Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 169
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Sunah mandi dan adabnya · Bait 169 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
وسنة الغسل نوى
dan ia berniat sunah mandi
لأكبرا جرد عن ضد
untuk hadas besar yang tidak disertai lawannya
وإلا الأصغرا
dan jika tidak demikian, hadas kecil
Terjemahan bait 169

Ia berniat sunah mandi untuk hadas besar yang tidak disertai lawannya; jika tidak demikian, ia berniat mengangkat hadas kecil.

Syarah · keterangan lengkap

Subjeknya adalah wudu dalam rangkaian mandi

Bait ini perlu dibaca bersama wudu yang disunahkan pada bait 167. Ia menjelaskan niat wudu tersebut, bukan mengatakan mandi janabah cukup diniatkan sebagai sunah. Rukun niat mandi wajib sudah dijelaskan pada bait 165 dan tetap berlaku. Mengambil kalimat sunah mandi tanpa konteks dapat mengubah maksud hukum secara keliru.

Ketika hanya ada hadas besar

Syarah membahas keadaan hadas besar yang tidak disertai hadas kecil. Untuk wudu yang menjadi penyempurna mandi pada keadaan itu, maksudnya ialah melakukan sunah mandi. Tidak ada hadas kecil yang sedang diangkat melalui wudu tersebut. Klasifikasi ini merupakan pembahasan hubungan dua keadaan hadas, bukan tuntutan agar pelajar menciptakan keadaan khusus sebelum mandi.

Ketika dua hadas berkumpul

Jika hadas kecil juga ada, niat wudunya diarahkan kepada pengangkatan hadas kecil menurut perincian syarah. Setelah itu, niat mandi wajib tetap disertakan pada awal pembasuhan yang diperhitungkan untuk hadas besar. Bila terjadi pembatal wudu selama mandi, keadaan untuk salat perlu dinilai kembali. Pisahkan fungsi wudu dan mandi agar tidak tertukar.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 55. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

وسنة الغسل نوى لأكبرا

سنة الغسل objek yang didahulukan bagi نوى. لأكبر menunjuk hadas besar; alif akhirnya untuk rima dalam nazam.

جرد عن ضد وإلا الأصغرا

جُرّد fi‘il pasif yang menerangkan hadas besar tanpa hadas kecil. وإلا membuka keadaan sebaliknya; الأصغر objek niat yang fi‘ilnya dipahami.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

جرد

Akar
ج ر د
Pola / bentuk
فُعِّلَ

Fi‘il pasif dari جرّد, dipisahkan atau tidak disertai sesuatu yang lain.

الأصغر

Akar
ص غ ر
Pola / bentuk
أَفْعَل

Isim tafdhil yang menjadi istilah hadas kecil dalam perbandingan dengan hadas besar.

Hubungan bait

Wudu sunah pada bait 167 menjadi pokok penjelasan ini. Jangan mencampurkannya dengan niat mandi wajib pada bait 165 atau penggabungan dua mandi pada bait 168.

Intisari & faedah
  1. Bait ini menjelaskan niat wudu yang menyertai mandi.
  2. Niat mandi wajib pada bait 165 tetap mempunyai fungsi tersendiri.
Contoh penerapan

Keadaan

Pelajar membaca “sunah mandi” lalu mengira janabah cukup diatasi dengan niat sunah.

Cara memahami

Ia menelusuri hubungan bait dan memahami bahwa pembahasan ini mengenai wudu pengiring mandi.

Batas penerapan

Tidak mengganti niat mandi wajib dengan niat sunah hanya karena satu frasa terlepas dari konteks.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

Shahih al-Bukhari 248

Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

ثُمَّ يُدْخِلُ أَصَابِعَهُ فِي الْمَاءِ، فَيُخَلِّلُ بِهَا أُصُولَ شَعَرِهِ ثُمَّ يَصُبُّ عَلَى رَأْسِهِ ثَلاَثَ غُرَفٍ بِيَدَيْهِ، ثُمَّ يُفِيضُ الْمَاءَ عَلَى جِلْدِهِ كُلِّهِ

Inti makna

Aisyah menggambarkan mandi Nabi: setelah mencuci tangan dan berwudu, beliau menyela akar rambut, menuangkan tiga curahan pada kepala, lalu meratakan air ke seluruh kulit tubuh.

Kaitan dengan bait

Riwayat menunjukkan adanya wudu dalam rangkaian mandi; rincian niatnya dijelaskan oleh syarah.

Buka sumber lengkap ↗

Shahih al-Bukhari 1

Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Inti makna

Amal dinilai dengan niat; setiap orang memperoleh menurut niatnya.

Kaitan dengan bait

Penguat kedudukan maksud yang sesuai dengan ibadah yang sedang dilakukan.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apakah bait ini mengubah niat mandi janabah menjadi sekadar niat sunah?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak. Bait ini mengatur niat wudu yang menyertai mandi; niat mandi wajib tetap mengikuti bait 165.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

وسنة الغسل نوى

dan ia berniat sunah mandi

لأكبرا جرد عن ضد

untuk hadas besar yang tidak disertai lawannya

وإلا الأصغرا

dan jika tidak demikian, hadas kecil

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

وسُنَّةَ الغُسْلِ نوى لأَكبَرَا

Buka penggal 2

جُرِّدَ عن ضِدٍّ وإلا الأَصغَرَا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 169 — Niat wudu yang menyertai mandiNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan