Allah Maha Mendengar Maha Melihat dan Berfirman
Matan dan makna
٨. سَمِيعٌ الْبَصِيرُ وَالْمُتَكَلِّمُ ۞ لَهُ صِفَاتٌ سَبْعَةٌ تَنْتَظِمُ
Terjemahan makna
Dia Maha Mendengar, Maha Melihat, dan berfirman. Bagi-Nya terdapat tujuh sifat yang terhimpun berikut ini.
٩. فَقُدْرَةٌ إِرَادَةٌ سَمْعٌ بَصَرْ ۞ حَيَاةٌ الْعِلْمُ كَلَامٌ اسْتَمَرْ
Terjemahan makna
Yaitu kuasa, kehendak, pendengaran, penglihatan, hidup, ilmu, dan kalam yang senantiasa tetap.
Kosakata pilihan
| Kosakata Arab | Makna |
|---|---|
| سَمِيعٌ | Maha Mendengar |
| الْبَصِيرُ | Maha Melihat |
| الْمُتَكَلِّمُ | Yang berfirman |
| تَنْتَظِمُ | terhimpun menjadi susunan |
| قُدْرَةٌ | sifat kuasa Allah |
| إِرَادَةٌ | sifat kehendak Allah |
| كَلَامٌ | sifat Allah berfirman |
Mendengar dan melihat dengan kesempurnaan
Ketika seseorang berbicara, kita mendengar melalui telinga. Saat membaca kitab, kita menggunakan mata dan memerlukan keadaan yang memungkinkan kita melihat. Pendengaran serta penglihatan manusia dapat terganggu. Pengalaman itu membantu kita memahami bahwa kemampuan makhluk terbatas. Akan tetapi, sifat Allah tidak boleh diukur dengan cara kerja tubuh manusia. Allah Maha Mendengar dan Maha Melihat dengan kesempurnaan yang layak bagi-Nya.
Sama‘ berarti sifat pendengaran Allah, sedangkan bashar berarti sifat penglihatan-Nya. Allah mendengar tanpa telinga dan melihat tanpa mata atau alat. Kegelapan tidak menutupi sesuatu dari penglihatan-Nya; pelannya suara tidak membuat-Nya kehilangan pendengaran. Allah tidak perlu mendekat kepada suatu benda untuk mengetahuinya. Tidak ada makhluk yang luput dari-Nya, baik yang kita perhatikan maupun yang tidak kita ketahui.
Sifat Allah tidak baru muncul
Pendengaran seorang bayi berkembang, dan penglihatan manusia dapat melemah ketika sakit atau menua. Allah berbeda dari keadaan tersebut. Sifat sama‘ dan bashar-Nya azali, yaitu tidak mempunyai permulaan. Allah tidak berubah dari tidak mendengar menjadi mendengar, atau dari tidak melihat menjadi melihat. Adanya makhluk yang didengar dan dilihat bukan penyebab Allah memperoleh sifat kesempurnaan yang sebelumnya tidak dimiliki.
Kita menetapkan apa yang Allah terangkan tentang diri-Nya sekaligus menjaga tanzih, yakni menyucikan-Nya dari keserupaan dengan makhluk. Karena itu, mengatakan Allah mendengar dan melihat tidak berarti menggambarkan organ tubuh bagi-Nya. Santri cukup memahami pokok ini dengan tenang. Jika muncul pertanyaan tentang bagaimana sifat-Nya, kembalilah kepada pegangan bahwa kesempurnaan Allah tidak menyerupai kemampuan ciptaan.
Memahami kalam Allah
Kalam adalah sifat Allah berfirman. Allah benar-benar berfirman; kalam-Nya tidak sama dengan percakapan manusia. Dalam penjelasan akidah Asy‘ari yang dipakai pada buku ini, kalam Allah yang azali bukan suara yang keluar dari mulut dan bukan susunan huruf yang muncul bergantian. Allah tidak memerlukan lidah, napas, atau alat untuk berfirman. Sifat-Nya tidak bergantung pada waktu dan keadaan tubuh.
Al-Qur’an adalah kalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad ﷺ dan menjadi petunjuk bagi kita. Sewaktu membaca Al-Qur’an, kita menghasilkan suara melalui kemampuan yang Allah karuniakan. Suara itu dapat keras, pelan, atau berhenti. Perubahan suara pembaca tidak berarti sifat kalam Allah berubah atau terputus. Kita perlu membedakan bacaan sebagai perbuatan pembaca dengan kalam Allah yang ditunjukkan oleh bacaan tersebut.
Mushaf bacaan dan adab
Tulisan pada mushaf, tinta, kertas, layar, dan alat rekam adalah benda ciptaan. Bahan-bahan itu menjadi sarana untuk menampilkan atau memperdengarkan bacaan Al-Qur’an. Kita tidak menyebut kertas atau suara manusia sebagai sifat Allah yang azali. Membedakan sarana dan yang ditunjukkannya membantu kita berbicara dengan tepat, tanpa mengurangi penghormatan terhadap mushaf dan bacaan ayat-ayat Allah.
Penghormatan itu tampak ketika santri membawa mushaf dengan baik, menyimak bacaan, memperbaiki kesalahan, dan mempelajari petunjuknya. Seseorang yang belum lancar tidak perlu malu meminta bimbingan. Yang sudah lancar hendaknya membantu dengan sabar. Pembelajaran kalam Allah tidak selesai dengan definisi: kita juga belajar menerima petunjuk Al-Qur’an dalam ibadah, kejujuran, dan hubungan dengan orang lain.
Tujuh maani dan tujuh manawiyah
Bait sembilan menghimpun tujuh sifat ma‘ani: qudrah, iradah, sama‘, bashar, hayat, ilmu, dan kalam. Artinya ialah kuasa, kehendak, pendengaran, penglihatan, hidup, mengetahui, dan berfirman. Sebagian telah kita pelajari pada pelajaran sebelumnya. Pembagian ini membantu menyusun pemahaman, sehingga kita tidak hanya menghafal satu deretan kata tanpa mengetahui hubungan antara nama sifat dan maknanya.
Allah mempunyai sifat qudrah, maka Allah Mahakuasa; mempunyai sifat ilmu, maka Allah Maha Mengetahui. Dalam susunan sifat dua puluh, tujuh keadaan seperti Mahakuasa, Berkehendak, Mengetahui, Hidup, Mendengar, Melihat, dan Berfirman disebut ma‘nawiyah. Hitungannya ialah satu nafsiyah, lima salbiyah, tujuh ma‘ani, dan tujuh ma‘nawiyah. Semuanya menerangkan Allah Yang Esa, bukan dua puluh tuhan atau bagian-bagian Zat-Nya.
Keyakinan yang membimbing ucapan
Iman kepada sama‘ dan bashar menumbuhkan kesadaran bahwa ucapan dan tindakan kita diketahui Allah. Ketika tidak ada guru di asrama, santri tetap menjaga amanah. Ia menahan ejekan, berkata jujur, dan tidak merusak barang teman. Pengawasan Allah menjadi dorongan untuk berbuat baik secara tulus, sehingga kebaikan tidak hanya muncul ketika ingin dipuji atau takut diketahui manusia.
Kesadaran tersebut juga membawa harapan. Allah mendengar doa seorang santri yang sedang kesulitan, sekalipun ia berdoa dengan suara pelan. Allah mengetahui usahanya belajar dan memperbaiki diri. Jika terlanjur menyakiti teman, ia dapat bertobat, meminta maaf, dan mengganti kerusakan. Mengingat Allah hendaknya menguatkan tanggung jawab serta kedekatan ibadah, bukan membuat kita merasa tidak mempunyai jalan kembali.
Dalil yang dipelajari
… لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Terjemahan makna
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Dialah Yang Maha Mendengar, Maha Melihat.
QS. Asy-Syura [42]: 11, bagian ayat.
Ayat ini menetapkan pendengaran dan penglihatan Allah bersama penegasan bahwa Dia tidak menyerupai makhluk.
… وَكَلَّمَ اللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًا
Terjemahan makna
Allah benar-benar berfirman kepada Musa.
QS. An-Nisa’ [4]: 164, bagian ayat.
Kalam Allah adalah kenyataan yang wajib diimani, dengan tetap menyucikan Allah dari cara berbicara makhluk.
Penerapan dalam kehidupan
Salman menyimak temannya membaca Al-Qur’an. Ketika temannya berhenti mengambil napas, bacaan yang terdengar pun berhenti. Salman memahami bahwa yang berhenti adalah suara pembaca, bukan kalam Allah yang azali. Ia kemudian membantu menunjukkan tempat melanjutkan bacaan dengan sopan.
Rangkuman
Allah mendengar dan melihat tanpa organ atau alat serta tidak menyerupai makhluk.
Kalam Allah yang azali dibedakan dari suara pembaca, tulisan, dan bahan mushaf.
Tujuh ma‘ani dan tujuh ma‘nawiyah menerangkan kesempurnaan Allah Yang Esa.
Iman kepada sifat-sifat ini menguatkan kejujuran, adab membaca Al-Qur’an, dan harapan dalam doa.
Hafalan: Hafalkan bait 8–9, tujuh sifat ma‘ani beserta maknanya, dan bagian QS. Asy-Syura [42]: 11 yang dicantumkan pada pelajaran ini.
Latihan 5 soal
Lengkapi: sama‘ berarti sifat Allah ___, sedangkan bashar berarti sifat Allah ___. Mengapa keduanya tidak memerlukan organ tubuh?
Lihat pedoman jawaban
Sama‘ berarti sifat pendengaran Allah; bashar berarti sifat penglihatan Allah. Allah tidak menyerupai makhluk sehingga tidak memerlukan telinga, mata, atau alat.
Seorang santri berkata, “Jika ruangan gelap, Allah tidak melihat perbuatan kita.” Jelaskan kekeliruannya.
Lihat pedoman jawaban
Ia mengukur penglihatan Allah dengan penglihatan manusia. Allah Maha Melihat tanpa mata atau kebutuhan cahaya; kegelapan tidak menghalangi-Nya.
Suara pembaca Al-Qur’an berhenti. Apa yang berhenti, dan apa yang tidak boleh kita simpulkan?
Lihat pedoman jawaban
Yang berhenti adalah suara atau bacaan pembaca sebagai perbuatan makhluk. Kita tidak boleh menyimpulkan sifat kalam Allah terputus.
Jelaskan hubungan qudrah dengan kaunuhu qadiran, lalu hitung empat kelompok sifat hingga berjumlah dua puluh.
Lihat pedoman jawaban
Qudrah adalah sifat kuasa; kaunuhu qadiran berarti Allah bersifat Mahakuasa. Satu nafsiyah + lima salbiyah + tujuh ma‘ani + tujuh ma‘nawiyah = dua puluh.
Seorang santri mengejek teman ketika pengurus tidak ada, lalu merasa tidak perlu meminta maaf. Jelaskan hubungan iman kepada sama‘ dengan dua tindakan yang perlu ia lakukan.
Lihat pedoman jawaban
Allah tetap mendengar ucapannya meskipun pengurus tidak ada. Ia perlu menghentikan ejekan dan meminta maaf serta memperbaiki akibatnya. Kesadaran ini juga mengajaknya bertobat kepada Allah.