Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 108
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Siwak dan perawatan tubuh · Bait 108 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
يسن
disunahkan
لا بعد زوال الصائم
tidak sesudah zawal bagi orang berpuasa
وأكدوه
dan mereka menekankannya
لانتباه النائم
untuk bangunnya orang tidur
Terjemahan bait 108

Siwak disunahkan, tidak sesudah zawal bagi orang berpuasa; dan lebih ditekankan ketika orang tidur bangun.

Syarah · keterangan lengkap

Subjek diambil dari judul bab

Kata yusannu tidak menyebut ulang siwak karena judul bab sudah menunjukkannya. Siwak ialah membersihkan gigi dan sekitarnya dengan alat yang sesuai. Hukum dasar yang disebut pengarang ialah sunah. Bangun tidur menjadi salah satu keadaan yang lebih ditekankan karena keadaan mulut dapat berubah selama tidur; penekanan tidak mengubah semua pelaksanaannya menjadi wajib.

Batas setelah zawal menurut matan

Zawal ialah tergelincirnya matahari dari titik tengah menuju waktu zuhur, bukan otomatis angka pukul dua belas pada setiap tempat. Matan mengikuti pendapat kemakruhan siwak setelah zawal bagi orang yang sedang berpuasa. Ini perincian fikih yang diperselisihkan; terdapat ulama yang memilih tidak makruh. Pembaca perlu membedakan pendapat yang diterangkan kitab dari anggapan bahwa semua ulama melarangnya.

Siwak berbeda dari menelan bahan

Ketentuan waktu tidak sama dengan persoalan air, pasta, atau bahan lain yang tertelan saat puasa. Penjelasan ini tidak mengubah membersihkan mulut menjadi tindakan membatalkan puasa dengan sendirinya. Saat belajar, petakan secara terpisah hukum bersiwak, waktu, alat, dan menjaga agar bahan tidak masuk dengan cara yang membatalkan puasa.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 37. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

يسن لا بعد زوال الصائم

يُسن fi‘il pasif dengan na’ib fa‘il tersirat, yakni السواك. بعدَ zharaf; زوالِ mudhaf ilaih, dan الصائم melengkapi pengaitan waktu orang yang berpuasa.

وأكدوه لانتباه النائم

أكدوا terdiri dari fi‘il madhi dan waw pelaku; ه objek kembali kepada siwak. لانتباه menyatakan keadaan penekanan, النائم mudhaf ilaih.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

انتباه

Akar
ن ب ه
Pola / bentuk
اِفْتِعَال

Masdar dari انتبه: terjaga atau bangun.

النائم

Akar
ن و م
Pola / bentuk
فَاعِل setelah i‘lal

Isim fa‘il dari نام; waw tengah berubah dalam pembentukan نائم.

Hubungan bait

Bab baru ini mengikuti bejana dan penelitian kesucian. Bait 109 melengkapi keadaan yang menguatkan kesunahan dan alatnya.

Intisari & faedah
  1. Kesunahan dan penekanan kesunahan tidak sama dengan kewajiban.
  2. Ketentuan siwak sesudah zawal merupakan bagian yang mempunyai perbedaan pendapat.
Contoh penerapan

Keadaan

Santri membaca bahwa siwak sesudah zawal bagi orang berpuasa dimakruhkan.

Cara memahami

Ia mencatat bahwa itu pendapat yang diterangkan matan, lalu mempelajari perbedaan melalui syarah.

Batas penerapan

Jangan menyebut orang yang mengikuti pendapat lain sebagai pembatal puasa hanya karena bersiwak.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

Shahih al-Bukhari 887

Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

لَوْلاَ أَنْ أَشُقَّ عَلَى أُمَّتِي ـ أَوْ عَلَى النَّاسِ ـ لأَمَرْتُهُمْ بِالسِّوَاكِ مَعَ كُلِّ صَلاَةٍ

Inti makna

Seandainya tidak memberatkan umat atau manusia, Nabi akan memerintahkan siwak pada setiap salat.

Kaitan dengan bait

Hadis mendukung kuatnya anjuran siwak; batas sesudah zawal merupakan penalaran fikih yang tidak disebut langsung dalam riwayat ini.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apakah zawal selalu berarti pukul 12.00 menurut jam setempat?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak. Zawal terkait posisi matahari dan awal waktu zuhur, yang berbeda menurut tempat dan tanggal.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

يسن

disunahkan

لا بعد زوال الصائم

tidak sesudah zawal bagi orang berpuasa

وأكدوه

dan mereka menekankannya

لانتباه النائم

untuk bangunnya orang tidur

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

يُسَنُّ لا بَعد زوالِ الصائِمِ

Buka penggal 2

وأكَّدُوهُ لانتباهِ النَّائِمِ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 108 — Siwak dan waktu orang berpuasaNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan