Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Azan dan iqamah · Bait 283 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- مرتفعا
- berada di tempat lebih tinggi
- كقوله أجابه
- menjawab seperti ucapannya
- مستمع
- orang yang mendengar
- ولو مع الجنابه
- walaupun dalam keadaan junub
Terjemahan bait 283
Berada di tempat lebih tinggi; pendengar menjawab seperti ucapannya, walaupun sedang junub.
Syarah · keterangan lengkap
Ketinggian membantu penyampaian
Dalam sarana klasik, tempat tinggi membantu suara azan menjangkau lebih jauh. Anjuran dipahami melalui fungsi penyampaian dan keadaan tempat, bukan kewajiban naik ke lokasi berbahaya. Dengan sarana pengeras suara, keselamatan dan kejelasan panggilan tetap dijaga. Sifat ini menyelesaikan beberapa adab muazin yang dimulai pada bait sebelumnya.
Pendengar menjawab kalimat
Pendengar dianjurkan menjawab lafaz azan setelah muazin mengucapkannya. Jawaban umumnya mengikuti kalimat yang didengar, dengan pengecualian hai‘alah yang diterangkan pada 284. Karena itu menirukan seluruh azan secara seragam tanpa membedakan bagian tersebut belum menangkap lengkap maksud nazam.
Zikir tidak disamakan dengan tilawah junub
Orang junub tetap dapat menjawab azan sebagai zikir. Ini sejalan dengan perbedaan zikir dan tilawah yang dibahas pada 209–210. Syarah juga memperhatikan keadaan pendengar, misalnya yang sedang salat tidak menjawab dengan ucapan yang termasuk percakapan biasa. Jadi anjuran menjawab tetap dibaca bersama ketentuan kegiatan yang sedang berlangsung.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 80. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
مرتفعا كقوله أجابه مستمع
مرتفعا melanjutkan sifat muazin; أجابه fi‘il dengan مستمع fa‘il, كقوله menerangkan kesamaan jawaban.
ولو مع الجنابه
ولو memberi kelonggaran keadaan pendengar; مع الجنابة tidak menghalangi zikir jawaban azan.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Menutup sifat muazin 280–282 dan membuka jawaban khusus pada 284; terkait perbedaan zikir-tilawah pada 210.
Intisari & faedah
- Tempat tinggi merupakan sarana keterdengaran, dengan tetap memperhatikan keselamatan.
- Junub tidak menghalangi zikir jawaban azan.
Contoh penerapan
Keadaan
Orang junub mendengar azan dan mengira semua zikir dilarang baginya.
Cara memahami
Ia membedakan jawaban azan dari tilawah yang dibahas dalam bab janabah.
Batas penerapan
Keadaan sedang salat mempunyai ketentuan jawaban tersendiri.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Shahih al-Bukhari 611
Petikan Arab dari riwayat bernomor; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran. Baca konteks lengkap melalui tautan.
Baca petikan Arab
إذا سمعتم النداء فقولوا مثل ما يقول المؤذن
Inti makna
Pendengar dianjurkan menjawab ucapan muazin.
Kaitan dengan bait
Hadis memerintahkan menjawab seperti ucapan muazin; pengecualian hai‘alah dijelaskan pada bait berikut.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Apakah orang junub boleh menjawab azan sebagai zikir?
Lihat pembahasan jawaban
Boleh; matan secara khusus menyebut kelonggaran itu.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
مرتفعا
berada di tempat lebih tinggi
كقوله أجابه
menjawab seperti ucapannya
مستمع
orang yang mendengar
ولو مع الجنابه
walaupun dalam keadaan junub
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
مُرتَفِعَا كقَوْلِهِ أَجَابَهْ
Buka penggal 2
مُستَمِعٌ ولَوْ مَعَ الجنابَهْ
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 283 — Tempat tinggi dan menjawab azanNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.