Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 103
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Bejana dan penelitian kesucian · Bait 103 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
وتحرم الضبة
dan diharamkan tambalan
من هذين
dari dua bahan ini
بكبر عرفا
karena besar menurut kebiasaan
مع التزين
bersama tujuan berhias
Terjemahan bait 103

Tambalan dari dua bahan itu diharamkan apabila besar menurut kebiasaan dan disertai tujuan berhias.

Syarah · keterangan lengkap

Apa yang dimaksud dhabbah

Dhabbah ialah bagian yang dipasang untuk menyambung, mengikat, atau memperbaiki bejana, misalnya pada bagian yang retak. Ia dibedakan dari bejana yang seluruhnya terbuat dari logam terlarang. Kata hadzaini mengacu kepada emas dan perak pada bait sebelumnya. Redaksi matan menyebut keduanya; syarah yang menjadi pembanding mengikuti perincian tersebut pada bagian ini.

Dua unsur dibaca bersama

Pengarang memasangkan besar menurut ‘urf dengan tujuan berhias. ‘Urf di sini berarti penilaian kebiasaan yang relevan terhadap tambalan pada benda tersebut, bukan angka sentimeter yang diberikan bait. Ketika unsur besar dan berhias berkumpul, matan menetapkan larangan. Jika salah satu atau keduanya tidak ada, jawabannya belum selesai sebelum membaca bait 104.

Perincian emas jangan diratakan

Dalam rujukan Syafi‘i lain, tambalan emas dibahas lebih ketat daripada perak; pola empat keadaan paling jelas diterapkan pada tambalan perak. Karena itu, uraian redaksi bait tidak boleh dipakai sebagai izin umum menempelkan emas kecil untuk hiasan. Aplikasi menampilkan lafaz pengarang dan menunjukkan letak perincian agar pelajar memahami teks sekaligus batas kesimpulannya.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 34. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Syarh al-Muqaddimah al-Hadhramiyyah — pembahasan bejana dan tambalan ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

وتحرم الضبة من هذين

تحرم fi‘il; الضبةُ fa‘il. من هذين menerangkan bahan tambalan. هذين majrur dengan ya karena bentuk penunjuk dua.

بكبر عرفا مع التزين

بكبر jar-majrur menjelaskan sebab; عرفاً menerangkan ukuran menurut kebiasaan. معَ zharaf kebersamaan dan التزينِ mudhaf ilaih, sehingga dua unsur disebut bersamaan.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

الضبة

Akar
ض ب ب
Pola / bentuk
فَعْلَة dengan idgham

Isim untuk pengikat atau tambalan; dua huruf akar sejenis dilebur.

التزين

Akar
ز ي ن
Pola / bentuk
تَفَعُّل

Masdar dari تزيّن, berhias atau menjadikan sesuatu sebagai hiasan.

Hubungan bait

Sesudah bahan bejana pada bait 101–102, pengarang membahas tambalan. Bait 104 wajib disertakan untuk memahami keadaan yang tidak mengumpulkan kedua unsur tadi.

Intisari & faedah
  1. Hukum bejana utuh dan tambalannya tidak selalu identik.
  2. Besar dan tujuan berhias adalah dua unsur berbeda yang diperiksa bersama.
Contoh penerapan

Keadaan

Sebuah bejana dipasangi hiasan perak besar yang tidak dipakai memperbaiki kerusakan.

Cara memahami

Contoh ini mengumpulkan unsur besar dan tujuan berhias dalam pembahasan matan.

Batas penerapan

Untuk tambalan emas, baca perincian tambahan; jangan menyamakan seluruh pengecualiannya dengan perak.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

Shahih al-Bukhari 3109

Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

أَنَّ قَدَحَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم انْكَسَرَ، فَاتَّخَذَ مَكَانَ الشَّعْبِ سِلْسِلَةً مِنْ فِضَّةٍ

Inti makna

Anas meriwayatkan cangkir Nabi yang retak dan disambung dengan perak pada tempat retaknya.

Kaitan dengan bait

Riwayat perbaikan cangkir dengan perak menjadi dasar adanya pembahasan tambalan; tidak menetapkan semua ukuran dan semua bahan dengan satu hukum.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Mengapa bait 103 tidak cukup dibaca tanpa bait 104?

Lihat pembahasan jawaban

Bait 103 menyebut keadaan kedua unsur berkumpul; bait 104 menerangkan bila keduanya atau salah satunya tidak ada.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

وتحرم الضبة

dan diharamkan tambalan

من هذين

dari dua bahan ini

بكبر عرفا

karena besar menurut kebiasaan

مع التزين

bersama tujuan berhias

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

وتَحْرُمُ الضَّبَةُ مِن هَذِينِ

Buka penggal 2

بِكِبَرٍ عُرْفَاً مَعَ التَّزَيُّنِ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 103 — Tambalan bejana: ukuran dan tujuanNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan