Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 130
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Sunah dan adab wudu · Bait 130 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
وخللن
dan selalah
أصابع اليدين
jari-jari kedua tangan
واللحية الكثة
dan janggut yang tebal
والرجلين
dan (jari-jari) kedua kaki
Terjemahan bait 130

Selalah jari-jari kedua tangan, janggut yang tebal, dan jari-jari kedua kaki.

Syarah · keterangan lengkap

Takhlil membantu pemerataan

Takhlil ialah memasukkan jari atau menggerakkan air pada sela agar pembasuhan dan usapan yang dibahas menjadi lebih sempurna. Pengarang menyebut sela jari tangan dan kaki, serta janggut tebal dalam batasnya. Pelajar perlu melihat keadaan nyata: ada sela yang sudah terbasuh tanpa perlu bantuan khusus, ada pula yang tidak terjangkau kecuali dengan penyelaan.

Sunah dapat menjadi jalan memenuhi wajib

Jika air tidak mencapai bagian yang wajib dibasuh tanpa tindakan menyela, tindakan itu diperlukan untuk memenuhi kewajiban pemerataan air. Jadi label sunah pada takhlil tidak boleh dipakai sebagai alasan membiarkan bagian wajib tetap kering. Sebaliknya, bila air sudah mencapai semua bagian, pelaksanaan takhlil dibaca sebagai penyempurna menurut ketentuannya.

Janggut tebal mempunyai rincian sendiri

Syarah membedakan janggut laki-laki yang tebal dari rambut wajah tipis yang kulitnya tampak. Rincian mengenai permukaan dan pangkal rambut mengikuti bab pembasuhan wajah; bukan semua rambut wajah memperoleh pengecualian yang sama. Ketika mandi wajib, rambut tebal pun mempunyai tuntutan pemerataan tersendiri. Karena itu, ketentuan wudu jangan dipindahkan begitu saja kepada mandi.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 43. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

وخللن أصابع اليدين

خلّلَنّ perintah yang ditegaskan nun; أصابع objek dan اليدين mudhaf ilaih bertanda ya. Penegasan tidak menghapus konteks daftar sunah.

واللحية الكثة والرجلين

اللحية dihubungkan kepada objek, الكثة sifatnya. الرجلين melengkapi makna jari-jari kedua kaki dengan أصابع yang dipahami dari penggal pertama.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

الكثة

Akar
ك ث ث
Pola / bentuk
فَعْلَة sebelum idgham

Sifat janggut yang tebal/rimbun; maknanya menentukan rincian pembasuhan.

أصابع

Akar
ص ب ع
Pola / bentuk
أَفَاعِل

Jamak taksir dari إصبع, jari.

Hubungan bait

Penyempurna wudu pada bait 127–129 diteruskan dengan penyelaan. Bandingkan pembasuhan wajah pada bait 122 dan pemerataan rambut saat mandi pada bait 164.

Intisari & faedah
  1. Bagian wajib yang kering tidak boleh ditinggalkan dengan alasan takhlil biasanya sunah.
  2. Rambut tipis, janggut tebal, dan rambut dalam mandi wajib memiliki rincian berbeda.
Contoh penerapan

Keadaan

Air tidak mencapai sela jari karena rapat, kecuali ketika disela.

Cara memahami

Penyelaan dilakukan agar pembasuhan wajib benar-benar merata.

Batas penerapan

Bila air sudah merata, jangan mengada-adakan kekeringan hanya berdasarkan waswas.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Al-Maaida 5:6

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًۭا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌۭ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءًۭ فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًۭا طَيِّبًۭا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍۢ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Inti makna

Perintah bersuci untuk salat melalui wudu, mandi bagi yang junub, serta tayamum ketika memenuhi sebabnya; Allah menghendaki penyucian dan kemudahan.

Kaitan dengan bait

Perintah membasuh anggota menjadi dasar pemerataan; rincian takhlil sebagai penyempurna atau cara memenuhi wajib diterangkan syarah.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Kapan menyela jari menjadi perlu untuk menyelesaikan wudu?

Lihat pembahasan jawaban

Ketika air tidak mencapai bagian wajib tanpa penyelaan, sehingga kewajiban pembasuhan belum terpenuhi.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

وخللن

dan selalah

أصابع اليدين

jari-jari kedua tangan

واللحية الكثة

dan janggut yang tebal

والرجلين

dan (jari-jari) kedua kaki

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

وخَلِّلَن أصابِعَ اليَدَينِ

Buka penggal 2

والِّلحيَةَ الكَثَّةَ والرِّجْلَينِ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 130 — Menyela jari dan janggut tebalNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan