Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 25
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Mengenal Allah dan sifat-Nya · Bait 25 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
أحدثه
Dia mengadakannya
لا لاحتياجه
bukan karena kebutuhan-Nya
الإله
Tuhan (subjek)
ولو أراد تركه
dan jika Dia menghendaki meninggalkannya
لما ابتداه
niscaya Dia tidak memulai penciptaannya
Terjemahan bait 25

Tuhan mengadakan alam, bukan karena membutuhkan alam itu; seandainya Dia menghendaki meninggalkannya, niscaya Dia tidak memulai penciptaannya.

Syarah · keterangan lengkap

Susunan kalimat

Kata al-ilah adalah pelaku yang ditempatkan setelah beberapa unsur kalimat. Kata ganti pada ahdatsahu kembali kepada alam pada bait 24. Maksud keseluruhannya: Allah yang mengadakan alam, dan penciptaan itu bukan untuk menutup kekurangan pada diri Allah. Penempatan kata dalam nazam perlu dibaca dengan memperhatikan hubungan gramatikal, tidak sekadar diterjemahkan berurutan tanpa penjelasan.

Tidak memerlukan makhluk

Allah tidak bertambah sempurna karena manusia beribadah dan tidak berkurang kemuliaan-Nya karena manusia membangkang. Manfaat ketaatan kembali kepada hamba. Perintah menyembah Allah menunjukkan kewajiban serta kebaikan bagi manusia, bukan kebutuhan Allah terhadap pujian atau bantuan. Hal ini membedakan Pencipta dari makhluk yang memerlukan makanan, tempat, dukungan, dan sebab-sebab lain untuk hidup.

Penciptaan adalah kehendak

Penggal kedua menegaskan bahwa alam tidak memaksa Allah untuk menciptakannya. Allah mencipta dengan kehendak, bukan karena proses yang menguasai diri-Nya. Bagi pelajar, pemahaman ini menghilangkan kesombongan ketika beramal: ibadah bukan jasa yang membuat Allah berutang kepadanya. Pada saat yang sama, ia menumbuhkan syukur karena keberadaan dan kesempatan berbuat baik merupakan karunia yang tidak berdiri sendiri.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 11. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

أحدثه لا لاحتياجه الإله

أحدثَ kata kerja lampau, ه objek kembali kepada العالم; الإلهُ fa‘il yang diletakkan kemudian. لا لاحتياجه menyangkal alasan kebutuhan; ه pada احتياجه kembali kepada Allah, bukan kebutuhan alam kepada Pencipta.

ولو أراد تركه لما ابتداه

لو menyatakan pengandaian; أرادَ berpelaku tersirat Allah dan تركَه objeknya. لَـ pada لما menandai jawab لو, sedangkan ما menafikan; ابتدأه bermakna memulai penciptaannya.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

أحدثه

Akar
ح د ث
Pola / bentuk
أَفْعَلَ

Fi‘il madhi bentuk IV dari أَحْدَثَ: mengadakan. ه adalah objek, bukan bagian akar.

احتياجه

Akar
ح و ج
Pola / bentuk
اِفْتِعَال

Masdar dari اِحْتَاجَ: kebutuhan. Terjadi perubahan huruf lemah pada pembentukannya.

Hubungan bait

ه pada أحدثه kembali kepada alam pada bait 24. Bait ini menegaskan Allah mencipta tanpa kebutuhan, lalu bait 26 menjelaskan kehendak dan ketidakserupaan-Nya dengan makhluk.

Intisari & faedah
  1. Allah adalah Pencipta yang tidak membutuhkan ciptaan.
  2. Menciptakan merupakan perbuatan sesuai kehendak-Nya, bukan keterpaksaan.
Contoh penerapan

Keadaan

Seseorang membayangkan Allah mencipta karena merasa kesepian seperti manusia.

Cara memahami

Ia membedakan sifat makhluk yang membutuhkan dari kemahasempurnaan Allah.

Batas penerapan

Pengalaman psikologis manusia tidak dijadikan ukuran sifat Allah.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Faatir 35:15

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

۞ يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ أَنتُمُ ٱلْفُقَرَآءُ إِلَى ٱللَّهِ ۖ وَٱللَّهُ هُوَ ٱلْغَنِىُّ ٱلْحَمِيدُ

Inti makna

Manusia membutuhkan Allah, sedangkan Allah Mahakaya dan Maha Terpuji.

Kaitan dengan bait

Ayat menegaskan manusia membutuhkan Allah, sedangkan Allah Mahakaya dan Maha Terpuji.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Mengapa الإله pada akhir penggal pertama tetap merupakan fa‘il?

Lihat pembahasan jawaban

Karena menjadi pelaku أحدث, meskipun objek dan keterangan ditempatkan lebih dahulu dalam nazam.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

أحدثه

Dia mengadakannya

لا لاحتياجه

bukan karena kebutuhan-Nya

الإله

Tuhan (subjek)

ولو أراد تركه

dan jika Dia menghendaki meninggalkannya

لما ابتداه

niscaya Dia tidak memulai penciptaannya

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

أحدَثَهُ لا لاحتِيَاجِهِ الإلهُ

Buka penggal 2

ولَو أرادَ تَرْكَهُ لَمَا ابتَدَاهُ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 25 — Allah mencipta tanpa kebutuhanNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan