Allah Maha Hidup dan Maha Mengetahui
Matan dan makna
٧. وَقَائِمٌ غَنِيٌّ وَوَاحِدٌ وَحَيٌّ ۞ قَادِرٌ مُرِيدٌ عَالِمٌ بِكُلِّ شَيْ
Terjemahan makna
Dia berdiri sendiri, tidak membutuhkan apa pun, Esa, hidup, Mahakuasa, berkehendak, dan mengetahui segala sesuatu.
Kosakata pilihan
| Kosakata Arab | Makna |
|---|---|
| حَيٌّ | Maha Hidup |
| عَالِمٌ | Maha Mengetahui |
| بِكُلِّ شَيْ | Tentang segala sesuatu |
| الْحَيَاةُ | Kehidupan; kehidupan Allah sempurna tanpa kebutuhan jasmani |
| الْعِلْمُ | Pengetahuan; ilmu Allah meliputi segala sesuatu |
Hayat kehidupan yang sempurna
Pada bait ketujuh, pengarang menyebut Allah hidup. Sifat ini dinamakan hayat. Allah Maha Hidup dengan kehidupan yang sempurna, tanpa permulaan dan tanpa akhir. Kehidupan-Nya tidak didahului oleh keadaan mati, tidak diselingi tidur, dan tidak berakhir dengan kematian. Kita telah mempelajari bahwa Allah berbeda dari makhluk. Prinsip itu membantu memahami bahwa hayat Allah tidak sama dengan kehidupan tubuh yang tumbuh dan membutuhkan perawatan.
Kehidupan manusia berkaitan dengan tubuh, makanan, minuman, pernapasan, dan berbagai keadaan yang dapat berubah. Manusia lahir, bertambah umur, kadang sakit, dan akhirnya mati. Semua itu menunjukkan kebutuhan serta keterbatasan. Allah tidak memerlukan napas, organ tubuh, darah, atau sumber tenaga untuk hidup. Ketika mengatakan Allah Maha Hidup, kita menetapkan kesempurnaan-Nya tanpa memindahkan tanda-tanda kehidupan jasmani makhluk kepada-Nya.
Pengertian ini juga membedakan Tuhan dari benda yang tidak hidup dan tidak memiliki kekuasaan. Sebuah benda yang dibuat atau dipelihara manusia bukan tempat bergantung seluruh makhluk. Ia justru memerlukan pembuat atau penjaga. Allah Maha Hidup, mengetahui, dan berkuasa; kepada-Nya kita beribadah dan memohon. Sifat-sifat kesempurnaan itu dipelajari secara teratur agar santri semakin memahami kepada siapa ibadah dan ketergantungan hati diarahkan.
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu
Ilmu berarti mengetahui. Allah mengetahui segala sesuatu secara sempurna: yang tampak dan tersembunyi, keadaan manusia, perbuatan, niat, serta seluruh kenyataan. Tidak ada sesuatu yang terlepas dari pengetahuan-Nya. Ilmu Allah tidak bertambah karena menerima berita dan tidak berkurang karena lupa. Allah mengetahui tanpa belajar, meneliti, membaca catatan, atau meminta keterangan. Pengetahuan-Nya bukan hasil pengamatan yang baru diperoleh sesudah suatu peristiwa berlangsung.
Manusia memperoleh pengetahuan secara bertahap. Kita membaca, mendengar penjelasan, mencoba, dan mengoreksi kesalahan. Ada yang sudah diketahui, ada yang baru dipelajari, dan ada yang belum dapat dijawab. Mengetahui keterbatasan ini membantu kita rendah hati. Ketika mengucapkan Allah Maha Mengetahui, kita tidak membayangkan manusia yang hafal semua buku. Buku dan latihan merupakan jalan manusia memperoleh ilmu; Allah tidak memerlukan jalan yang digunakan oleh makhluk tersebut.
Ilmu Allah juga tidak terbatas pada waktu yang telah kita alami. Allah mengetahui apa yang telah terjadi, sedang terjadi, dan akan terjadi, tanpa menunggu peristiwa itu untuk mengetahuinya. Sifat ilmu-Nya tidak bermula, walaupun peristiwa yang diketahui memiliki waktunya masing-masing. Mengetahui suatu perbuatan tidak sama pengertiannya dengan memerintahkan perbuatan itu. Pembedaan ini akan membantu ketika kita membahas kehendak, perintah, dan tanggung jawab manusia pada pelajaran berikutnya.
Kejujuran dan ketenangan di hadapan Allah
Keyakinan bahwa Allah mengetahui keadaan kita menumbuhkan kejujuran. Santri tetap menjaga amanah ketika tidak ada manusia yang melihat. Ia mengembalikan barang yang bukan miliknya, tidak menyontek, dan mengakui kesalahan. Pengetahuan Allah meliputi yang tersembunyi, sehingga perbuatan tidak menjadi baik hanya karena berhasil disembunyikan. Akidah membimbing hati agar ukuran kebaikan tidak bergantung pada tepuk tangan atau perhatian orang lain.
Pada saat yang sama, Allah mengetahui usaha baik yang belum terlihat oleh manusia. Santri yang kesulitan menghafal tetapi terus berlatih tidak perlu menganggap usahanya hilang hanya karena hasilnya belum besar. Ia tetap memperbaiki cara belajar dan meminta bantuan. Keyakinan kepada ilmu Allah memberi dorongan untuk ikhlas, bukan alasan puas tanpa usaha. Kita berharap kebaikan dari Allah, sambil melakukan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab dengan sungguh-sungguh.
Jika melakukan kesalahan, kita bertobat, memperbaiki perbuatan, dan memenuhi hak orang yang dirugikan. Keinginan berubah tidak perlu ditunda sampai orang lain mengetahui kesalahan tersebut. Allah mengetahui keadaan hati serta kesungguhan usaha kita. Namun mengetahui bahwa Allah mengenal niat tidak membolehkan kita mengabaikan perbuatan. Niat yang baik diarahkan menjadi tindakan yang benar. Dengan demikian, iman kepada hayat dan ilmu Allah menguatkan ibadah, tanggung jawab, dan kesediaan memperbaiki diri.
Dalil yang dipelajari
اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ …
Terjemahan makna
Allah, tidak ada tuhan selain Dia, Yang Maha Hidup, terus-menerus mengurus makhluk-Nya. Dia tidak dilanda kantuk dan tidak pula tidur …
QS. Al-Baqarah [2]: 255, bagian awal ayat.
Kehidupan Allah sempurna dan tidak memiliki kelemahan seperti kantuk atau tidur.
قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي فِي كِتَابٍ لَا يَضِلُّ رَبِّي وَلَا يَنْسَى
Terjemahan makna
Dia [Musa] berkata, “Pengetahuan tentang mereka ada pada Tuhanku, dalam sebuah kitab. Tuhanku tidak keliru dan tidak pula lupa.”
QS. Taha [20]: 52.
Nabi Musa menjawab pertanyaan Firaun tentang generasi terdahulu. Jawabannya menegaskan kesempurnaan ilmu Allah yang tidak disertai kekeliruan atau kelupaan.
Penerapan dalam kehidupan
Farid menemukan uang di dekat tempat belajar. Tidak ada teman yang melihat, tetapi ia menyerahkannya untuk dicari pemiliknya. Ia meyakini Allah mengetahui perbuatannya. Pada malam hari, ia masih mengulang hafalan yang belum lancar; ia berharap kepada Allah sambil memperbaiki latihan, meskipun orang lain belum melihat hasilnya.
Rangkuman
Hayat berarti Allah Maha Hidup tanpa permulaan, tanpa akhir, dan tanpa kebutuhan jasmani.
Allah tidak tidur, tidak mati, dan tidak membutuhkan sumber tenaga untuk hidup.
Ilmu Allah meliputi segala sesuatu tanpa belajar, lupa, atau bertambah melalui berita.
Ilmu Allah tidak bermula, sedangkan peristiwa yang diketahui dapat berlangsung pada waktu tertentu.
Iman kepada ilmu Allah menumbuhkan kejujuran, keikhlasan, dan kesediaan memperbaiki diri.
Hafalan: Bait 7 pada bagian Hayat dan Ilmu. Jelaskan makna Maha Hidup dan Maha Mengetahui segala sesuatu dengan bahasamu sendiri.
Latihan 4 soal
Lengkapi istilah: sifat kehidupan Allah disebut ..., sedangkan sifat mengetahui disebut ....
Lihat pedoman jawaban
Hayat, الْحَيَاةُ; ilmu, الْعِلْمُ.
Mengapa bernapas tidak dijadikan syarat untuk mengatakan Allah Maha Hidup?
Lihat pedoman jawaban
Pernapasan merupakan kebutuhan jasmani makhluk. Hayat Allah sempurna dan tidak bergantung pada tubuh, napas, atau sumber tenaga.
Tentukan benar atau salah, lalu betulkan jika salah: Allah mengetahui peristiwa hari ini karena baru memperoleh berita ketika peristiwa itu berlangsung.
Lihat pedoman jawaban
Salah. Allah mengetahui tanpa menunggu atau memperoleh informasi baru. Ilmu Allah tidak bermula; peristiwa yang diketahui memiliki waktunya sendiri.
Seorang santri menemukan barang ketika tidak ada orang yang melihat. Santri lain sudah bersungguh-sungguh belajar tetapi hasilnya belum tampak. Bagaimana iman kepada ilmu Allah membimbing keduanya?
Lihat pedoman jawaban
Santri pertama mengembalikan atau menyerahkan barang untuk dicari pemiliknya meski tidak diawasi. Santri kedua terus memperbaiki usaha dengan ikhlas, meyakini Allah mengetahui kesungguhannya.