Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 106
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Bejana dan penelitian kesucian · Bait 106 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
ويتحرى
dan dilakukan penelitian
لاشتباه طاهر
karena tersamarnya benda suci
بنجس
dengan benda najis
ولو لأعمى قادر
bahkan bagi orang buta yang mampu
Terjemahan bait 106

Dilakukan penelitian ketika yang suci tersamar dengan yang najis, bahkan oleh orang buta yang mampu.

Syarah · keterangan lengkap

Taharrī memakai tanda, bukan pilihan acak

Jika dua wadah semula mempunyai status berbeda lalu tidak diketahui mana yang terkena najis, pengarang membicarakan usaha mencari tanda yang menguatkan salah satunya. Misalnya terdapat informasi yang dapat dipercaya, bekas yang dikenali, atau keadaan penyimpanan yang membantu membedakan. Memilih wadah yang terasa lebih disukai tanpa alasan tidak sama dengan taharrī.

Kemampuan tidak disamakan dengan penglihatan

Orang yang tidak dapat melihat tetap mungkin mengetahui melalui keterangan, sentuhan yang sesuai, atau tanda lain yang dapat dipercaya. Kata qadir membatasi pada kemampuan menilai keadaan tersebut. Penyebutan ini mengajarkan agar pengetahuan seseorang tidak ditolak hanya karena cara memperoleh informasinya berbeda. Dalam praktik, tidak perlu mencicipi bahan yang diduga berbahaya untuk mencari tanda kesucian.

Bukan aturan untuk segala keraguan

Pembahasan ini mengenai pertukaran suci dan najis pada keadaan yang memang menerima penelitian menurut fikih. Bait 107 menyebut sejumlah kasus yang tidak diselesaikan dengan pola yang sama. Jika hanya ada benda yang asalnya suci dan tidak ada bukti terkena najis, keraguan tanpa dasar tidak otomatis mengubahnya menjadi najis atau memaksa penelitian berulang.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 35. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

ويتحرى لاشتباه طاهر بنجس

يُتحرّى fi‘il pasif. لاشتباه menunjukkan sebab; طاهر mudhaf ilaih pada masdar اشتباه, dan بنجس melengkapi makna tersamar dengan benda lain.

ولو لأعمى قادر

ولو mencakup keadaan yang mungkin disangka dikecualikan. لأعمى jar-majrur; قادر sifat yang memberi batas kemampuan melakukan penilaian.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

اشتباه

Akar
ش ب ه
Pola / bentuk
اِفْتِعَال

Masdar dari اشتبه: menjadi tersamar atau sukar dibedakan.

قادر

Akar
ق د ر
Pola / bentuk
فَاعِل

Isim fa‘il, mampu; sifat ini penting bagi cakupan ketentuan.

Hubungan bait

Sesudah menjaga bejana pada bait 105, dibahas keadaan isinya atau benda lain yang tertukar. Bait 107 memberikan pengecualian penting terhadap cara penelitian ini.

Intisari & faedah
  1. Taharrī memerlukan tanda yang menguatkan, bukan tebakan tanpa dasar.
  2. Kemampuan mengetahui dapat memakai jalan selain penglihatan.
Contoh penerapan

Keadaan

Dua wadah tertukar, tetapi saksi tepercaya mengenali wadah yang terkena najis.

Cara memahami

Keterangan yang relevan diperiksa untuk menentukan pemakaian sesuai ketentuan.

Batas penerapan

Jangan mencicipi cairan yang mungkin berbahaya atau menjadikan waswas sebagai bukti najis.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS An-Nahl 16:43

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

وَمَآ أَرْسَلْنَا مِن قَبْلِكَ إِلَّا رِجَالًۭا نُّوحِىٓ إِلَيْهِمْ ۚ فَسْـَٔلُوٓا۟ أَهْلَ ٱلذِّكْرِ إِن كُنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Inti makna

Perintah bertanya kepada orang yang mempunyai pengetahuan ketika tidak mengetahui, dalam konteks penjelasan tentang para rasul.

Kaitan dengan bait

Penguat umum mencari pengetahuan ketika tidak mengetahui; rincian taharrī suci-najis berasal dari pembahasan fikih, bukan bunyi langsung ayat.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apa beda taharrī dan memilih secara acak?

Lihat pembahasan jawaban

Taharrī memakai tanda atau informasi yang menimbulkan dugaan kuat; pilihan acak tidak mempunyai dasar pembeda.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

ويتحرى

dan dilakukan penelitian

لاشتباه طاهر

karena tersamarnya benda suci

بنجس

dengan benda najis

ولو لأعمى قادر

bahkan bagi orang buta yang mampu

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

ويُتَحَرَّى لاشتِبَاهِ طَاهِرِ

Buka penggal 2

بنَجِسٍ ولو لأعمى قادِرِ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 106 — Meneliti ketika benda suci dan najis tertukarNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan