Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 12
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Iman, niat, dan amal · Bait 12 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
والنطق
dan pengucapan
بالشهادتين
dua kalimat syahadat
اعتبرا
diperhitungkan / disyaratkan
لصحة الإيمان
bagi sahnya iman
ممن قدرا
dari orang yang mampu
Terjemahan bait 12

Pengucapan dua kalimat syahadat diperhitungkan bagi sahnya iman, dari orang yang mampu [mengucapkannya].

Syarah · keterangan lengkap

Apa yang diucapkan?

Dua kalimat syahadat menyatakan bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Lafaz yang lazim ialah asyhadu an la ilaha illallah wa asyhadu anna Muhammadan rasulullah. Pengucapan bukan sekadar bunyi: maknanya diakui dengan hati. Hubungan ini ditegaskan pada awal bait 13, sehingga kedua bait harus dibaca bersama.

Kemampuan menjadi batas

Mimman qadara menunjukkan bahwa pembicaraan berlaku bagi yang mampu berbicara. Orang yang tidak dapat berbicara tidak dibebani mengeluarkan suara yang di luar kemampuannya; pengakuannya dapat dipahami melalui cara yang sesuai keadaan. Demikian juga rincian orang yang terhalang atau dipaksa tidak boleh dinilai hanya dari ketiadaan lafaz yang terdengar. Syariat memperhitungkan kemampuan serta keadaan nyata.

Keyakinan batin dan hukum lahir

Dalam pembahasan akidah terdapat rincian tentang kedudukan pengucapan terhadap iman dan penerapan hukum Islam di dunia. Matan memberikan rumusan ringkas yang kemudian diterangkan oleh ulama. Bagi pembaca, pelajaran praktisnya adalah memahami makna syahadat, mengucapkannya dengan kesadaran ketika masuk Islam, dan memegang konsekuensinya dalam hidup. Bait ini tidak menyatakan Muslim harus mengulang proses masuk Islam setiap kali akan beribadah, maupun mengizinkan orang lain memeriksa isi hatinya berdasarkan dugaan.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 9. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

والنطق بالشهادتين اعتبرا

النطقُ mubtada. بالشهادتين jar-majrur; الشهادتين majrur dengan ya karena mutsanna. اعتُبِرَ kata kerja pasif; kalimatnya menjadi khabar, dan alif akhirnya merupakan pelepas rima, bukan penanda dua pelaku.

لصحة الإيمان ممن قدرا

لصحة jar-majrur menyatakan kaitan dengan sahnya iman; الإيمان mudhaf ilaih. ممن berasal dari من dan مَن maushul. قدرَ adalah shilah yang menjelaskan orang mampu; alif akhirnya untuk rima. Syarat pembenaran hati berlanjut di bait 13.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

الشهادتين

Akar
ش ه د
Pola / bentuk
Mutsanna dari شَهَادَة

Bentuk dua dari شهادة. Akhiran ـين dipakai pada keadaan nashab dan jar untuk mutsanna.

اعتبرا

Akar
ع ب ر
Pola / bentuk
اُفْتُعِلَ + alif rima

Bentuk pasif dari اِعْتَبَرَ: diperhitungkan atau dianggap. Baca konteks agar alif rima tidak disangka bentuk ganda.

Hubungan bait

Bait ini menyebut pengakuan lisan, tetapi belum lengkap tanpa awal bait 13: إن صدق القلب. Keduanya membahas hubungan lisan dan hati.

Intisari & faedah
  1. Pengucapan dua syahadat dibahas bagi orang yang mampu mengucapkannya.
  2. Ketidakmampuan berbicara tidak disamakan dengan penolakan iman.
Contoh penerapan

Keadaan

Seseorang tidak dapat berbicara karena keadaan fisiknya.

Cara memahami

Penjelasan bait membaca batas ممن قدر: kewajiban lisan berkaitan dengan kemampuan.

Batas penerapan

Rincian penetapan status keagamaan tidak diselesaikan hanya dari satu penggal bait.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

Shahih al-Bukhari 8

Hadis dalam Shahih al-Bukhari; petikan awal riwayat. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

بُنِيَ الإِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللَّهِ

Inti makna

Islam dibangun atas lima perkara; petikan ini memuat syahadat sebagai bagian pertama. Riwayat lengkap meneruskan dengan salat, zakat, haji, dan puasa Ramadan.

Kaitan dengan bait

Hadis rukun Islam menyebut persaksian kepada Allah dan kerasulan Muhammad; pembahasan syarat kemampuan tetap mengikuti rincian fikih.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Mengapa الشهادتين memakai akhiran ـين?

Lihat pembahasan jawaban

Karena bentuk dua dan didahului ب sebagai huruf jar; ya menjadi tanda jar mutsanna.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

والنطق

dan pengucapan

بالشهادتين

dua kalimat syahadat

اعتبرا

diperhitungkan / disyaratkan

لصحة الإيمان

bagi sahnya iman

ممن قدرا

dari orang yang mampu

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

والنُطقُ بالشهادَتَيْن اعتُبِرَا

Buka penggal 2

لصِحَّة الايمان مِمَّن قَدَرَا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 12 — Syahadat bagi yang mampu mengucapkanNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan