Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 160
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Sebab dan rukun mandi · Bait 160 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
موجبه
yang mewajibkannya
المني حين يخرج
mani ketika keluar
والموت
dan kematian
والكمرة حيث تولج
dan kepala kemaluan ketika dimasukkan
Terjemahan bait 160

Yang mewajibkannya ialah keluarnya mani, kematian, dan kepala kemaluan ketika dimasukkan—

Syarah · keterangan lengkap

Bab mandi dimulai dari sebab

Mandi dalam bab ini adalah bersuci yang mempunyai niat dan cakupan tertentu, bukan sekadar membasahi tubuh untuk menyegarkan diri. Keluarnya mani seseorang sendiri merupakan salah satu sebabnya menurut perincian yang akan dijelaskan. Mimpi tanpa tanda keluarnya cairan tidak otomatis disamakan dengan keluarnya mani; yang dinilai ialah kejadian yang diketahui, bukan isi mimpi saja.

Kematian dan kewajiban orang yang hidup

Penyebutan kematian berkaitan dengan kewajiban memandikan jenazah bagi pihak yang hidup, dengan pengecualian dan rincian bab jenazah. Ia bukan beban baru bagi orang yang telah meninggal. Matan menyatukan sebab-sebab terkait mandi, tetapi pelaksana dan kedudukan hukumnya tidak seluruhnya sama. Karena itu, pelajar perlu memisahkan mandi dirinya dari pengurusan jenazah.

Kalimat hubungan badan bersambung

Bagian akhir menyebut kategori hubungan badan yang mewajibkan mandi meskipun tidak disertai keluarnya mani; objek kalimat baru lengkap pada bait 161. Penjelasan diberikan sebagai hukum bersuci, tanpa memerlukan gambaran yang rinci. Penetapan akibat berupa kewajiban mandi tidak dengan sendirinya menyatakan semua keadaan perbuatan itu dibolehkan; hukum perbuatannya dinilai tersendiri.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 52. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

موجبه المني حين يخرج

موجبه mubtada dan المني khabar. حين zharaf yang diikuti يخرج, membatasi sebab pada keluarnya mani.

والموت والكمرة حيث تولج

الموت والكمرة menyambung daftar sebab. حيث تولج menerangkan keadaan, dengan تُولج pasif; objek tempat dilanjutkan pada bait 161.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

موجبه

Akar
و ج ب
Pola / bentuk
مُفْعِل

Isim fa‘il dari أوجب, hal yang mewajibkan.

تولج

Akar
و ل ج
Pola / bentuk
تُفْعَلُ

Mudhari‘ pasif dari أولج, dimasukkan; istilah dipakai dalam batas hukum bersuci.

Hubungan bait

Bab istinja berakhir pada bait 159. Daftar sebab mandi bersambung pada bait 161, tanda mani pada bait 162, dan rukun mandi pada bait 164–165.

Intisari & faedah
  1. Mandi ibadah memiliki sebab, niat, dan cakupan yang berbeda dari mandi biasa.
  2. Penyebutan kematian berkaitan dengan pengurusan jenazah oleh orang yang hidup.
Contoh penerapan

Keadaan

Seseorang bermimpi tetapi tidak menemukan tanda keluarnya mani.

Cara memahami

Ia membedakan mimpi saja dari sebab mandi yang benar-benar terjadi.

Batas penerapan

Tidak menetapkan hadas besar hanya dari kekhawatiran tanpa tanda yang diperhitungkan.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Al-Maaida 5:6

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًۭا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌۭ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءًۭ فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًۭا طَيِّبًۭا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍۢ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Inti makna

Perintah bersuci untuk salat melalui wudu, mandi bagi yang junub, serta tayamum ketika memenuhi sebabnya; Allah menghendaki penyucian dan kemudahan.

Kaitan dengan bait

Ayat memerintahkan bersuci ketika junub; sebab dan rincian pelaksanaannya dijelaskan dalam hadis serta fikih.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apakah mandi setelah kematian berarti orang yang meninggal mendapat kewajiban baru untuk melakukannya sendiri?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak. Itu berkaitan dengan kewajiban pengurusan jenazah bagi orang yang hidup menurut ketentuannya.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

موجبه

yang mewajibkannya

المني حين يخرج

mani ketika keluar

والموت

dan kematian

والكمرة حيث تولج

dan kepala kemaluan ketika dimasukkan

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

مُوجِبُهُ المَنِيُّ حين يَخرُجُ

Buka penggal 2

والموتُ والكَمْرَةُ حيثُ تُولَجُ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 160 — Sebab yang mewajibkan mandiNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan