Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Waktu dan keadaan yang dihindari · Bait 229 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- والاستوا
- dan saat istiwa
- لا جمعة
- kecuali Jumat
- إلى الزوال
- sampai zawal
- والاصفرار
- dan saat menguning
- بغروب ذي كمال
- hingga terbenam sempurna
Terjemahan bait 229
Dan saat istiwa sampai zawal, kecuali pada Jumat; serta saat matahari menguning hingga terbenam sempurna.
Syarah · keterangan lengkap
Matahari di tengah lintasannya
Istiwa adalah keadaan menjelang matahari bergeser ke arah barat, dan zawal menandai mulainya Zuhur. Matan menyebut larangan sunah tanpa sebab pada keadaan istiwa ini. Jangan menyamakan istiwa dengan seluruh satu jam sebelum Zuhur; yang dibahas ialah tanda tertentu, bukan rentang panjang yang dibuat tanpa dasar.
Pengecualian Jumat menurut mazhab
Kata la jum‘ah mengecualikan hari Jumat dari larangan istiwa menurut pilihan matan. Ini salah satu rincian mazhab yang dipahami melalui syarah dan dalil-dalil khususnya. Pengecualian itu tidak otomatis menghapus larangan pada semua bagian hari Jumat, misalnya ketika matahari sedang terbit atau terbenam.
Matahari menguning menuju tenggelam
Keadaan kelima ialah menjelang terbenam sampai seluruh matahari hilang. Ia dapat bertumpang tindih dengan larangan sesudah Asar, tetapi alasan pengelompokannya berbeda. Setelah memahami lima keadaan, pembaca beralih ke jenis salat yang dikecualikan pada 230–232. Jangan menjadikan daftar waktu sebagai larangan terhadap qada dan seluruh salat tanpa melihat sebabnya.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 70. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
والاستوا لا جمعة إلى الزوال
الاستوا dihubungkan dengan keadaan sebelumnya; لا جمعة pengecualian hari Jumat, إلى الزوال batasnya.
والاصفرار بغروب ذي كمال
الاصفرار keadaan menguningnya matahari; بغروب ذي كمال dipahami sebagai ujung sampai terbenam sempurna.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Menyelesaikan lima keadaan 227–229; jenis salat yang tetap dibolehkan dijelaskan pada 230–232.
Intisari & faedah
- Pengecualian Jumat berkaitan dengan istiwa, bukan semua waktu larangan.
- Larangan berdasar posisi matahari dibedakan dari larangan sesudah fardu.
Contoh penerapan
Keadaan
Pelajar menyangka hari Jumat bebas dari semua larangan salat tanpa sebab.
Cara memahami
Ia membatasi pengecualian pada keadaan istiwa yang disebut matan.
Batas penerapan
Larangan saat terbit dan terbenam tidak hilang hanya karena hari Jumat.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Shahih Muslim 831
Petikan Arab dari riwayat bernomor; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran. Baca konteks lengkap melalui tautan.
Baca petikan Arab
حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع
Inti makna
Riwayat melarang salat pada tiga keadaan matahari, termasuk ketika terbit hingga meninggi; perincian pengecualian dibahas syarah.
Kaitan dengan bait
Riwayat memuat tiga keadaan matahari; pengecualian Jumat merupakan rincian yang dibahas syarah mazhab.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Pengecualian Jumat pada bait ini berlaku untuk keadaan apa?
Lihat pembahasan jawaban
Keadaan istiwa sampai zawal, bukan seluruh waktu larangan sepanjang Jumat.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
والاستوا
dan saat istiwa
لا جمعة
kecuali Jumat
إلى الزوال
sampai zawal
والاصفرار
dan saat menguning
بغروب ذي كمال
hingga terbenam sempurna
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
والاسْتِوَا لا جُمْعَةٍ إلى الزَّوَالْ
Buka penggal 2
والاصْفِرَارِ بِغُرُوبِ ذِي كَمَالْ
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 229 — Istiwa dan menjelang terbenamNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.