Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Sunah ab‘adh dan qunut · Bait 274 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- أبعاضها
- sunah ab‘adhnya
- تشهد إذ تبتديه
- tasyahud ketika yang pertama
- ثم القعود
- kemudian duduknya
- وصلاة الله فيه
- dan selawat di dalamnya
Terjemahan bait 274
Sunah ab‘adhnya ialah tasyahud pertama, kemudian duduknya, serta selawat di dalamnya—
Syarah · keterangan lengkap
Berpindah dari rukun ke ab‘adh
Ab‘adh adalah kelompok sunah yang ketika tertinggal berkaitan dengan anjuran sujud sahwi. Namanya tidak berarti rukun sebagian yang otomatis membatalkan jika tidak dilakukan. Matan mulai dengan tasyahud awal dan duduk untuknya, yang berbeda dari tasyahud akhir pada 272.
Selawat dalam tasyahud awal
Kalimat selawat pada akhir bait baru lengkap dengan kepada Nabi pada awal 275. Dalam uraian mazhab ini, selawat kepada Nabi dalam tasyahud awal termasuk ab‘adh. Membaca lintas bait menjaga objek kalimat tetap jelas dan mencegah salah pengertian bahwa ada bacaan terpisah yang tidak dijelaskan.
Ketika lupa jangan menyamakan dengan rukun
Tertinggalnya ab‘adh mempunyai aturan sujud sahwi dan aturan kembali atau tidak kembali sesuai tahap gerakan. Bait ini belum menguraikan seluruh kasusnya. Pelajar dapat mulai dengan peta sederhana: tasyahud akhir rukun, tasyahud awal ab‘adh, sementara banyak sunah gerak lain termasuk haiat. Perbedaan kategori menentukan cara menyikapi kekurangan salat.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 79. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
أبعاضها تشهد إذ تبتديه
أبعاضها mubtada; تشهد khabar pertama, إذ تبتديه menerangkan tasyahud yang pertama.
ثم القعود وصلاة الله فيه
القعود وصلاة di‘athafkan sebagai unsur berikut; فيه kembali kepada tasyahud awal, dengan على النبي disambung pada 275.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Ab‘adh dibedakan dari rukun 272–273 dan dilanjutkan selawat serta qunut pada 275–276.
Intisari & faedah
- Ab‘adh merupakan sunah dengan kaitan khusus kepada sujud sahwi.
- Selawat yang dimaksud pada akhir bait dilengkapi awal bait berikut.
Contoh penerapan
Keadaan
Pelajar melewatkan tasyahud awal dan mengira seluruh salatnya pasti batal.
Cara memahami
Ia mengenali kategorinya sebagai ab‘adh dan mempelajari ketentuan sujud sahwi.
Batas penerapan
Aturan kembali duduk tergantung posisi saat teringat, bukan diputuskan dari bait ini saja.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Shahih al-Bukhari 829
Petikan Arab dari riwayat bernomor; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran. Baca konteks lengkap melalui tautan.
Baca petikan Arab
فسجد سجدتين قبل أن يسلم ثم سلم
Inti makna
Nabi melakukan dua sujud sebelum salam setelah tidak duduk pada tasyahud awal sebagaimana konteks riwayat.
Kaitan dengan bait
Riwayat Nabi tidak duduk setelah dua rakaat lalu melakukan sujud sahwi mendasari perbedaan kedudukan tasyahud awal.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Apakah ab‘adh sama dengan rukun yang tidak boleh tertinggal tanpa perbaikan rukun?
Lihat pembahasan jawaban
Tidak. Ab‘adh adalah kelompok sunah, dengan ketentuan sujud sahwi ketika tertinggal.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
أبعاضها
sunah ab‘adhnya
تشهد إذ تبتديه
tasyahud ketika yang pertama
ثم القعود
kemudian duduknya
وصلاة الله فيه
dan selawat di dalamnya
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
أبعاضُهَا تَشَهُّدٌ إذ تبتَدِيهْ
Buka penggal 2
ثم القُعُودُ وصَلاةُ اللهِ فيهْ
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 274 — Tasyahud awal sebagai sunah ab‘adhNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.