Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Rukun, niat, dan takbir · Bait 253 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- دون إضافة
- tanpa wajib merinci penyandaran
- لذي الجلال
- kepada Yang Mahamulia
- وعدد الركعات
- dan jumlah rakaat
- واستقبال
- serta menghadap kiblat
Terjemahan bait 253
Tanpa wajib merinci penyandaran kepada Yang Mahamulia, jumlah rakaat, dan menghadap kiblat.
Syarah · keterangan lengkap
Membedakan tujuan dan rincian lafaz
Ibadah tentu ditujukan kepada Allah. Yang tidak diwajibkan di sini ialah memasukkan rincian penyandaran itu sebagai tambahan tersendiri dalam susunan niat, bukan izin salat untuk selain Allah. Maksud hati beribadah tetap menjadi dasarnya. Penjelasan ini mencegah salah baca terhadap kata tanpa yang sangat ringkas dalam nazam.
Jumlah rakaat tidak harus disebut
Orang yang berniat Zuhur tidak wajib menyebut angka empat sebagai unsur tambahan. Jumlah yang benar tetap dilaksanakan dalam salat. Syarah mengingatkan bahwa sengaja menentukan jumlah yang keliru dapat menimbulkan masalah pada niat; karena itu tidak perlu menambahkan rincian yang justru membingungkan ketika unsur wajibnya sudah jelas.
Menghadap tetap syarat meskipun tidak disebut
Tidak wajib merinci menghadap kiblat dalam niat bukan berarti boleh mengabaikan arah kiblat. Syarat pelaksanaan berbeda dari hal yang harus dihadirkan sebagai unsur niat. Bedakan apa yang harus dilakukan dengan apa yang harus ditentukan dalam hati. Dengan perbedaan ini, niat tetap sederhana sementara pelaksanaan salat tetap memenuhi syaratnya.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 74. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
دون إضافة لذي الجلال
دون menerangkan rincian yang tidak diwajibkan; إضافة masdar, لذي الجلال penyandarannya kepada Allah.
وعدد الركعات واستقبال
Keduanya di‘athafkan kepada إضافة sebagai rincian niat yang tidak diwajibkan; القبلة dipahami setelah استقبال.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Menutup unsur niat 250–252 sebelum rukun berdiri dan takbir pada 254–257.
Intisari & faedah
- Tidak wajib disebut dalam niat tidak berarti tidak wajib dilakukan.
- Jumlah rakaat dan arah kiblat tetap benar dalam pelaksanaan.
Contoh penerapan
Keadaan
Seseorang tidak menyebut angka rakaat dalam hati, tetapi berniat Zuhur dengan jelas.
Cara memahami
Ia tidak perlu mengulang niat hanya karena rincian angka tidak disebut.
Batas penerapan
Salat tetap dikerjakan dengan jumlah dan arah yang disyaratkan.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Shahih al-Bukhari 1
Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.
Baca petikan Arab
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Inti makna
Amal dinilai dengan niat; setiap orang memperoleh menurut niatnya.
Kaitan dengan bait
Hadis menegaskan niat; rincian yang cukup dan tidak diwajibkan diterangkan oleh syarah.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Apakah tidak wajib merinci kiblat dalam niat berarti boleh tidak menghadap kiblat?
Lihat pembahasan jawaban
Tidak. Syarat pelaksanaan dan rincian niat adalah dua pembahasan berbeda.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
دون إضافة
tanpa wajib merinci penyandaran
لذي الجلال
kepada Yang Mahamulia
وعدد الركعات
dan jumlah rakaat
واستقبال
serta menghadap kiblat
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
دونَ إضافةٍ لذِي الجَلالِ
Buka penggal 2
وَعَدَدِ الرَّكْعَاتِ واستِقْبَالِ
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 253 — Hal yang tidak wajib dirinci dalam niatNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.