Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 1
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Mukadimah dan adab ilmu · Bait 1 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
الحمد
segala puji
للإله
bagi Tuhan (Allah)
ذي الجلال
yang memiliki keagungan
وشارع
dan yang menetapkan
الحرام
yang haram
والحلال
dan yang halal
Terjemahan bait 1

Segala puji bagi Tuhan yang memiliki keagungan, dan yang menetapkan yang haram serta yang halal.

Syarah · keterangan lengkap

Makna pembuka

Pengarang memulai nazam dengan hamdalah: mengakui bahwa segala kesempurnaan dan karunia berasal dari Allah. Al-hamdu bukan sekadar ucapan terima kasih setelah menerima sesuatu, melainkan pujian yang disertai pengagungan. Dzu al-jalal menunjukkan keagungan Allah yang tidak menyerupai keagungan makhluk. Pembukaan ini menempatkan belajar sebagai pengabdian: kemampuan membaca, memahami, dan mengamalkan ilmu merupakan nikmat yang patut disyukuri.

Mengapa halal dan haram disebut di awal?

Kata syari‘ di sini berarti yang menetapkan atau menerangkan syariat. Penentuan hukum agama bersumber dari Allah; rasul menyampaikannya dan ulama menjelaskan dengan metode ilmu. Penyebutan halal dan haram sekaligus memberi isyarat isi kitab: pembahasan perbuatan manusia menurut tuntunan syariat. Halal dalam pasangan ini dipakai secara luas sebagai lawan haram, sehingga tidak selalu sama persis dengan kategori mubah yang akan dibahas pada bait 70.

Pelajaran dalam belajar

Seorang pelajar tidak menetapkan hukum hanya karena suka atau tidak suka. Ia mencari dalil dan penjelasan yang dapat dipertanggungjawabkan. Mengucapkan hamdalah ketika mulai belajar baik dilakukan, tetapi tujuan bait tidak berhenti pada ucapan: rasa syukur tampak melalui kesungguhan, kejujuran ketika belum paham, dan penggunaan ilmu untuk kebaikan. Misalnya, ketika mengetahui cara bersuci yang benar, ia memperbaiki praktiknya sekaligus menyadari bahwa bimbingan tersebut adalah nikmat.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 5. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

الحمد للإله ذي الجلال

الحمدُ menjadi mubtada (pokok kalimat), marfu‘ dengan dhammah. لـ huruf jar; الإلهِ majrur, dan rangkaian للإله menjadi khabar: pujian itu milik Allah. ذي ialah sifat bagi الإله, majrur dengan ya karena termasuk al-asma’ al-khamsah; الجلالِ mudhaf ilaih.

وشارع الحرام والحلال

و menghubungkan sifat berikutnya; شارعِ mengikuti الإله dalam keadaan jar. الحرامِ mudhaf ilaih dari شارع; الحلالِ dihubungkan kepadanya oleh و sehingga juga majrur. Susunan ini memuji Allah sekaligus mengenalkan tema halal-haram.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

شارع

Akar
ش ر ع
Pola / bentuk
فَاعِل

Isim fa‘il dari شَرَعَ: yang menetapkan syariat. Bentuk pelaku menerangkan sifat, bukan kata kerja perintah.

الجلال

Akar
ج ل ل
Pola / bentuk
فَعَال

Masdar yang menunjukkan keagungan. Alif-lam membuatnya ma‘rifah; penambahan alif-lam tidak termasuk huruf akar.

Hubungan bait

Bait pembuka memberi arah seluruh kitab: ilmu dipelajari dengan memuji Allah sebagai pemberi petunjuk dan penetap hukum. Bait 2–3 melanjutkan adab pembuka dengan selawat dan salam.

Intisari & faedah
  1. Pujian menghubungkan kegiatan belajar dengan penghambaan kepada Allah.
  2. Halal-haram disebut sejak awal untuk menandai tema fikih kitab ini.
Contoh penerapan

Keadaan

Seorang santri akan mulai membaca bab bersuci.

Cara memahami

Ia mengawali dengan hamdalah dan niat belajar agar ibadahnya benar, lalu benar-benar membaca pembahasannya.

Batas penerapan

Hamdalah bukan pengganti usaha memahami ketentuan fikih.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Al-Faatiha 1:2

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ ٱلْعَٰلَمِينَ

Inti makna

Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Kaitan dengan bait

Penguat langsung untuk memulai dengan pujian kepada Allah; penyebutan halal-haram pada bait dijelaskan oleh konteks kitab.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Mengapa kata ذي tidak dibaca ذو pada susunan ini?

Lihat pembahasan jawaban

Karena menjadi sifat bagi الإله yang majrur. Pada kata ذو yang bermakna pemilik, tanda jar adalah ya: ذي.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

الحمد

segala puji

للإله

bagi Tuhan (Allah)

ذي الجلال

yang memiliki keagungan

وشارع

dan yang menetapkan

الحرام

yang haram

والحلال

dan yang halal

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

الحمدُ للإلهِ ذي الجلالِ

Buka penggal 2

وشارِعِ الحرامِ والحلالِ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 1 — Memulai ilmu dengan pujian kepada AllahNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan