Allah berdiri sendiri dan Maha Esa
Matan dan makna
٧. وَقَائِمٌ غَنِيٌّ وَوَاحِدٌ وَحَيٌّ ۞ قَادِرٌ مُرِيدٌ عَالِمٌ بِكُلِّ شَيْ
Terjemahan makna
Dia berdiri sendiri, tidak membutuhkan apa pun, Esa, hidup, Mahakuasa, berkehendak, dan mengetahui segala sesuatu.
Kosakata pilihan
| Kosakata Arab | Makna |
|---|---|
| قَائِمٌ | Berdiri sendiri: tidak bergantung kepada sesuatu |
| غَنِيٌّ | Tidak membutuhkan apa pun |
| وَاحِدٌ | Esa; tanpa sekutu atau bagian-bagian |
| الْوَحْدَانِيَّةُ | Keesaan Allah dalam zat, sifat, dan perbuatan |
| الْكَسْبُ | Perolehan perbuatan oleh hamba melalui pilihan dan usahanya |
| التَّوَكُّلُ | Menyandarkan hati kepada Allah sambil berusaha dengan baik |
Allah tidak bergantung kepada sesuatu
Pada bait ketujuh, pengarang mengenalkan bahwa Allah berdiri sendiri dan Maha Esa. Berdiri sendiri merupakan terjemahan istilah qiyamuhu binafsihi. Maknanya ialah Allah tidak bergantung kepada sesuatu untuk ada atau memiliki kesempurnaan-Nya. Istilah ini tidak berarti berdiri dengan kaki, berpindah posisi, atau menopang tubuh. Kita memahami arti dalam pembahasan akidah, sebagaimana istilah wajib dalam akidah juga mempunyai konteks yang perlu diperhatikan.
Manusia membutuhkan banyak hal. Kita membutuhkan makanan, minuman, tempat beristirahat, dan bantuan ketika tidak mampu menyelesaikan pekerjaan. Tubuh dan kemampuan kita juga merupakan ciptaan. Allah tidak memerlukan pencipta, bahan, penopang, atau bantuan pihak lain. Allah tidak membutuhkan makhluk agar menjadi sempurna. Justru seluruh makhluk bergantung kepada-Nya. Perbedaan arah kebutuhan ini membantu kita memahami mengapa Allah layak menjadi tempat memohon dan bersandar.
Makanan di meja tersedia melalui banyak sebab: ada yang menanam, mengangkut, membeli, dan memasak. Orang-orang itu memiliki peran yang kita hargai. Namun semua pelaku dan bahan tersebut tetap termasuk makhluk yang membutuhkan Allah. Kita berterima kasih kepada orang yang membantu, sambil meyakini bahwa Allah mengaruniakan kehidupan, kemampuan, dan rezeki. Ketergantungan kepada Allah tidak menghapus hubungan tolong-menolong yang diperintahkan kepada manusia dalam kehidupan sehari-hari.
Allah satu dalam zat sifat dan perbuatan
Wahdaniyah berarti Allah Maha Esa. Allah tidak memiliki sekutu dan tidak tersusun dari bagian-bagian. Kita tidak membayangkan zat-Nya sebagai kumpulan benda yang disatukan. Allah juga tidak mempunyai tandingan yang memiliki kesempurnaan seperti kesempurnaan-Nya. Sifat ilmu, kekuasaan, dan kehendak Allah tidak sama dengan sifat makhluk. Dengan demikian, keesaan tidak hanya berarti satu jumlah, tetapi juga menolak sekutu, susunan bagian, dan tandingan.
Allah esa dalam perbuatan-Nya: tidak ada pencipta selain Allah. Kita membedakan penciptaan Allah dari pekerjaan makhluk. Manusia dapat menyusun meja, mengolah makanan, dan merencanakan kegiatan dengan kemampuan serta bahan yang Allah ciptakan. Perbuatan itu dinisbatkan kepada pelakunya sebagai pekerjaan yang benar-benar ia lakukan. Namun manusia tidak menjadi pencipta yang tidak bergantung atau penguasa yang menentukan seluruh kenyataan hanya dengan kehendaknya sendiri.
Sekiranya sesuatu yang dianggap Tuhan masih membutuhkan pihak lain, sesuatu itu tidak memiliki kemandirian yang telah kita pelajari. Sekiranya kekuasaannya dapat dikalahkan, ia memiliki kelemahan. Karena itu, sekutu yang membatasi kekuasaan Allah bertentangan dengan pengertian ketuhanan yang sempurna. Pada tahap ini, peganglah bahwa Pencipta seluruh alam satu, sempurna, dan tidak bergantung. Pembuktian keesaan yang lebih terperinci akan dipelajari setelah pengertian dasar ini dikuasai.
Ikhtiar tanggung jawab dan tawakal
Keesaan Allah tidak menghapus pilihan dan tanggung jawab manusia. Kita dapat membedakan mengangkat tangan dengan sengaja dari tangan yang bergetar tanpa dikehendaki. Pada perbuatan yang disengaja, manusia mempunyai kehendak dan usaha. Dalam pembelajaran Asyari, perolehan perbuatan oleh hamba disebut kasb. Allah menciptakan hamba, kemampuan, dan perbuatannya; hamba menjalankan pilihan serta usahanya dan bertanggung jawab atasnya. Allah tidak memerintahkan kita menggunakan keyakinan kepada-Nya untuk mengabaikan kewajiban.
Karena itu, santri perlu belajar, menjaga amanah, dan menjauhi perbuatan yang dilarang. Ketika sakit, ia boleh mencari pengobatan yang dibenarkan; ketika kekurangan ilmu, ia bertanya; ketika melakukan kesalahan, ia memperbaikinya. Mengambil sebab merupakan bagian dari usaha yang diperintahkan. Hasilnya tetap bergantung kepada Allah. Kita tidak menganggap usaha pasti berhasil hanya karena direncanakan, tetapi juga tidak meninggalkan usaha dengan alasan Allah adalah satu-satunya Pencipta.
Tawakal ialah menyandarkan hati kepada Allah sambil menjalankan usaha yang baik. Seorang santri menyiapkan ujian, kemudian memohon hasil yang bermanfaat. Jika berhasil, ia bersyukur dan menghargai bantuan orang lain. Jika belum berhasil, ia menilai kekurangan usahanya dan mencoba lagi. Keyakinan kepada Allah Yang Mandiri dan Maha Esa menumbuhkan kerendahan hati sekaligus kesungguhan: kemampuan adalah karunia, pekerjaan adalah amanah, dan hasil tidak sepenuhnya berada dalam kuasa manusia.
Dalil yang dipelajari
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ اللَّهُ الصَّمَدُ
Terjemahan makna
Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah tempat bergantung segala sesuatu.
QS. Al-Ikhlas [112]: 1–2.
Keesaan Allah berjalan bersama kesempurnaan-Nya sebagai tempat seluruh makhluk bergantung.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ
Terjemahan makna
Wahai manusia, kalianlah yang membutuhkan Allah; dan Allah, Dialah Yang Mahakaya, Maha Terpuji.
QS. Fatir [35]: 15.
Makhluk membutuhkan Allah, sedangkan Allah tidak membutuhkan makhluk untuk keberadaan dan kesempurnaan-Nya.
Penerapan dalam kehidupan
Umar hendak mengulang hafalan, tetapi merasa cukup berdoa tanpa membuka buku. Temannya menjelaskan bahwa berdoa dan mengulang dapat dilakukan bersama. Umar kemudian berusaha dengan tekun dan memohon kemudahan kepada Allah. Ia memahami bahwa Allah menciptakan kemampuan, sementara kemampuan itu digunakan untuk menjalankan tanggung jawab.
Rangkuman
Qiyamuhu binafsihi berarti Allah tidak bergantung kepada apa pun, bukan berdiri secara jasmani.
Allah Maha Esa dalam zat, sifat, dan perbuatan-Nya; tidak ada sekutu atau pencipta selain-Nya.
Pekerjaan manusia dilakukan dengan kemampuan dan bahan yang Allah ciptakan.
Manusia memiliki pilihan serta usaha dan bertanggung jawab atas perbuatannya.
Tawakal menyatukan ketergantungan hati kepada Allah dan usaha yang baik.
Hafalan: Bagian bait 7 tentang qaim dan wahid. Hafalkan makna qiyamuhu binafsihi dan wahdaniyah, lalu jelaskan hubungan usaha dan tawakal.
Latihan 6 soal
Lengkapi: قِيَامُهُ بِنَفْسِهِ berarti Allah ..., sedangkan الْوَحْدَانِيَّةُ berarti ....
Lihat pedoman jawaban
Tidak bergantung kepada apa pun untuk keberadaan dan kesempurnaan-Nya; keesaan Allah dalam zat, sifat, dan perbuatan.
Pasangkan cakupan keesaan Allah dengan keterangannya.
Kata atau pernyataan Pasangan makna 1. Esa dalam zat a. Tidak ada pencipta selain Allah 2. Esa dalam sifat b. Tidak tersusun dari bagian-bagian 3. Esa dalam perbuatan c. Tidak mempunyai tandingan yang memiliki kesempurnaan seperti kesempurnaan-Nya Lihat pedoman jawaban
Esa dalam zat → Tidak tersusun dari bagian-bagian; esa dalam sifat → Tidak mempunyai tandingan yang memiliki kesempurnaan seperti kesempurnaan-Nya; esa dalam perbuatan → Tidak ada pencipta selain Allah.
Tentukan benar atau salah, lalu betulkan jika salah: Karena seluruh rezeki bergantung kepada Allah, kita tidak perlu berterima kasih kepada orang yang menyiapkan makanan.
Lihat pedoman jawaban
Salah. Kita tetap menghargai peran dan bantuan manusia sambil meyakini bahwa Allah mengaruniakan kehidupan, kemampuan, dan rezeki kepada mereka.
Bagaimana kita menisbatkan pembuatan meja kepada tukang sambil meyakini tidak ada pencipta selain Allah?
Lihat pedoman jawaban
Tukang benar-benar melakukan pekerjaan dengan pilihan, kemampuan, bahan, dan alat. Semua itu ciptaan Allah; pekerjaan tukang tidak menjadikannya pencipta yang tidak bergantung.
Seorang santri meninggalkan belajar dengan alasan Allah menciptakan semua perbuatan. Bagaimana ia seharusnya memahami pilihan dan tanggung jawabnya?
Lihat pedoman jawaban
Manusia memiliki kehendak serta usaha pada perbuatan yang disengaja dan berkewajiban menaati perintah Allah. Kemampuan yang diciptakan Allah dipakai menjalankan amanah; keyakinan kepada Allah tidak membenarkan meninggalkan belajar.
Manakah contoh perbuatan yang disengaja dan melibatkan pilihan hamba?
a. Menjaga titipan dengan sadar karena ingin menunaikan amanah
b. Tangan bergetar tanpa dikehendaki
c. Gerakan tubuh yang terjadi tanpa pilihan saat sakit
Lihat pedoman jawaban
Pilihan pertama. Menjaga titipan dengan sadar merupakan perbuatan yang dipilih dan diusahakan, berbeda dari gerak tubuh tanpa kehendak.