Matan Jazariyyah
Imam Muhammad bin Muhammad Ibn al-Jazari
Syarah Arab & buku cetak · ١٠٩ bait, ٢٨ pelajaran, harakat pilihan.
Buka syarah Arab →Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau ٧ lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Ra: tipis, tebal, dan takrir · Bait ٤٢ dari ١٠٩
Mufradat · arti kata dan frasa
- إن لم تكن
- jika ra itu tidak berada
- من قبل حرف استعلا
- sebelum huruf isti‘la
- أو كانت الكسرة
- atau kasrah itu merupakan
- ليست أصلا
- kasrah yang bukan asli
Terjemahan bait ٤٢
Tarqiq itu berlaku bila ra tidak diikuti huruf isti‘la (dalam kata yang sama); apabila kasrah sebelumnya bukan kasrah asli, ra justru dibaca tebal.
Syarah · keterangan lengkap
Mengapa terjemahan perlu menjelaskan sambungan?
Susunan penggal kedua sangat padat. Al-Qari membahas bahwa membacanya sebagai syarat tarqiq yang berdiri sendiri akan menghasilkan makna terbalik. Karena itu, terjemahan makna menunjukkan hasil kaidahnya: kasrah yang bukan asli tidak otomatis menipiskan ra. Mufradat tetap menampilkan arti frasa, sedangkan syarah menjelaskan hubungan dan takdir kalimatnya.
Huruf isti‘la dalam kata yang sama
Pada مِرْصَاد dan قِرْطَاس, ra sukun didahului kasrah tetapi diikuti huruf isti‘la dalam kata yang sama. Ra dibaca tebal. Keberadaan huruf isti‘la pada kata berikutnya tidak serta-merta memberi hukum yang sama. Contoh khusus فِرْقٍ dengan qaf berkasrah dibicarakan terpisah pada bait ٤٣.
Kasrah asli dan kasrah sementara
Pada awal اِرْجِعْ atau اِرْكَبْ, kasrah hamzah washal membantu memulai kata, tetapi bukan kasrah asli yang memenuhi syarat tarqiq ra. Ra tetap tebal. Demikian pula kasrah yang timbul pada sambungan untuk menghindari pertemuan dua sukun tidak otomatis menjadi sebab tarqiq. Periksa struktur kata, jangan hanya bunyi kasrah yang terdengar paling dekat.
Latihan pasangan
Bandingkan فِرْعَوْن dengan قِرْطَاس, lalu bandingkan dengan اِرْجِعْ ketika memulai. Ketiganya memperlihatkan ra sukun sesudah bunyi kasrah, tetapi hasilnya tidak seluruhnya sama. Sebutkan alasan sebelum membaca, kemudian cocokkan dengan contoh pengajar. Dengan cara ini, murid memahami syaratnya dan tidak menebak hukum dari satu tanda saja.
Rujukan syarah: Al-Minah al-Fikriyyah, halaman elektronik ٥٢ dan kelanjutannya. Terjemahan, uraian Indonesia, dan latihan merupakan susunan pembelajaran.
Buka pembahasan sumber ↗Syarah Arab · الشرح العربيّ
I‘rab & tarkib
I‘rab dan sharaf berikut menjelaskan bagian pilihan, bukan analisis seluruh kata. Nazam dapat menghapus unsur yang dipahami, menyingkat nama huruf, atau menyesuaikan pelafalan untuk irama. Takdir dalam penjelasan tidak mengganti matan.
أو كانت الكسرة ليست أصلا
Al-Qari membahas susunan ini melalui hubungan dengan larangan atau takdir makna sebelumnya. Ia tidak dipahami sebagai perintah menipiskan ra karena kasrah sementara. Pemahaman nahwu harus sesuai kaidah bacaan yang dijelaskan sumber, bukan semata-mata menerjemahkan aw sebagai pilihan hukum tanpa konteks.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Bait ٤٢ membatasi kaidah pada bait ٤١ dengan memakai huruf isti‘la bait ٢٢. Firq dijelaskan pada bait ٤٣; kasrah hamzah washal diterangkan kembali pada bait ١٠١–١٠٣.
Intisari & faedah
- Ra pada qirthās tetap tebal meskipun didahului kasrah.
- Kasrah hamzah washal tidak diperlakukan sebagai kasrah asli untuk menipiskan ra.
Praktik & kesalahan
Latihan praktik
Pelajar menipiskan ra pada اِرْجِعْ karena mendengar kasrah sebelumnya.
Cara membaca / memahami
Ia mengenali bahwa kasrah tersebut berada pada hamzah washal ketika memulai, lalu menjaga ra tetap tebal.
Yang perlu diperhatikan
Jangan mengubah bacaan berdasarkan bunyi tetangga saja; asal kasrah dan batas kata menentukan penerapan.
Dalil & rujukan
Ayat dapat menjadi contoh bunyi atau dasar tema. Keterangan menjelaskan kaitannya; rincian cara membaca diperiksa melalui syarah dan talaqqi.
QS Al-An‘am: ٧
Teks ayat lengkap · Inti makna diringkas untuk pembelajaran
Baca teks ayat
وَلَوْ نَزَّلْنَا عَلَيْكَ كِتَٰبًۭا فِى قِرْطَاسٍۢ فَلَمَسُوهُ بِأَيْدِيهِمْ لَقَالَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ إِنْ هَٰذَآ إِلَّا سِحْرٌۭ مُّبِينٌۭ
Inti makna
Ayat menggambarkan kerasnya penolakan: bahkan jika kitab turun pada lembaran yang dapat mereka sentuh, orang ingkar tetap menyebutnya sihir.
Kaitan dengan bait
Lafaz قِرْطَاسٍ memuat contoh ra sukun setelah kasrah yang diikuti tha dalam satu kata. Keadaan ini menuntut tafkhim ra.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Mengapa ra pada فِرْعَوْن dan قِرْطَاس berbeda?
Lihat pembahasan jawaban
Pada fir‘awn, ra sukun sesudah kasrah asli tidak diikuti huruf isti‘la dalam kata. Pada qirthās, tha yang ber-isti‘la mengikuti ra dalam kata yang sama, sehingga ra dibaca tebal.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
إن لم تكن
jika ra itu tidak berada
من قبل حرف استعلا
sebelum huruf isti‘la
أو كانت الكسرة
atau kasrah itu merupakan
ليست أصلا
kasrah yang bukan asli
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal ١
إِنْ لَمْ تَكُنْ مِنْ قَبْلِ حَرْفِ اسْتِعْلَا
Buka penggal ٢
أَوْ كَانَتِ الْكَسْرَةُ لَيْسَتْ أَصْلَا
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Jazariyyah — 109 Bait · Bait 42 — Batas aturan ra setelah kasrahNaskah 1 · materi pendamping 1
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.
شرطان للترقيق
في نحو «فِرْعَوْن» رقّق الراء؛ فقبلها كَسْر أصليّ، وليس بعدها حَرف استعلاء في الكَلِمة. أمّا «قِرْطَاس» فتفخّم راؤه، لوجود الطاء بعدها. وإذا كانت الكسرة عارضة، كما عند الابتِداء بـ«ارْجِعُوا»، لم تكن سببًا لترقيق الراء. وَحَرف الاستِعلاء في كَلِمة أخرى لا يُلحق تلقائيًّا بِحُكْم «قرطاس».
افتح الدرس والتدريب