Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 187
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Sunah dan pembatal tayamum · Bait 187 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
آدابه القبلة أن يستقبلا
adabnya ialah menghadap kiblat
مكروهه الترب الكثير استعملا
yang dimakruhkan ialah tanah terlalu banyak digunakan
Terjemahan bait 187

Adabnya ialah menghadap kiblat; yang dimakruhkan ialah menggunakan tanah terlalu banyak.

Syarah · keterangan lengkap

Arah sebagai penghormatan

Menghadap kiblat disebut sebagai adab tayamum, sejalan dengan adab wudu. Ini bukan syarat sah yang membatalkan tayamum apabila orang menghadap arah lain. Pelajar dapat melakukannya ketika mudah, sambil mendahulukan syarat dan rukun yang benar. Fasilitas atau keterbatasan posisi tidak perlu memicu pengulangan hanya karena arah belum seperti yang diinginkan.

Sedikit yang mencukupi lebih tepat

Tayamum tidak menuntut wajah dan tangan dilapisi tanah tebal. Debu yang terlalu banyak dapat dikurangi sebelum usapan, dengan tetap menyisakan bahan yang mencukupi. Riwayat Ammar menggambarkan pengurangan debu pada tangan. Meniup atau menepiskan bukan tujuan tersendiri jika debunya sudah sesuai; jangan sampai seluruh bahan yang diperlukan hilang.

Tidak mengulang seperti tiga basuhan

Syarah juga menjelaskan agar usapan tidak diulang seperti basuhan wudu tiga kali. Setiap bentuk bersuci mempunyai tata yang berbeda. Pengulangan dan ketebalan bukan ukuran kesempurnaan tayamum. Cukupkan pada usapan yang merata sesuai ketentuan, sehingga pelaksanaannya ringan tetapi tetap memenuhi rukun, bukan menambah gerakan yang tidak diperlukan.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 59. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

آدابه القبلة أن يستقبلا

آدابه membuka daftar adab; أن يستقبل masdar takwil yang menerangkan adab itu, dengan القبلة objek didahulukan dan alif rima.

مكروهه الترب الكثير استعملا

مكروهه membuka kemakruhan; الترب الكثير bahan yang berlebihan. استُعمل pasif dengan alif rima, dipahami sebagai penggunaannya.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

الكثير

Akar
ك ث ر
Pola / bentuk
فَعِيل

Sifat banyak; di sini jumlah yang melampaui kebutuhan usapan.

يستقبلا

Akar
ق ب ل
Pola / bentuk
يَسْتَفْعِلُ + alif rima

Mudhari‘ dari استقبل, menghadap.

Hubungan bait

Sunah pada bait 185–186 dilengkapi adab dan batas penggunaan bahan. Bait 188 beralih dari makruh kepada sumber bahan yang haram dipakai.

Intisari & faedah
  1. Menghadap kiblat adalah adab, bukan syarat sah tayamum.
  2. Debu berlebihan dan pengulangan usapan tidak menambah kesempurnaan.
Contoh penerapan

Keadaan

Tangan pelajar tertutup debu tebal sebelum mengusap wajah.

Cara memahami

Ia mengurangi kelebihan hingga tersisa kadar yang mencukupi.

Batas penerapan

Tidak menghilangkan semua debu atau mengulang usapan tanpa kebutuhan.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

Shahih al-Bukhari 338

Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.

Baca petikan Arab

فَضَرَبَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم بِكَفَّيْهِ الأَرْضَ، وَنَفَخَ فِيهِمَا ثُمَّ مَسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ وَكَفَّيْهِ

Inti makna

Dalam penjelasan kepada Ammar, Nabi mengambil tanah dengan kedua telapak, mengurangi debunya, lalu mengusap wajah dan kedua tangan. Perbedaan rincian batas tangan dalam kajian mazhab dijelaskan pada bait 184.

Kaitan dengan bait

Riwayat menyebut Nabi meniup kedua tangan sebelum mengusap, menjadi dasar mengurangi debu berlebihan.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apakah lapisan tanah yang semakin tebal membuat tayamum semakin sempurna?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak. Bahan cukup untuk usapan yang sah; kelebihan justru disebut makruh.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

آدابه القبلة أن يستقبلا

adabnya ialah menghadap kiblat

مكروهه الترب الكثير استعملا

yang dimakruhkan ialah tanah terlalu banyak digunakan

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

آدابُهُ القِبلَةَ أن يَسْتَقْبِلا

Buka penggal 2

مكروهُهُ التُّرْبُ الكثيرُ استُعمِلا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 187 — Menghadap kiblat dan mengurangi debu berlebihanNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan