Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 122
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Rukun dan syarat wudu · Bait 122 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
فروضه:
rukunnya (wudu)
النية
niat
واغسل وجهكا
dan basuhlah wajahmu
وغسلك اليدين
dan membasuh kedua tanganmu
مع مرفقكا
bersama sikumu
Terjemahan bait 122

Rukun wudu ialah niat, membasuh wajahmu, dan membasuh kedua tangan beserta sikumu.

Syarah · keterangan lengkap

Tiga rukun pertama

Pengarang mulai merinci enam rukun wudu dalam mazhab Syafi‘i. Pada bait ini disebut niat, membasuh wajah, dan membasuh kedua tangan beserta siku. Daftar belum selesai sampai bait 123. Kata membasuh menuntut air mengenai dan mengalir pada bagian yang dibasuh, sehingga sekadar mengusap dengan tangan hampir kering tidak otomatis menggantikannya.

Niat bersamaan dengan awal pembasuhan wajah

Niat adalah maksud hati untuk bersuci dari hadas atau melakukan bersuci yang membolehkan ibadah terkait. Ia disertakan pada awal bagian wajah yang dibasuh untuk wudu. Melafalkan kalimat tertentu bukan hakikat niat dan bukan syarat agar hati memiliki maksud. Pelajar tidak perlu mengulang lafaz berkali-kali ketika ia sudah mengetahui ibadah yang sedang dilakukan.

Batas wajah dan siku

Wajah dibasuh pada batas yang dijelaskan fikih, termasuk bagian rambut wajah yang wajib terkena air menurut keadaannya. Dalam pembasuhan tangan, kedua siku ikut dibasuh; menyiram hanya telapak atau berhenti jauh sebelum siku tidak mencukupi. Perincian rambut tebal dan penyelaannya diterangkan lagi pada bait 130 agar bagian wajib dan penyempurna tidak tertukar.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 41. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

فروضه النية واغسل وجهكا

فروضُه mubtada dan النية khabar pertama dalam daftar. اغسل perintah; وجهَك objek. Alif akhir وجهكا melayani rima, bukan kata ganti dua orang.

وغسلك اليدين مع مرفقكا

غسلُك masdar yang disambungkan dalam daftar; ك menunjukkan pelaku pada susunan masdar. اليدين objek masdar dengan tanda ya; مع مرفقك menyertakan siku dalam cakupan pembasuhan.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

النية

Akar
ن و ي
Pola / bentuk
فِعْلَة setelah perubahan huruf

Isim/masdar maksud hati; bentuk tampaknya mengalami peleburan huruf lemah.

اغسل

Akar
غ س ل
Pola / bentuk
اِفْعِلْ

Fi‘il amr dari غسل يغسل, membasuh.

Hubungan bait

Sesudah pembatal dan keraguan, pengarang menjelaskan cara wudu yang sah. Bait 123 melengkapi enam rukun, sedangkan 124–126 menjelaskan syarat.

Intisari & faedah
  1. Niat berada dalam hati dan menyertai awal pembasuhan wajah.
  2. Kedua siku termasuk bagian yang dibasuh.
Contoh penerapan

Keadaan

Seseorang sudah bermaksud wudu ketika mulai membasuh wajah, tetapi tidak mengucapkan niat.

Cara memahami

Ia tidak perlu menganggap niatnya tidak ada hanya karena tidak dilafalkan.

Batas penerapan

Maksud hati tetap harus ada; gerakan membasuh tanpa maksud ibadah tidak otomatis sama dengan wudu.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Al-Maaida 5:6

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًۭا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌۭ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءًۭ فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًۭا طَيِّبًۭا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍۢ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Inti makna

Perintah bersuci untuk salat melalui wudu, mandi bagi yang junub, serta tayamum ketika memenuhi sebabnya; Allah menghendaki penyucian dan kemudahan.

Kaitan dengan bait

Ayat secara langsung menyebut wajah dan tangan sampai siku dalam perintah wudu.

Buka sumber lengkap ↗

Shahih al-Bukhari 1

Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Inti makna

Amal dinilai dengan niat; setiap orang memperoleh menurut niatnya.

Kaitan dengan bait

Hadis niat menjadi dasar penting unsur maksud hati dalam ibadah.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apakah mengucapkan lafaz niat merupakan hakikat niat wudu?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak. Hakikat niat adalah maksud dalam hati, yang disertakan pada awal pembasuhan wajah.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

فروضه:

rukunnya (wudu)

النية

niat

واغسل وجهكا

dan basuhlah wajahmu

وغسلك اليدين

dan membasuh kedua tanganmu

مع مرفقكا

bersama sikumu

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

فُرُوضه: النِّيَّةُ واغسِل وَجْهَكَا

Buka penggal 2

وغَسْلُكَ اليدينِ مَعْ مِرْفَقِكَا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 122 — Niat, membasuh wajah, dan kedua tanganNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan