Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 171
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Sunah mandi dan adabnya · Bait 171 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
وتتبع الحيض بمسك
dan mengikuti pembersihan bekas haid dengan misk
والولا
dan berkesinambungan
مسنونه حضور جمعة
mandi sunahnya untuk menghadiri Jumat
كلا
kedua
Terjemahan bait 171

Ia mengikuti pembersihan bekas haid dengan misk; dan berkesinambungan disunahkan. Di antara mandi sunah ialah untuk menghadiri Jumat dan kedua—

Syarah · keterangan lengkap

Misk dalam konteks teks klasik

Bagian pertama menjelaskan adab setelah mandi haid, dengan misk sebagai wewangian yang dikenal pada masa itu untuk bekas darah yang dibersihkan. Ini penyempurna, bukan syarat sah mandi atau kewajiban memakai produk tertentu. Aplikasi menyajikannya sebagai penjelasan teks, bukan petunjuk memasukkan parfum ke bagian dalam tubuh. Mandi tetap sah ketika niat, pemerataan, dan syarat telah terpenuhi tanpa wewangian.

Kesinambungan pelaksanaan

Wala’ berarti menyambung rangkaian mandi tanpa jeda panjang menurut pembahasan fikih. Ia membantu keteraturan sebagaimana pada wudu. Jangan mengubahnya menjadi aturan bahwa setiap jeda singkat untuk menyesuaikan air membatalkan mandi. Keadaan uzur dan kebutuhan nyata diperhitungkan; yang pokok tetap terlaksananya kewajiban dengan cara yang benar.

Peralihan ke mandi yang disunahkan

Sesudah sunah dalam pelaksanaan mandi, pengarang beralih ke jenis mandi yang disunahkan karena sebab tertentu. Yang pertama ialah bagi orang yang akan menghadiri Jumat. Kata kila pada akhir bait membuka kedua hari raya yang disebut pada bait 172. Peralihan ini perlu diperhatikan: sunah cara mandi berbeda dari mandi yang hukum asalnya sunah.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 55. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

وتتبع الحيض بمسك والولا

تُتبع fi‘il dengan pelaku perempuan dalam konteks mandi haid; الحيض dipahami sebagai bekasnya. الولا menyambung daftar sunah pelaksanaan.

مسنونه حضور جمعة كلا

مسنونه membuka daftar sebab mandi sunah; حضور جمعة dipahami sebagai mandi untuk menghadirinya. كلا bersambung dengan عيدين pada bait berikut.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

مسك

Akar
م س ك
Pola / bentuk
Isim jamid مِسْك (nama wewangian)

Nama wewangian misk; arti istilah lebih penting daripada memaksakan turunan fi‘il.

حضور

Akar
ح ض ر
Pola / bentuk
فُعُول

Masdar dari حضر, menghadiri atau hadir.

Hubungan bait

Bait 170–171 menutup sunah cara mandi. Mulai bagian kedua bait ini, daftar mandi sunah diteruskan pada bait 172–174.

Intisari & faedah
  1. Wewangian bukan syarat sah mandi haid.
  2. Sunah dalam cara mandi berbeda dari jenis mandi yang disunahkan.
Contoh penerapan

Keadaan

Seseorang telah mandi setelah haid dengan niat dan pemerataan yang benar tanpa memakai wewangian.

Cara memahami

Ia memahami bahwa mandi tidak batal karena penyempurna tersebut tidak dilakukan.

Batas penerapan

Jangan memakai penjelasan klasik ini sebagai instruksi penggunaan parfum di bagian dalam tubuh.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

Shahih al-Bukhari 314

Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

خُذِي فِرْصَةً مِنْ مِسْكٍ فَتَطَهَّرِي بِهَا

Inti makna

Dalam jawaban tentang mandi setelah haid, Nabi menyebut kain beraroma misk untuk penyempurna pembersihan. Aisyah kemudian menerangkan kaitannya dengan bekas darah. Ini konteks adab dalam riwayat, bukan syarat sah mandi atau petunjuk penggunaan parfum di bagian dalam tubuh.

Kaitan dengan bait

Riwayat menjadi latar adab misk setelah mandi haid; penerapannya dibaca sebagai penyempurna dengan memperhatikan keadaan.

Buka sumber lengkap ↗

Shahih al-Bukhari 877

Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

إِذَا جَاءَ أَحَدُكُمُ الْجُمُعَةَ فَلْيَغْتَسِلْ

Inti makna

Orang yang akan menghadiri Jumat diperintahkan mandi. Kedudukan hukumnya dalam mazhab matan dijelaskan sebagai kesunahan.

Kaitan dengan bait

Riwayat menganjurkan mandi bagi orang yang menghadiri Jumat.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apa peralihan pembahasan yang terjadi di tengah bait ini?

Lihat pembahasan jawaban

Dari sunah dalam pelaksanaan mandi menuju daftar mandi yang disunahkan karena sebab tertentu, dimulai dari menghadiri Jumat.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

وتتبع الحيض بمسك

dan mengikuti pembersihan bekas haid dengan misk

والولا

dan berkesinambungan

مسنونه حضور جمعة

mandi sunahnya untuk menghadiri Jumat

كلا

kedua

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

وتُتْبِعُ الحيضَ بمِسكٍ والوِلا

Buka penggal 2

مَسنُونُهُ حُضُورُ جُمْعَةٍ كِلا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 171 — Penyempurna mandi dan awal daftar mandi sunahNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan