Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Rukun, niat, dan takbir · Bait 251 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- أوجب مع التعيين
- wajibkan bersama penentuan
- أما ذو سبب
- adapun yang mempunyai sebab
- والوقت
- dan waktu
- فالقصد وتعيين وجب
- maka maksud melakukan dan penentuan diwajibkan
Terjemahan bait 251
Wajibkan bersama penentuan salatnya; adapun sunah yang memiliki sebab atau waktu, wajib maksud melakukan dan penentuannya.
Syarah · keterangan lengkap
Tiga unsur niat fardu
Bersama bait 250, niat fardu memuat maksud salat, sifat fardu, dan penentuan salat seperti Zuhur atau Asar. Penentuan membedakan ibadah yang bentuk luarnya serupa. Empat rakaat saja belum menunjukkan apakah yang dimaksud Zuhur, Asar, atau sunah; hati mengetahui ibadah yang hendak dijalankan.
Sunah tertentu juga perlu dikenali
Untuk sunah yang ditentukan oleh waktu atau sebab, seperti Id atau gerhana, diperlukan maksud dan penentuan jenisnya. Tidak wajib menambahkan pengertian kesunahan dengan cara yang sama seperti kefarduan pada fardu. Ini perbedaan unsur niat, bukan tuntutan melafalkan rumus panjang atau mengulang takbir karena takut kalimat batin belum tersusun.
Ada sunah yang tujuannya dapat tercakup
Syarah memberi rincian seperti tahiyat masjid dan dua rakaat wudu yang dapat tercakup dalam salat lain. Karena itu jangan menerapkan keharusan penentuan secara seragam tanpa membaca jenisnya. Pembahasan 242 membantu memahami pengecualian tujuan tersebut. Niat tetap sederhana sebagai kesadaran hati atas ibadah yang sedang dimulai, sesuai kategori yang benar.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 74. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
أوجب مع التعيين
أوجب melengkapi قصد الفعل والفرضية pada 250; مع التعيين menambahkan unsur menentukan jenis fardu.
أما ذو سبب والوقت فالقصد وتعيين وجب
أما merinci sunah tertentu; القصد وتعيين merupakan hal yang diwajibkan dengan فا sebagai penghubung jawab.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Melengkapi niat fardu pada 250 dan membedakannya dari sunah mutlak pada 252 serta tujuan tahiyat pada 242.
Intisari & faedah
- Fardu ditentukan jenisnya dalam hati.
- Niat tidak harus berubah menjadi rangkaian kalimat yang diulang-ulang.
Contoh penerapan
Keadaan
Seseorang hendak salat Zuhur dan sudah mengetahui ibadah yang dimaksud saat takbir.
Cara memahami
Ia memahami unsur maksud, kefarduan, dan penentuan tanpa memaksakan susunan kata batin yang rumit.
Batas penerapan
Sunah yang tujuannya dapat tercakup mempunyai rincian tersendiri.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Shahih al-Bukhari 1
Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.
Baca petikan Arab
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Inti makna
Amal dinilai dengan niat; setiap orang memperoleh menurut niatnya.
Kaitan dengan bait
Dasar niat dalam amal; unsur penentuan jenis dijelaskan melalui fikih ibadah.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Apa fungsi penentuan pada niat fardu?
Lihat pembahasan jawaban
Membedakan salat yang dimaksud, misalnya Zuhur dari Asar.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
أوجب مع التعيين
wajibkan bersama penentuan
أما ذو سبب
adapun yang mempunyai sebab
والوقت
dan waktu
فالقصد وتعيين وجب
maka maksud melakukan dan penentuan diwajibkan
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
أَوجِبْ مَعَ التَّعيينِ أما ذو سَبَبْ
Buka penggal 2
والوقْتِ فالقَصْدُ وتَعيينٌ وَجَبْ
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 251 — Menentukan jenis salat dalam niatNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.