan membutuhkan banyak hal agar dapat hidup. Ketika belum ada, ia belum dapat melakukan sesuatu untuk menciptakan dirinya. Setelah ada pun, ia bergantung pada keadaan yang tidak seluruhnya dikuasainya. Penalaran ini mengajarkan bahwa makhluk yang bermula membutuhkan pencipta. Dalam akidah, Allah dikenalkan sebagai Pencipta yang tidak bermula dan tidak bergantung.
Contoh manusia digunakan untuk mengenali kebutuhan pada makhluk, bukan menggambarkan cara Allah menciptakan seperti pekerjaan manusia. Seorang pengrajin bekerja dengan bahan, alat, waktu, dan kemampuan yang diterimanya. Allah tidak membutuhkan semua itu untuk menciptakan. Kita juga tidak menyimpulkan bahwa sesuatu pasti tidak ada hanya karena mata belum melihatnya. Pengetahuan dapat diperoleh melalui tanda dan keterangan yang benar, selain melalui penglihatan langsung.
Qidam keberadaan Allah tidak bermula
Qidam berarti Allah ada tanpa permulaan. Allah tidak didahului oleh ketiadaan. Makna ini berbeda dari lama atau tua yang kita gunakan untuk benda. Sebuah kitab yang berumur ratusan tahun tetap pernah dibuat. Gunung yang sangat tua tetap termasuk alam ciptaan. Menambah umur suatu benda tidak mengubahnya menjadi Tuhan. Yang dipahami melalui qidam ialah tidak adanya permulaan, bukan usia yang sangat panjang.
Pertanyaan siapa yang menciptakan Allah menyamakan kedudukan Pencipta dengan makhluk yang bermula. Yang membutuhkan pencipta ialah sesuatu yang bermula atau bergantung, sedangkan Allah tidak bermula dan tidak bergantung. Karena itu, kita tidak mengatakan setiap yang ada pasti diciptakan. Pernyataan yang tepat dalam pelajaran ini ialah setiap makhluk yang bermula membutuhkan pencipta. Allah adalah Pencipta yang tidak diciptakan, sehingga pertanyaan tentang pencipta-Nya tidak sesuai dengan pengertiannya.
Kita juga tidak mengatakan Allah menciptakan diri-Nya sendiri. Menciptakan diri sendiri mengharuskan sesuatu sudah ada untuk melakukan penciptaan, padahal sedang dikatakan belum ada. Dua pengandaian itu bertentangan. Pengertian qidam menyelesaikan kekeliruan tersebut: keberadaan Allah tidak pernah dimulai, sehingga tidak memerlukan peristiwa penciptaan. Kesempurnaan-Nya juga tidak diperoleh melalui pertumbuhan. Allah tidak pernah menjalani masa sebagai makhluk yang kemudian berubah menjadi Tuhan.
Baqa dan arah ketergantungan kita
Baqa berarti keberadaan Allah tidak berakhir. Allah tidak mati, tidak hancur, dan tidak membutuhkan sesuatu untuk mempertahankan keberadaan-Nya. Manusia memerlukan makanan, minuman, dan banyak kebutuhan lainnya. Peralatan memerlukan bahan atau sumber tenaga agar dapat berfungsi. Kebutuhan itu memperlihatkan batas makhluk. Baqa Allah merupakan kesempurnaan yang melekat pada-Nya, sehingga keberadaan-Nya tidak ditopang oleh rezeki, perlindungan, atau bantuan dari pihak lain.
Surga dan kehidupan akhirat yang dikekalkan Allah tetap merupakan ciptaan. Keduanya memiliki permulaan serta bergantung kepada kehendak dan kekuasaan Allah. Oleh sebab itu, kita dapat membedakan dua pengertian: Allah kekal karena kesempurnaan-Nya, sedangkan makhluk kekal apabila Allah menghendaki dan mengekalkannya. Kekalnya makhluk tidak membuatnya sama dengan Allah. Perbedaan ini penting agar kata kekal tidak dipahami sebagai bukti bahwa dua keberadaan memiliki kedudukan yang sama.
Keyakinan kepada Allah Yang Kekal membimbing kita menggunakan kehidupan dengan baik. Harta, kesehatan, kemampuan, dan jabatan dapat berubah, sehingga semuanya dijaga sebagai amanah. Kita tetap menyayangi keluarga, merawat kesehatan, dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Namun hati tidak menjadikan makhluk sebagai sandaran mutlak. Ketika menghadapi kehilangan, kita boleh bersedih dan mencari bantuan, sambil mengingat bahwa Allah selalu ada dan kepada-Nya kita memohon kekuatan.
Dalil yang dipelajari
أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ
Terjemahan makna
Apakah mereka tercipta tanpa sesuatu yang menciptakan, atau merekalah yang menciptakan diri mereka sendiri?
QS. At-Tur [52]: 35.
Ayat mengajak manusia memikirkan keberadaannya dan menolak anggapan bahwa ia menciptakan dirinya sendiri.
هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ
Terjemahan makna
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
QS. Al-Hadid [57]: 3.
Allah ada tanpa permulaan dan tanpa akhir. Nama Yang Zahir dan Yang Batin dibaca bersama tanzih; nama itu tidak menjadikan Allah tubuh yang mempunyai permukaan luar dan ruang dalam.
Penerapan dalam kehidupan
Di perpustakaan, Fikri melihat sebuah kitab yang sangat tua. Ia memahami bahwa kitab itu tetap pernah dibuat dan memerlukan penjagaan. Qidam Allah tidak seperti usia kitab, dan baqa Allah tidak seperti awetnya benda karena dirawat. Contoh kitab membantu membedakan istilah, bukan menyamakan Allah dengan kitab.
Rangkuman
Wujud berarti Allah benar-benar ada; ketiadaan mustahil bagi-Nya.
Qidam berarti keberadaan Allah tidak bermula; Allah tidak diciptakan dan tidak menciptakan diri-Nya sendiri.
Baqa berarti keberadaan Allah tidak berakhir dan tidak membutuhkan penopang.
Makhluk yang dikekalkan oleh Allah tetap memiliki permulaan dan bergantung kepada-Nya.
Kita menjaga nikmat sebagai amanah dan menjadikan Allah sandaran utama.
Hafalan: Bagian bait 6 tentang maujud, qadim, dan baqi. Hafalkan makna wujud, qidam, dan baqa beserta lawannya: tiada, bermula, dan berakhir.
Latihan 5 soal
Lengkapi makna sifat pada bait keenam: مَوْجُودٌ berarti ..., قَدِيمٌ berarti ..., dan بَاقِي berarti ....
Lihat pedoman jawaban
Ada; ada tanpa permulaan; kekal tanpa akhir.
Mengapa manusia yang dahulu belum ada tidak dapat menciptakan dirinya sendiri?
Lihat pedoman jawaban
Ketika belum ada, ia belum dapat melakukan penciptaan. Mengandaikan ia menciptakan dirinya mengharuskan ia sudah ada dan belum ada pada keadaan yang sama, sehingga bertentangan.
Seorang teman menyebut gunung yang berumur sangat lama sebagai qadim seperti Allah. Jelaskan kekeliruannya.
Lihat pedoman jawaban
Umur panjang tidak berarti tanpa permulaan. Gunung tetap makhluk, sedangkan qidam Allah berarti keberadaan-Nya tidak pernah bermula.
Tentukan benar atau salah, lalu betulkan jika salah: Setiap yang ada pasti diciptakan, sehingga Allah juga membutuhkan pencipta.
Lihat pedoman jawaban
Salah. Yang bermula atau bergantung membutuhkan pencipta. Allah tidak bermula dan tidak bergantung; Allah adalah Pencipta yang tidak diciptakan.
Pasangkan pengertian dengan keterangan yang sesuai.
Kata atau pernyataan Pasangan makna 1. Qidam Allah a. Ciptaan yang memiliki permulaan dan dikekalkan Allah 2. Baqa Allah b. Keberadaan Allah tanpa permulaan 3. Kekalnya surga c. Keberadaan Allah tanpa akhir dan tanpa penopang Lihat pedoman jawaban
Qidam Allah → Keberadaan Allah tanpa permulaan; baqa Allah → Keberadaan Allah tanpa akhir dan tanpa penopang; kekalnya surga → Ciptaan yang memiliki permulaan dan dikekalkan Allah.