Allah berbeda dari seluruh makhluk
Matan dan makna
٦. فَاللّٰهُ مَوْجُودٌ قَدِيمٌ بَاقِي ۞ مُخَالِفٌ لِلْخَلْقِ بِالْإِطْلَاقِ
Terjemahan makna
Allah itu ada, tanpa permulaan, kekal, dan berbeda dari seluruh makhluk secara mutlak.
Kosakata pilihan
| Kosakata Arab | Makna |
|---|---|
| مُخَالِفٌ | Berbeda |
| لِلْخَلْقِ | Dari makhluk |
| بِالْإِطْلَاقِ | Secara mutlak |
| الْحَوَادِثُ | Segala yang bermula, yaitu makhluk |
Perbedaan Pencipta dan makhluk
Bagian akhir bait keenam menyatakan bahwa Allah berbeda dari makhluk secara mutlak. Dalam daftar sifat, pengertian ini disebut mukhalafah lil-hawadits. Hawadits berarti segala yang bermula, yaitu makhluk. Allah tidak termasuk kelompok itu. Perbedaan ini meliputi zat, sifat, dan perbuatan-Nya. Kita mengenal Allah sebagai Pencipta seluruh alam, sehingga tidak menjadikan ukuran tubuh, perubahan, dan kebutuhan makhluk sebagai ukuran untuk memahami-Nya.
Makhluk yang kita lihat memiliki keterbatasan. Tubuh manusia mengambil ruang tertentu, tumbuhan berkembang melalui tahap-tahap, dan kemampuan manusia bertambah atau berkurang. Semua itu berkaitan dengan keadaan serta kebutuhan mereka. Allah tidak memiliki tubuh, susunan anggota, ukuran, atau kebutuhan seperti itu. Kesempurnaan Allah juga tidak berarti tubuh paling besar atau tenaga paling kuat di antara makhluk. Allah berbeda dari keseluruhan jenis makhluk, bukan sekadar melebihi ukurannya.
Perhatikan perbedaan antara dua pertanyaan. Bagaimana keadaan sebuah benda dapat dijawab dengan ukuran, warna, dan letaknya. Apa yang kita yakini tentang Allah dijawab dengan keberadaan serta kesempurnaan yang diajarkan wahyu. Jika cara bertanya tentang benda diterapkan begitu saja kepada Allah, jawabannya akan salah arah. Kita menggunakan akal untuk memahami pengertian yang benar, sambil menjaga agar pembahasan tentang Allah tidak berubah menjadi gambaran benda.
Nama sifat dan hakikatnya
Dalam percakapan, kita mengatakan manusia hidup dan mengetahui. Dalam akidah, kita juga meyakini Allah Maha Hidup dan Maha Mengetahui. Penggunaan kata hidup atau mengetahui pada keduanya tidak berarti hakikatnya sama. Kehidupan manusia bermula dan dapat berakhir; pengetahuannya diperoleh melalui belajar serta dapat dilupakan. Kehidupan dan pengetahuan Allah tidak memiliki keterbatasan itu. Arti yang layak bagi Allah harus diterangkan sesuai kesempurnaan-Nya.
Kita mengetahui pula bahwa kata yang sama dapat digunakan dalam keadaan yang berbeda. Seorang santri memahami satu soal, sedangkan guru mungkin memahami penjelasannya lebih luas. Bahkan pengetahuan sesama manusia sudah berbeda dalam keluasan dan caranya. Namun contoh ini hanya membantu mengenali bahwa persamaan kata belum menentukan seluruh hakikat. Perbedaan Allah dan manusia jauh lebih mendasar: Allah Pencipta yang tidak bergantung, sedangkan manusia makhluk yang belajar dan terbatas.
Al-Quran menyatakan bahwa tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Allah, lalu menyebut bahwa Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat. Susunan ini mengajarkan dua hal bersama: kita menetapkan kesempurnaan Allah dan menjaga-Nya dari keserupaan dengan makhluk. Kita tidak perlu membayangkan alat tubuh untuk memahami bahwa Allah mengetahui keadaan hamba-Nya. Rincian makna mendengar dan melihat akan dibahas tersendiri; prinsip perbedaan Pencipta dan makhluk berlaku pada seluruh pelajaran.
Belajar melalui tanda dengan menjaga batas contoh
Alam membantu kita mengenali tanda kekuasaan Allah. Pertumbuhan tumbuhan, keteraturan tubuh, dan kebutuhan manusia dapat menjadi bahan renungan. Yang diperhatikan ialah bahwa makhluk memiliki keadaan tertentu serta memerlukan Pencipta. Kita tidak menarik kesimpulan bahwa Allah memiliki tubuh seperti manusia atau berubah seperti tumbuhan. Contoh memiliki batas: ia membantu memahami satu pengertian, tetapi tidak memindahkan seluruh keadaan benda yang dicontohkan kepada Allah.
Karena itu, sebelum menerima suatu perumpamaan, tanyakan apa yang hendak dijelaskan. Contoh sebuah kitab yang pernah dibuat dapat menerangkan bahwa benda bermula. Contoh itu tidak menerangkan bahwa Allah memakai kertas, mesin, atau keahlian yang diperoleh melalui latihan. Santri perlu mampu mengambil bagian yang relevan dan meninggalkan bagian yang tidak berlaku. Kebiasaan ini menolong kita ketika membaca penjelasan sederhana, mendengar ceramah, atau berdiskusi dengan teman.
Keyakinan ini juga membimbing sikap beragama. Kita menyembah Allah, memohon pertolongan-Nya, dan mengikuti petunjuk-Nya tanpa menganggap-Nya memerlukan pelayanan sebagaimana kebutuhan manusia. Penghormatan kepada Allah tampak dalam ibadah serta ketaatan, bukan dalam membuat gambaran tentang zat-Nya. Jika suatu pertanyaan sulit terjawab, sampaikan kepada guru dengan tenang. Tujuan belajar ialah memperoleh pengertian yang semakin benar, sehingga iman menguat dan ibadah dilakukan dengan kesadaran.
Dalil yang dipelajari
… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Terjemahan makna
… Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Asy-Syura [42]: 11, bagian akhir ayat.
Ayat menetapkan sifat kesempurnaan Allah sekaligus menolak keserupaan-Nya dengan makhluk.
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
Terjemahan makna
Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.
QS. Al-Ikhlas [112]: 4.
Tidak ada makhluk yang menjadi tandingan atau setara dengan Allah.
Penerapan dalam kehidupan
Ketika menjelaskan bahwa Allah Maha Mengetahui, Zaid mula-mula membayangkan seseorang yang membaca semua buku. Guru mengajaknya membedakan: manusia membaca agar memperoleh pengetahuan, sedangkan Allah mengetahui tanpa perlu belajar. Buku dipakai untuk memahami cara manusia belajar, bukan menggambarkan cara Allah mengetahui.
Rangkuman
Mukhalafah lil-hawadits berarti Allah berbeda dari seluruh makhluk dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya.
Allah tidak memiliki tubuh, ukuran, dan kebutuhan seperti makhluk.
Kesamaan kata tidak berarti sifat Allah dan sifat manusia memiliki hakikat yang sama.
Kita menetapkan kesempurnaan Allah sekaligus menolak keserupaan dengan makhluk.
Contoh dipakai menurut tujuan dan batasnya, bukan untuk menggambarkan zat Allah.
Hafalan: Bagian bait 6 tentang berbeda dari makhluk secara mutlak. Hafalkan makna mukhalafah lil-hawadits dan petikan QS. Asy-Syura [42]: 11.
Latihan 3 soal
Tentukan benar atau salah, lalu betulkan jika salah: Allah berbeda dari manusia karena tubuh-Nya lebih besar.
Lihat pedoman jawaban
Salah. Pernyataan itu tetap menganggap Allah memiliki tubuh dan diukur seperti makhluk. Allah berbeda dari seluruh jenis makhluk, bukan karena ukuran tubuh yang lebih besar.
Apa dua pengertian yang harus dijaga ketika membaca Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar, Maha Melihat?
Lihat pedoman jawaban
Menolak keserupaan Allah dengan makhluk dan menetapkan sifat kesempurnaan mendengar serta melihat yang layak bagi-Nya.
Contoh kitab yang dibuat dipakai untuk menjelaskan permulaan benda. Seorang santri lalu menyimpulkan bahwa Allah mencipta dengan mesin. Bagian mana yang boleh diambil dari contoh itu, dan bagian mana yang perlu dibetulkan?
Lihat pedoman jawaban
Contoh membantu memahami bahwa benda bermula. Kebutuhan bahan dan mesin pada pekerjaan manusia tidak berlaku bagi Allah, sehingga kesimpulan bahwa Allah memakai mesin perlu dibetulkan.