Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 210
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Hadas dan batas ibadah · Bait 210 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
قصدا
dengan maksud tilawah
ولبث مسجد
dan berdiam di masjid
للمسلم
bagi seorang muslim
وبالمحيض والنفاس
dan karena haid serta nifas
حرم
diharamkan
Terjemahan bait 210

Dengan sengaja sebagai tilawah; dan berdiam di masjid bagi seorang muslim. Karena haid dan nifas, diharamkan—

Syarah · keterangan lengkap

Penyempurna ketentuan bacaan

Qashdan menyelesaikan akhir bait 209: yang dibahas ialah membaca dengan maksud Al-Qur’an sebagai tilawah. Lafaz doa atau zikir yang tidak dimaksudkan demikian mempunyai ketentuan berbeda dalam syarah. Niat gabungan yang tetap mencakup tilawah tidak disamakan begitu saja dengan zikir murni. Karena itu maksud ucapan perlu dipahami secara wajar, tanpa menumbuhkan keraguan berlebihan.

Berdiam berbeda dari sekadar melintas

Janabah juga menghalangi berdiam di masjid menurut matan. Pembahasan lewat tanpa menetap dibedakan, dengan syarat yang relevan seperti tidak mengotori tempat. Mushala atau ruang belajar perlu dikenali statusnya sebelum seluruh hukum masjid diterapkan. Kata masjid dalam bab fikih bukan sekadar setiap tempat yang pernah digunakan seseorang untuk salat.

Daftar baru bagi haid dan nifas

Akhir bait membuka enam larangan yang dirujuk pada 211: empat karena hadas kecil ditambah dua karena janabah. Penerapan terhadap haid dan nifas mengikuti mazhab pengarang; pembahasan bacaan perempuan haid memiliki perbedaan pendapat dalam khazanah fikih. Pelajari rumusan kitab ini dengan utuh tanpa mengklaim seluruh ulama mengucapkan perincian yang sama.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 64. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

قصدا ولبث مسجد للمسلم

قصدا keterangan maksud bagi اقتراء pada 209; لبث مسجد masdar beridhafah yang menambahkan perbuatan berdiam di masjid.

وبالمحيض والنفاس حرم

بالمحيض والنفاس menyatakan sebab; حَرِّمْ perintah menyatakan larangan; objeknya, الست, muncul pada 211.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

لبث

Akar
ل ب ث
Pola / bentuk
فَعْل

Masdar tinggal atau menetap di suatu tempat.

المحيض

Akar
ح ي ض
Pola / bentuk
مَفْعِل dengan i‘lal

Masdar mimi bagi haid dalam konteks ini.

Hubungan bait

Bait menghubungkan larangan bacaan pada 209 dengan daftar enam dan tambahan khusus pada 211–212.

Intisari & faedah
  1. Berdiam di masjid dibedakan dari melintas sesuai ketentuannya.
  2. Daftar haid dan nifas harus dibaca sampai bait 212 agar sebab dan batasnya jelas.
Contoh penerapan

Keadaan

Pembaca menghitung larangan janabah hanya satu karena membaca bait 209 sendiri.

Cara memahami

Ia menambahkan berdiam di masjid pada bait ini dan menyambungkan enam unsur untuk pembahasan berikut.

Batas penerapan

Daftar mazhab ini tidak disebut sebagai kesepakatan atas semua rincian bacaan perempuan haid.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS An-Nisaa 4:43

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَقْرَبُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ وَأَنتُمْ سُكَٰرَىٰ حَتَّىٰ تَعْلَمُوا۟ مَا تَقُولُونَ وَلَا جُنُبًا إِلَّا عَابِرِى سَبِيلٍ حَتَّىٰ تَغْتَسِلُوا۟ ۚ وَإِن كُنتُم مَّرْضَىٰٓ أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ أَوْ جَآءَ أَحَدٌۭ مِّنكُم مِّنَ ٱلْغَآئِطِ أَوْ لَٰمَسْتُمُ ٱلنِّسَآءَ فَلَمْ تَجِدُوا۟ مَآءًۭ فَتَيَمَّمُوا۟ صَعِيدًۭا طَيِّبًۭا فَٱمْسَحُوا۟ بِوُجُوهِكُمْ وَأَيْدِيكُمْ ۗ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ عَفُوًّا غَفُورًا

Inti makna

Ayat menjelaskan beberapa ketentuan keadaan ketika mendekati salat dan keringanan tayamum saat memenuhi sebabnya.

Kaitan dengan bait

Ayat terkait janabah, mandi, dan pengecualian melintas dalam pembahasan masjid menurut penafsiran yang digunakan syarah.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Mengapa bait 210 tidak bisa dibaca terpisah dari 209 dan 211?

Lihat pembahasan jawaban

Awalnya melengkapi maksud bacaan pada 209, sedangkan akhirnya membuka daftar haid dan nifas yang dilanjutkan pada 211.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

قصدا

dengan maksud tilawah

ولبث مسجد

dan berdiam di masjid

للمسلم

bagi seorang muslim

وبالمحيض والنفاس

dan karena haid serta nifas

حرم

diharamkan

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

قَصْدَا ولُبْثَ مَسجِدٍ للمُسلِمِ

Buka penggal 2

وبالمَحِيضِ والنِّفَاسِ حَرِّمِ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 210 — Maksud tilawah dan berdiam di masjidNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan