Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 149
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Istinja dan adab buang hajat · Bait 149 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
يجزيء ماء
mencukupi air
أو ثلاث أحجار
atau tiga batu
ينقي بها عينا
yang dengannya membersihkan zat najis
وسن الإيتار
dan disunahkan berjumlah ganjil
Terjemahan bait 149

Mencukupi air atau tiga batu yang dengannya zat najis dibersihkan; dan disunahkan berjumlah ganjil.

Syarah · keterangan lengkap

Dua cara yang perlu dipahami tepat

Air yang menyucikan dapat digunakan sampai najis hilang menurut ketentuan. Cara pengusapan dengan batu atau penggantinya merupakan keringanan dengan syarat tersendiri. Minimal tiga usapan yang diperhitungkan harus dipenuhi sekaligus tercapai pembersihan. Tiga kali yang masih menyisakan kotoran yang dapat dihilangkan bukan alasan berhenti hanya karena angka minimal sudah tercapai.

Minimal dan bersih harus bersama

Jika sudah bersih sebelum tiga, jumlah minimal tetap dilengkapi. Jika belum bersih setelah tiga, tambah sampai bersih. Sisa yang ditoleransi pada cara pengusapan mempunyai ukuran fikih; ia tidak disamakan dengan sisa besar yang sengaja dibiarkan. Ketentuan ini berbeda dari memakai air, yang fokusnya pada tercapainya penyucian, bukan kewajiban tiga batu.

Ganjil sebagai penyempurna setelah bersih

Bila pembersihan tercapai pada jumlah genap, menambahkan satu untuk menjadi ganjil disebut sunah. Anjuran ganjil tidak membolehkan berhenti pada bilangan ganjil yang belum membersihkan. Bait berikut menjelaskan bahwa tiga permukaan bersih pada satu benda dapat mengambil fungsi tiga batu, sehingga pembaca tidak terikat pada jumlah bendanya saja.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 48. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

يجزيء ماء أو ثلاث أحجار

يجزيء fi‘il, ماء fa‘il, dan ثلاث أحجار disambungkan dengan أو yang menunjukkan pilihan cara bersyarat.

ينقي بها عينا وسن الإيتار

ينقي menerangkan tercapainya pembersihan dengan alat; عينا objek. سُنّ pasif dan الإيتار نائب فاعل.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

ينقي

Akar
ن ق ي
Pola / bentuk
يُفْعِلُ

Mudhari‘ dari أنقى, membersihkan sampai hilang kotoran yang diperhitungkan.

الإيتار

Akar
و ت ر
Pola / bentuk
إِفْعَال dengan i‘lal

Masdar dari أوتر, menjadikan bilangan ganjil.

Hubungan bait

Bait 148 menyebut cara gabungan yang disunahkan; bait ini menetapkan kecukupan masing-masing cara. Bentuk alat dan syaratnya diteruskan pada bait 150–151.

Intisari & faedah
  1. Pada cara batu, minimal tiga dan tercapainya pembersihan harus sama-sama dipenuhi.
  2. Ganjil merupakan penyempurna setelah bersih, bukan pengganti kebersihan.
Contoh penerapan

Keadaan

Setelah tiga usapan masih ada kotoran yang dapat dibersihkan.

Cara memahami

Pembersihan dilanjutkan sampai mencukupi, lalu diperhatikan anjuran ganjil.

Batas penerapan

Jika syarat memakai pengusap tidak terpenuhi, gunakan air sesuai ketentuan.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

Shahih Muslim 262a

Hadis dalam Shahih Muslim. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

لَقَدْ نَهَانَا أَنْ نَسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةَ لِغَائِطٍ أَوْ بَوْلٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِالْيَمِينِ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِأَقَلَّ مِنْ ثَلاَثَةِ أَحْجَارٍ أَوْ أَنْ نَسْتَنْجِيَ بِرَجِيعٍ أَوْ بِعَظْمٍ

Inti makna

Salman meriwayatkan larangan menghadap kiblat saat buang hajat, menggunakan tangan kanan untuk istinja, mencukupkan kurang dari tiga batu, serta memakai kotoran hewan atau tulang. Pengecualian dan rincian penerapannya dibahas melalui fikih.

Kaitan dengan bait

Hadis menyebut larangan mencukupkan kurang dari tiga batu dalam konteks istinja dengan batu.

Buka sumber lengkap ↗

Shahih al-Bukhari 161

Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

وَمَنِ اسْتَجْمَرَ فَلْيُوتِرْ

Inti makna

Siapa yang membersihkan dengan batu hendaklah mengganjilkan jumlahnya, dengan ketentuan tercapainya pembersihan.

Kaitan dengan bait

Riwayat menyebut anjuran mengganjilkan ketika beristijmar.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Bolehkah berhenti pada tiga usapan bila kotoran yang harus dihilangkan masih ada?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak. Jumlah minimal dan tercapainya pembersihan harus terpenuhi bersama.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

يجزيء ماء

mencukupi air

أو ثلاث أحجار

atau tiga batu

ينقي بها عينا

yang dengannya membersihkan zat najis

وسن الإيتار

dan disunahkan berjumlah ganjil

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

يُجْزِيءُ ماءٌ أو ثلاثُ أحجارْ

Buka penggal 2

يُنْقِي بها عَيْنَا وسُنَّ الإيتارْ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 149 — Air atau tiga usapan yang membersihkanNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan