Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Salat sesuai kemampuan · Bait 258 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- ثم انحنى
- kemudian membungkuk
- لعجزه أن ينتصب
- karena tidak mampu tegak
- من لم يطق
- orang yang tidak mampu
- يقعد كيفما يحب
- duduk dengan cara yang ia pilih
Terjemahan bait 258
Kemudian berdiri membungkuk karena tidak mampu tegak; orang yang tidak mampu berdiri duduk dengan cara yang dapat ia lakukan.
Syarah · keterangan lengkap
Melaksanakan bagian yang masih mampu
Jika orang tidak dapat berdiri tegak tetapi masih dapat berdiri membungkuk, matan menyebut bentuk itu sebelum berpindah ke duduk. Kewajiban menyesuaikan kemampuan yang nyata, bukan semua keterbatasan langsung mendapat bentuk paling ringan. Sebaliknya, tidak perlu memaksakan tegak bila menimbulkan kesulitan berat atau bahaya yang diperhitungkan.
Duduk ketika berdiri tidak sanggup
Ketidakmampuan mencakup keadaan seperti kesulitan berat, bertambahnya sakit, atau risiko yang dibahas syarah. Duduk dapat dipilih sesuai kemampuan; iftirasy disebut lebih utama bila tidak menyulitkan. Bentuk duduk yang aman lebih diperhatikan daripada memaksakan postur sunah yang tidak dapat dilakukan tubuh.
Rukuk dan sujud dinilai tersendiri
Orang yang perlu duduk belum tentu tidak mampu sujud. Setiap gerakan dilaksanakan menurut kemampuan masing-masing. Untuk duduk di kursi atau alat bantu, pahami bagian yang masih dapat dilakukan dan yang memerlukan pengganti, bukan mengganti seluruh salat dengan isyarat tanpa penilaian. Bait 259–262 melanjutkan keadaan ketika duduk pun tidak mampu.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 76. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
ثم انحنى لعجزه أن ينتصب
انحنى fi‘il dengan pelaku salat dipahami; لعجزه sebab, أن ينتصب hal yang tidak mampu dilakukan.
من لم يطق يقعد كيفما يحب
من syarat, لم يطق menyatakan tidak mampu berdiri; يقعد jawaban dengan cara duduk sesuai kemampuan.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Merinci kemampuan berdiri pada 254, lalu berlanjut kepada miring dan telentang pada 259–260.
Intisari & faedah
- Lakukan bentuk berdiri yang masih mampu sebelum berpindah sesuai ketentuan.
- Ketidakmampuan berdiri tidak otomatis menghapus semua gerakan lain.
Contoh penerapan
Keadaan
Seseorang tidak dapat berdiri lama tetapi masih dapat duduk dan sujud dengan aman.
Cara memahami
Ia melaksanakan salat sesuai kemampuan tiap gerakan.
Batas penerapan
Jangan memaksakan postur yang membahayakan atau mengganti gerakan yang masih mampu tanpa alasan.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Shahih al-Bukhari 1117
Petikan Arab dari riwayat bernomor; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran. Baca konteks lengkap melalui tautan.
Baca petikan Arab
صل قائما فإن لم تستطع فقاعدا فإن لم تستطع فعلى جنب
Inti makna
Salat dilakukan berdiri; bila tidak mampu, duduk; bila tidak mampu, pada sisi tubuh.
Kaitan dengan bait
Riwayat memberi urutan berdiri, lalu duduk bila tidak mampu.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Apakah perlu duduk berarti semua rukuk dan sujud otomatis cukup dengan isyarat?
Lihat pembahasan jawaban
Tidak. Kemampuan setiap gerakan dinilai tersendiri.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
ثم انحنى
kemudian membungkuk
لعجزه أن ينتصب
karena tidak mampu tegak
من لم يطق
orang yang tidak mampu
يقعد كيفما يحب
duduk dengan cara yang ia pilih
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
ثم انْحَنَى لعَجْزِهِ أَنْ يَنْتَصِبْ
Buka penggal 2
مَن لَم يُطِقْ يَقْعُدْ كيفما يُحِبْ
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 258 — Berdiri membungkuk dan salat dudukNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.