Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 117
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Pembatal wudu dan kepastian · Bait 117 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
كذا زوال العقل
demikian pula hilangnya akal/kesadaran
لا بنوم كل ممكن
kecuali tidur setiap orang yang mantap duduknya
ولمس مرأة رجل
dan sentuhan perempuan dengan laki-laki
Terjemahan bait 117

Demikian pula hilang akal, kecuali tidur orang yang menetapkan duduknya; dan sentuhan perempuan dengan laki-laki.

Syarah · keterangan lengkap

Hilang kemampuan membedakan

Zawal al-‘aql di sini membicarakan hilangnya fungsi kesadaran atau kemampuan membedakan, misalnya karena pingsan atau tidur yang termasuk pembatal. Ungkapan tersebut tidak dimaksudkan untuk merendahkan orang dengan kondisi tertentu. Fikih menilai keadaan bersucinya, bukan nilai pribadi orang itu. Mengantuk yang masih berbeda dari tidur mempunyai pembahasan tersendiri.

Tidur duduk mempunyai batas

Pengecualian diberikan pada orang yang duduk dengan bagian duduknya mantap pada tempatnya menurut penjelasan syarah. Bukan sekadar berada di kursi atau bersandar. Posisi berbaring tidak disamakan dengan pengecualian ini. Jika hanya ragu apakah benar-benar tidur, jangan menambah kepastian palsu; kaidah kepastian dan keraguan dibahas pada bait 119–121.

Sentuhan masih memerlukan lanjutan

Bagian akhir memperkenalkan sentuhan kulit antara laki-laki dan perempuan. Dalam mazhab yang dibahas, batas usia, hubungan mahram, dan ada-tidaknya penghalang perlu diperhatikan. Bait 118 melengkapi syarat itu. Sentuhan rambut atau kain tidak boleh langsung disamakan dengan sentuhan kulit yang memenuhi ketentuan, dan persoalan ini memiliki perbedaan antarmazhab.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 40. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

كذا زوال العقل لا بنوم كل ممكن

زوال dihubungkan kepada penyebab sebelumnya; العقل mudhaf ilaih. لا بنوم mengecualikan jenis tidur; كل mudhaf ilaih dan ممكن melengkapi idhafah, dengan مقعدته dipahami.

ولمس مرأة رجل

لمس masdar yang dihubungkan kepada daftar pembatal. مرأة sebagai mudhaf ilaih menunjukkan salah satu pihak; رجل melengkapi pihak yang disentuh dalam susunan masdar ini.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

زوال

Akar
ز و ل
Pola / bentuk
فَعَال

Masdar dari زال, hilangnya keadaan; bukan penilaian martabat seseorang.

ممكن

Akar
م ك ن
Pola / bentuk
مُفَعِّل

Isim fa‘il dari مكّن, orang yang memantapkan kedudukan bagian duduknya.

Hubungan bait

Bait 116 memulai pembatal wudu; bait ini menambahkan hilang kesadaran dan sentuhan. Ketentuan sentuhan baru lengkap pada bait 118.

Intisari & faedah
  1. Tidur duduk tidak selalu otomatis memenuhi pengecualian.
  2. Sentuhan kulit mempunyai batas yang dijelaskan pada bait berikutnya.
Contoh penerapan

Keadaan

Seseorang tertidur di kursi dan ingin mengetahui status wudunya.

Cara memahami

Ia memeriksa apakah posisi duduknya memenuhi ketentuan mantap, bukan sekadar nama tempat duduknya.

Batas penerapan

Keraguan tanpa bukti tidak langsung dijadikan kepastian batal.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS An-Nisaa 4:43

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْرَبُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا۟ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌۭ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءًۭ فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًۭا طَيِّبًۭا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Inti makna

Ayat menjelaskan beberapa ketentuan keadaan ketika mendekati salat dan keringanan tayamum saat memenuhi sebabnya.

Kaitan dengan bait

Ayat menjadi bagian dasar pembahasan bersuci dan sentuhan; pengertian sentuhan serta rincian tidur dijelaskan melalui dalil dan mazhab.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Mengapa kata duduk saja belum cukup untuk memastikan tidur tidak membatalkan?

Lihat pembahasan jawaban

Karena pengecualian berkaitan dengan mantapnya posisi duduk sesuai ketentuan, bukan hanya berada di kursi.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

كذا زوال العقل

demikian pula hilangnya akal/kesadaran

لا بنوم كل ممكن

kecuali tidur setiap orang yang mantap duduknya

ولمس مرأة رجل

dan sentuhan perempuan dengan laki-laki

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

كذا زوالُ العقلِ لا بِنَومِ كُلْ

Buka penggal 2

مُمَكِّنٍ ولَمْسُ مَرأَةٍ رَجُلْ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 117 — Hilang kesadaran, tidur, dan sentuhan kulitNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan