Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 167
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Sunah mandi dan adabnya · Bait 167 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
وسن باسم الله
dan disunahkan membaca basmalah
وارفع قذرا
dan hilangkan kotoran
ثم الوضو
kemudian wudu
والرجل لن تؤخرا
dan jangan menunda pembasuhan kaki
Terjemahan bait 167

Disunahkan membaca basmalah dan menghilangkan kotoran, kemudian berwudu; jangan menunda pembasuhan kaki.

Syarah · keterangan lengkap

Persiapan mandi yang teratur

Sesudah syarat dan kewajiban, pengarang menerangkan sunah mandi. Basmalah dibaca pada awal sebagai zikir, lalu kotoran dibersihkan sebelum pembasuhan menyeluruh. Qadzar di sini dapat mencakup sesuatu yang tidak najis tetapi layak dibersihkan. Jika benda itu menjadi penghalang air atau berupa najis, kewajiban menghilangkannya mengikuti sebabnya, bukan sekadar status sunah dalam daftar persiapan.

Wudu sebagai penyempurna mandi

Riwayat menggambarkan wudu seperti untuk salat sebelum mandi janabah. Dalam bab ini, wudu tersebut menjadi sunah yang menyertai mandi, bukan berarti mandi wajib selalu tidak sah bila wudu terpisah tidak dilakukan. Keabsahan mandi dilihat dari niat, pemerataan, dan syaratnya. Keadaan hadas kecil yang terjadi selama atau sesudah mandi tetap perlu diperhatikan ketika akan salat.

Pembasuhan kaki menurut pilihan yang diterangkan

Pengarang memilih mendahulukan wudu secara lengkap, termasuk kedua kaki. Syarah menerangkan bahwa kesunahan wudu dapat diperoleh dengan pengaturan lain menurut perinciannya, tetapi menyelesaikannya lebih dahulu dipandang utama di sini. Maka jangan menilai orang yang mengikuti riwayat penundaan kaki selalu salah. Pelajari konteks cara pelaksanaan dan tujuan kebersihan tempat mandi.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 54. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

وسن باسم الله وارفع قذرا

سن pasif dengan basmalah sebagai praktik yang dipahami; ارفع perintah dan قذرا objeknya.

ثم الوضو والرجل لن تؤخرا

الوضو melanjutkan daftar sunah dengan urutan ثم. الرجل objek yang didahulukan bagi تؤخر; alif akhir untuk rima.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

قذرا

Akar
ق ذ ر
Pola / bentuk
فَعَل

Isim yang menunjuk kotoran secara umum; tidak selalu identik dengan najis.

تؤخرا

Akar
أ خ ر
Pola / bentuk
تُفَعِّلُ + alif rima

Mudhari‘ dari أخّر, menunda sesuatu ke bagian akhir.

Hubungan bait

Syarat menghilangkan najis pada bait 166 dibedakan dari persiapan sunah. Niat wudu yang menyertai mandi akan dijelaskan khusus pada bait 169.

Intisari & faedah
  1. Kotoran suci, najis, dan penghalang air dapat mempunyai akibat hukum berbeda.
  2. Wudu sebelum mandi merupakan penyempurna yang perlu dibaca bersama keadaan hadasnya.
Contoh penerapan

Keadaan

Pelajar berwudu lengkap sebelum mandi wajib sesuai cara dalam matan.

Cara memahami

Ia memahami urutan sebagai penyempurna mandi.

Batas penerapan

Jangan menyatakan mandi orang lain tidak sah hanya karena ia memakai urutan kaki yang berbeda sesuai perincian riwayat.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

Shahih al-Bukhari 248

Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Inti makna

Aisyah menggambarkan mandi Nabi: setelah mencuci tangan dan berwudu, beliau menyela akar rambut, menuangkan tiga curahan pada kepala, lalu meratakan air ke seluruh kulit tubuh.

Kaitan dengan bait

Riwayat menggambarkan mencuci tangan dan berwudu seperti untuk salat sebelum mandi janabah.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apakah semua qadzar pada bait ini pasti najis?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak. Qadzar dapat berarti kotoran umum; status najis atau penghalang air dinilai tersendiri.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

وسن باسم الله

dan disunahkan membaca basmalah

وارفع قذرا

dan hilangkan kotoran

ثم الوضو

kemudian wudu

والرجل لن تؤخرا

dan jangan menunda pembasuhan kaki

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

وسُنَّ باسمِ اللهِ وارفَعْ قَذَرَا

Buka penggal 2

ثم الوُضُو والرِّجْلَ لَن تُؤَخِّرَا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 167 — Basmalah, membersihkan kotoran, dan wudu sebelum mandiNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan