Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 138
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Sunah dan adab wudu · Bait 138 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
ويبتدي اليدين
dan memulai kedua tangan
بالكفين
dari kedua telapak
وبأصابع من الرجلين
dan dari jari-jari kedua kaki
Terjemahan bait 138

Mulailah pembasuhan kedua tangan dari kedua telapak, dan kedua kaki dari jari-jarinya.

Syarah · keterangan lengkap

Arah pelaksanaan pada anggota

Bait ini menerangkan cara memulai pembasuhan tangan dan kaki sebagai adab, bukan mengganti batas bagian yang wajib terbasuh. Pada tangan, permulaan dari telapak lalu ke arah siku membantu pelaksanaan teratur. Pada kaki, permulaan dari jari-jari membantu perhatian pada ujung dan sela yang mudah terlewat jika air hanya disiram pada bagian atas.

Batas wajib tetap harus tercapai

Meskipun memulai dari telapak atau jari, seluruh bagian wajib tetap dibasuh sampai batas siku atau mata kaki sebagaimana bait 122–123. Cara memulai tidak cukup apabila ujung pembasuhan berhenti sebelum batas. Sebaliknya, memulai dari arah lain tidak langsung menjadikan wudu tidak sah ketika seluruh kewajiban sudah terpenuhi.

Arah air bukan syarat baru

Air dari keran, gayung, atau bantuan orang lain dapat datang dari arah berbeda. Pelajar memanfaatkan cara yang memudahkan pemerataan tanpa mengganggu orang lain dan tanpa pemborosan. Tidak perlu mengulang hanya karena arah tetesan pertama tidak persis seperti yang dibayangkan. Bedakan adab memulai, sunah kanan lebih dahulu, dan tertib antaranggota agar masing-masing ditempatkan dengan tepat.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 45. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

ويبتدي اليدين بالكفين

يبتدي ialah يبتدئ dalam ejaan yang diringankan; fi‘il dengan pelaku tersirat. اليدين objek dalam makna memulai pembasuhannya, بالكفين menunjukkan titik permulaan.

وبأصابع من الرجلين

بأصابع dihubungkan kepada بالكفين; من الرجلين memperjelas bahwa jari yang dimaksud ialah jari kaki, dengan tanda jar ya pada bentuk dua.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

الكفين

Akar
ك ف ف
Pola / bentuk
Mutsanna dari كَفّ

Bentuk dua telapak, dengan ya pada keadaan jar.

يبتدي

Akar
ب د أ
Pola / bentuk
يَفْتَعِلُ

Mudhari‘ dari ابتدأ; hamzah akhir diringankan penulisannya dalam nazam.

Hubungan bait

Ini lanjutan adab tempat pada bait 137. Hubungkan cara memulai dengan batas wajib pada bait 122–123 dan kanan-kiri pada bait 131.

Intisari & faedah
  1. Arah memulai tidak mengurangi batas bagian yang wajib dibasuh.
  2. Adab arah, sunah kanan, dan tertib anggota merupakan tiga hal berbeda.
Contoh penerapan

Keadaan

Seseorang memulai pembasuhan tangan dari dekat siku tetapi akhirnya meratakan seluruh bagian wajib.

Cara memahami

Ia membedakan adab yang terlewat dari pembasuhan yang sah.

Batas penerapan

Jika ada bagian nyata yang belum terkena air, bagian itu tetap diperbaiki menurut ketentuan.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Al-Maaida 5:6

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًۭا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌۭ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءًۭ فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًۭا طَيِّبًۭا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍۢ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Inti makna

Perintah bersuci untuk salat melalui wudu, mandi bagi yang junub, serta tayamum ketika memenuhi sebabnya; Allah menghendaki penyucian dan kemudahan.

Kaitan dengan bait

Ayat menetapkan anggota dan batas pembasuhan; adab memulai diperinci oleh syarah.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apakah memulai dari telapak menggantikan keharusan membasuh sampai siku?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak. Permulaan hanya cara pelaksanaan; seluruh batas wajib tetap harus terkena air.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

ويبتدي اليدين

dan memulai kedua tangan

بالكفين

dari kedua telapak

وبأصابع من الرجلين

dan dari jari-jari kedua kaki

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

ويَبتَدِي اليدَينِ بالكَفَّيْنِ

Buka penggal 2

وبأصابعٍ من الرِّجْلَيْنِ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 138 — Memulai tangan dari telapak dan kaki dari jariNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan