Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 281
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Azan dan iqamah · Bait 281 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
والالتفات فيهما
dan menoleh pada keduanya
إذ حيعلا
ketika mengucapkan hai‘alah
وأن يكون طاهرا
dan berada dalam keadaan suci
مستقبلا
menghadap kiblat
Terjemahan bait 281

Menoleh pada keduanya ketika mengucapkan hai‘alah, serta berada dalam keadaan suci dan menghadap kiblat.

Syarah · keterangan lengkap

Hai‘alah adalah dua panggilan

Hai‘alah merupakan singkatan untuk hayya ‘ala ash-shalah dan hayya ‘ala al-falah. Syarah menyebut menoleh ke kanan pada panggilan pertama dan ke kiri pada yang kedua dalam azan dan iqamah. Menoleh dibedakan dari memutar seluruh badan sehingga kehilangan arah dasar yang sedang dianjurkan.

Kesucian sebagai penyempurna

Berada dalam keadaan suci dari hadas dan najis termasuk sunah pelaksanaan yang diterangkan. Jangan langsung menyamakannya dengan syarat sah azan yang telah disebut pada 278–279. Perbedaan syarat dan sunah penting agar pelajar tidak menganggap azan otomatis tidak sah hanya karena satu sifat penyempurna belum dipenuhi.

Arah dan sarana suara

Menghadap kiblat merupakan adab yang dianjurkan. Pada penggunaan mikrofon, cara menoleh tetap memperhatikan lafaz agar terdengar dan tidak terputus. Tujuannya mengikuti adab dengan menjaga fungsi panggilan, bukan membuat gerakan berlebihan. Bait berikut menambah sifat amanah dan suara muazin, sehingga keterampilan teknis dan tanggung jawab ibadah dipelajari bersama.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 80. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

والالتفات فيهما إذ حيعلا

الالتفات bagian daftar sunah; فيهما kembali kepada azan dan iqamah, إذ حيعلا keterangan saat hai‘alah.

وأن يكون طاهرا مستقبلا

أن يكون masdar muawwal yang dihubungkan pada daftar sunah; طاهرا مستقبلا dua keadaan pelaku.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

الالتفات

Akar
ل ف ت
Pola / bentuk
افْتِعَال

Masdar التفت, menoleh.

حيعلا

Akar
ح ي ع ل
Pola / bentuk
فَعْلَلَ berupa naht

Kata bentukan ringkas dari ucapan hayya ‘ala, dengan alif rima.

Hubungan bait

Melengkapi cara azan 280 dan menuju sifat muazin pada 282–283.

Intisari & faedah
  1. Hai‘alah menunjuk dua panggilan hayya ‘ala.
  2. Kesucian di bagian ini dibahas sebagai sunah, berbeda dari syarat sebelumnya.
Contoh penerapan

Keadaan

Muazin membaca hai‘alah dengan mikrofon dan menoleh hingga lafaz tidak terdengar.

Cara memahami

Ia menyesuaikan gerak secara wajar agar adab dan kejelasan panggilan terjaga.

Batas penerapan

Menoleh tidak harus memutar seluruh tubuh secara berlebihan.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

Shahih al-Bukhari 631

Petikan Arab dari riwayat bernomor; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran. Baca konteks lengkap melalui tautan.

Baca petikan Arab

وصلوا كما رأيتموني أصلي فإذا حضرت الصلاة فليؤذن لكم أحدكم

Inti makna

Nabi mengajarkan meneladani cara salat beliau dan mengumandangkan azan ketika waktu tiba.

Kaitan dengan bait

Dasar panggilan azan dan mengikuti tuntunan salat; rincian menoleh dan kesucian dijelaskan syarah.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apa yang dimaksud hai‘alah?

Lihat pembahasan jawaban

Ucapan hayya ‘ala ash-shalah dan hayya ‘ala al-falah.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

والالتفات فيهما

dan menoleh pada keduanya

إذ حيعلا

ketika mengucapkan hai‘alah

وأن يكون طاهرا

dan berada dalam keadaan suci

مستقبلا

menghadap kiblat

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

والالتِفَاتُ فيهِمَا إذ حَيْعَلا

Buka penggal 2

وأَنْ يكونَ طاهِرَا مُسْتَقْبِلا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 281 — Menoleh pada hai‘alah dan menghadap kiblatNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan