Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 10
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Mukadimah dan adab ilmu · Bait 10 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
والله
dan kepada Allah
أرجو
aku berharap
المن
karunia
بالإخلاص
berupa keikhlasan
لكي يكون
agar ia menjadi
موجب الخلاص
sebab keselamatan
Terjemahan bait 10

Kepada Allah aku mengharapkan karunia berupa keikhlasan, agar ia menjadi sebab keselamatan.

Syarah · keterangan lengkap

Doa pengarang

Setelah mendorong amal dan memperingatkan bahaya ilmu yang diabaikan, pengarang mengakui kebutuhan dirinya terhadap pertolongan Allah. Ia tidak menyatakan karyanya pasti ikhlas atau pasti menyelamatkan. Arju menunjukkan harapan, sedangkan al-mann menunjuk pemberian yang tidak layak dituntut dengan kesombongan. Doa ini menjadi teladan bahwa penyusun kitab pun terus membutuhkan pembenahan niat.

Makna ikhlas

Ikhlas berarti mengarahkan ibadah kepada Allah, bukan menjadikan pujian manusia sebagai tujuan utama penghambaan. Dalam belajar, manfaat duniawi seperti kemampuan mengajar atau bekerja tidak otomatis membatalkan ketulusan. Yang diperiksa adalah arah tujuan dan cara mencapainya: apakah ilmu digunakan untuk menaati Allah dan memberi manfaat, atau semata-mata menipu, menyombongkan diri, dan mencari pengakuan.

Ikhlas sebagai sebab

Ungkapan sebab keselamatan tidak berarti ikhlas dapat membenarkan perbuatan yang haram atau ibadah yang tidak sesuai tuntunan. Bait-bait sebelumnya telah mengikat amal dengan ilmu, dan bait 21 akan menegaskan kesesuaian dengan sunah. Pelajar dapat memperbarui niat sebelum belajar, berdoa agar ilmunya bermanfaat, dan menerima koreksi tanpa merasa kehilangan harga diri. Keikhlasan tumbuh melalui latihan serta pertolongan Allah; ia bukan pengakuan yang cukup diucapkan sekali untuk selamanya.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 7. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

والله أرجو المن بالإخلاص

اللهَ objek yang didahulukan dari أرجو, bukan otomatis sumpah dengan waw. أرجو fi‘il mudhari‘; pelakunya أنا. المنَّ objek yang dimohonkan, yaitu karunia; بالإخلاص menjelaskan bentuk karunia itu.

لكي يكون موجب الخلاص

لـ menunjukkan tujuan; كي menashabkan يكونَ. Isim يكون tersirat kembali kepada الإخلاص, sedangkan موجبَ khabarnya yang manshub. الخلاصِ mudhaf ilaih dari موجب.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

الإخلاص

Akar
خ ل ص
Pola / bentuk
إِفْعَال

Masdar dari أَخْلَصَ: memurnikan tujuan. Alif-lam bukan bagian akar.

موجب

Akar
و ج ب
Pola / bentuk
مُفْعِل

Isim fa‘il dari أَوْجَبَ. Dalam konteks ini menunjuk sebab yang mengantarkan kepada keselamatan, bukan kewajiban yang dipaksakan manusia kepada Allah.

Hubungan bait

Penutup pengantar memohon inti yang menghidupkan ilmu dan amal: ikhlas. Bait 11 memulai pembahasan dasar iman; uraian niat dikembangkan lagi pada bait 18–21.

Intisari & faedah
  1. Keikhlasan dimohon dan diusahakan, bukan dianggap otomatis karena telah belajar.
  2. Tujuan amal harus ditujukan kepada Allah.
Contoh penerapan

Keadaan

Pelajar senang dipuji karena hafal nazam lalu mulai belajar hanya untuk pujian.

Cara memahami

Ia mengembalikan niat kepada ibadah dan manfaat ilmu sambil tetap melanjutkan belajar.

Batas penerapan

Kehadiran lintasan ingin dipuji perlu dibenahi, tidak otomatis berarti seluruh usaha harus ditinggalkan.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Al-Bayyina 98:5

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ حُنَفَآءَ وَيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَيُؤْتُوا۟ ٱلزَّكَوٰةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ ٱلْقَيِّمَةِ

Inti makna

Manusia diperintahkan beribadah kepada Allah dengan ikhlas, menegakkan salat, dan menunaikan zakat.

Kaitan dengan bait

Ayat menyebut perintah beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Mengapa الله pada awal bait bukan langsung dianggap sumpah?

Lihat pembahasan jawaban

Karena dalam susunan ini اللهَ menjadi objek yang didahulukan dari أرجو. Harakat dan hubungan kalimat harus dibaca bersama.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

والله

dan kepada Allah

أرجو

aku berharap

المن

karunia

بالإخلاص

berupa keikhlasan

لكي يكون

agar ia menjadi

موجب الخلاص

sebab keselamatan

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

واللهَ أرجو المَنَّ بالإخلاصِ

Buka penggal 2

لكي يكونَ مُوجِبَ الخَلاص

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 10 — Memohon keikhlasan dan keselamatanNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan