Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 196
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Uzur, balutan, dan ketiadaan alat bersuci · Bait 196 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
وليتيمم محدث
dan hendaklah orang berhadas kecil bertayamum
إذ غسلا عليله
ketika tiba giliran membasuh bagian sakitnya
ثم الوضوء كملا
kemudian menyempurnakan wudu
Terjemahan bait 196

Orang berhadas kecil bertayamum ketika tiba giliran membasuh bagian yang sakit, kemudian menyempurnakan wudunya.

Syarah · keterangan lengkap

Tertib wudu tetap dijaga

Berbeda dari mandi pada bait 195, wudu mempunyai urutan wajib antaranggota. Tayamum yang menggantikan bagian sakit ditempatkan ketika sampai pada giliran anggota itu. Setelah kewajiban pada anggota tersebut diselesaikan sesuai kemampuan dan ketentuan, wudu diteruskan pada anggota berikutnya. Perincian ini mencegah penggunaan tayamum sebagai tambahan bebas di akhir semua wudu.

Makna “ketika membasuh bagian sakit”

Kalimat nazam dipahami sebagai saat giliran pembasuhan anggota yang memiliki luka, bukan perintah menyiram luka yang tidak aman. Bagian sehat pada anggota itu tetap diperlakukan sesuai kemampuan, sedangkan bagian yang tidak dapat dibasuh mengikuti ketentuan uzur. Urutan tindakan dalam anggota dan cara memperlakukan balutan dibaca bersama syarah, tidak ditebak dari terjemahan harfiah saja.

Jika lebih dari satu anggota beruzur

Syarah menerangkan bahwa luka pada lebih dari satu anggota wudu dapat menuntut tayamum pada giliran tiap anggota, karena tertibnya berbeda-beda. Ini rincian yang sering terlewat ketika aturan diringkas menjadi satu tayamum di akhir. Pembaca memetakan lokasi luka dan urutan anggota secara jelas. Jangan mengulang berdasarkan rasa ragu; pengulangan mengikuti kebutuhan anggota yang benar-benar beruzur.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 61. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

وليتيمم محدث

Lam perintah menjazmkan يتيمم; محدث fa‘il yang di sini dimaksudkan orang dengan hadas kecil.

إذ غسلا عليله ثم الوضوء كملا

إذ menerangkan waktu giliran anggota; غسل dengan alif rima, عليله objek yang dipahami bagian sakit. الوضوء objek didahulukan bagi كمّل.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

عليله

Akar
ع ل ل
Pola / bentuk
فَعِيل

Sifat bagian yang sakit atau beruzur; ه kembali kepada pemilik anggota.

كملا

Akar
ك م ل
Pola / bentuk
فَعَّلَ + alif rima

Fi‘il madhi dalam rangkaian nazam yang bermakna menyempurnakan sisa pelaksanaan.

Hubungan bait

Tertib wudu pada bait 123 menjadi alasan perbedaan dari hadas besar pada bait 195. Pembaruan untuk fardu berikutnya diterangkan pada bait 197–198.

Intisari & faedah
  1. Pada hadas kecil, tayamum ditempatkan sesuai giliran anggota sakit dalam tertib wudu.
  2. Terjemahan “membasuh bagian sakit” tidak memerintahkan penggunaan air yang membahayakan.
Contoh penerapan

Keadaan

Luka yang beruzur terdapat pada tangan, sedangkan wajah dan anggota lain dapat dibasuh.

Cara memahami

Pembaca memperhatikan giliran tangan dalam urutan wudu dan tayamum yang diperlukan.

Batas penerapan

Tidak menunda seluruh pengganti anggota tanpa memeriksa tertib yang diwajibkan.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Al-Maaida 5:6

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا قُمْتُمْ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ فَٱغْسِلُوا۟ وُجُوهَكُمْ وَأَيْدِيَكُمْ إِلَى ٱلْمَرَافِقِ وَٱمْسَحُوا۟ بِرُءُوسِكُمْ وَأَرْجُلَكُمْ إِلَى ٱلْكَعْبَيْنِ ۚ وَإِن كُنتُمْ جُنُبًۭا فَٱطَّهَّرُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌۭ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءًۭ فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًۭا طَيِّبًۭا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُم مِّنْهُ ۚ مَا يُرِيدُ ٱللَّهُ لِيَجْعَلَ عَلَيْكُم مِّنْ حَرَجٍۢ وَلَٰكِن يُرِيدُ لِيُطَهِّرَكُمْ وَلِيُتِمَّ نِعْمَتَهُۥ عَلَيْكُمْ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Inti makna

Perintah bersuci untuk salat melalui wudu, mandi bagi yang junub, serta tayamum ketika memenuhi sebabnya; Allah menghendaki penyucian dan kemudahan.

Kaitan dengan bait

Ayat menjadi dasar anggota wudu dan tayamum; penempatan pengganti pada giliran anggota dijelaskan oleh fikih mazhab.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Mengapa urutan pada kasus ini berbeda dari orang junub pada bait 195?

Lihat pembahasan jawaban

Karena wudu mempunyai tertib wajib antaranggota, sedangkan mandi tidak mempunyai urutan seluruh badan seperti itu.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

وليتيمم محدث

dan hendaklah orang berhadas kecil bertayamum

إذ غسلا عليله

ketika tiba giliran membasuh bagian sakitnya

ثم الوضوء كملا

kemudian menyempurnakan wudu

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

ولْيَتَيَمَّمْ مُحْدِثٌ إذْ غَسَلا

Buka penggal 2

عَليلَهُ ثمَّ الوُضُوءَ كَمَّلا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 196 — Urutan bagi orang berhadas kecil yang terlukaNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan