Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 161
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Sebab dan rukun mandi · Bait 161 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
فرجا
ke dalam kemaluan
ولو ميتا
sekalipun terkait tubuh yang telah meninggal
بلا إعادة
tanpa mengulang mandi jenazah
والحيض والنفاس والولادة
dan haid, nifas, serta melahirkan
Terjemahan bait 161

Ke dalam kemaluan, sekalipun terkait tubuh yang telah meninggal tanpa mengulang mandi jenazah; juga haid, nifas, dan melahirkan.

Syarah · keterangan lengkap

Menyelesaikan kalimat sebelumnya

Kata pertama melengkapi kategori hubungan badan pada bait 160. Matan juga menyebut kasus batas yang melibatkan jenazah untuk menjelaskan akibat bersuci pada orang yang hidup dan tidak diulangnya mandi jenazah. Ini keterangan hukum dalam teks klasik, bukan pembolehan menyakiti atau merendahkan tubuh siapa pun. Tidak diperlukan rincian tindakan untuk memahami perbedaan akibat hukumnya.

Haid dan nifas

Sesudah haid atau nifas berhenti, mandi diperlukan sebelum melaksanakan ibadah yang mensyaratkan suci dari hadas besar. Berhentinya darah dan waktu pelaksanaan ibadah harus diperhatikan sesuai babnya. Sekadar mandi ketika darah masih berada dalam masa yang dihukumi haid tidak otomatis mengubah status menjadi suci. Perbedaan haid, nifas, dan istihadhah mempunyai ketentuan tersendiri yang tidak diselesaikan hanya dengan satu bait.

Melahirkan sebagai sebab tersendiri

Dalam pembahasan mazhab ini, melahirkan dicantumkan sebagai sebab mandi, termasuk rincian keadaan tanpa darah nifas. Ini tidak menuntut ibu yang sakit atau belum mampu menggunakan air memaksakan tindakan yang membahayakan. Hukum bersuci menyesuaikan keadaan nyata dan ketentuan uzur. Penjelasan klasik tentang sebab tidak diperlakukan sebagai uraian medis mengenai proses reproduksi.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 52. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

فرجا ولو ميتا بلا إعادة

فرجا objek tempat bagi تولج pada bait sebelumnya. ولو ميتا memasukkan kasus batas dalam syarah; بلا إعادة meniadakan pengulangan mandi jenazah dalam kasus tersebut.

والحيض والنفاس والولادة

Ketiga isim dihubungkan kepada daftar sebab mandi pada bait 160, bukan kalimat yang berdiri tanpa hubungan.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

إعادة

Akar
ع و د
Pola / bentuk
إِفْعَال dengan i‘lal

Masdar dari أعاد, mengulang; maknanya dibatasi oleh konteks mandi jenazah.

الولادة

Akar
و ل د
Pola / bentuk
فِعَالَة

Masdar dari ولد yang menunjuk peristiwa melahirkan.

Hubungan bait

Ini kelanjutan daftar pada bait 160. Sesudah tanda mani di bait 162–163, rukun dan niat mandi dijelaskan pada bait 164–165.

Intisari & faedah
  1. Akibat berupa kewajiban mandi tidak menyatakan perbuatan penyebabnya selalu dibolehkan.
  2. Haid, nifas, dan melahirkan memiliki perincian status serta kemampuan bersuci.
Contoh penerapan

Keadaan

Haid seseorang telah berhenti dan ia hendak kembali salat.

Cara memahami

Ia mempelajari mandi yang memenuhi niat dan pemerataan air.

Batas penerapan

Jika ada sakit atau ketidakmampuan memakai air, ketentuan uzur diperiksa tanpa memaksakan bahaya.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Al-Maaida 5:6

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًۭا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌۭ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءًۭ فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًۭا طَيِّبًۭا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍۢ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Inti makna

Perintah bersuci untuk salat melalui wudu, mandi bagi yang junub, serta tayamum ketika memenuhi sebabnya; Allah menghendaki penyucian dan kemudahan.

Kaitan dengan bait

Dasar bersuci dari hadas besar; rincian sebab dan keadaan perempuan dibaca bersama hadis serta syarah.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apakah mandi saat darah masih dihukumi haid otomatis mengakhiri status haid?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak. Status darah dan berhentinya haid harus ditentukan sesuai ketentuannya; mandi saja tidak mengubahnya.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

فرجا

ke dalam kemaluan

ولو ميتا

sekalipun terkait tubuh yang telah meninggal

بلا إعادة

tanpa mengulang mandi jenazah

والحيض والنفاس والولادة

dan haid, nifas, serta melahirkan

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

فَرْجَا ولو مَيْتَا بلا إعادَهْ

Buka penggal 2

والحَيْضُ والنِّفاسُ والوِلادَهْ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 161 — Kelanjutan sebab mandi: haid, nifas, dan melahirkanNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan