Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 30
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Mengenal Allah dan sifat-Nya · Bait 30 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
كلامه
kalam-Nya
كوصفه القديم
seperti sifat-Nya yang azali
لم يحدث
Dia tidak menjadikan baru
المسموع
apa yang didengar
للكليم
oleh al-Kalim (Nabi Musa)
Terjemahan bait 30

Kalam-Nya seperti sifat-Nya yang azali; Dia tidak menjadikan baru kalam yang didengar oleh al-Kalim [Nabi Musa].

Syarah · keterangan lengkap

Kerangka pembahasan

Bait ini menggunakan bahasa ilmu kalam dalam tradisi Asy‘ari yang diikuti pengarang. Qadim berarti tidak memiliki permulaan, bukan tua dalam arti sudah berlalu banyak tahun. Kalam Allah sebagai sifat yang berdiri pada zat-Nya tidak bermula seperti ucapan makhluk. Dengan menyebut kerangkanya, pelajar memahami bahwa istilah ini memiliki pengertian teknis, bukan sekadar makna bahasa sehari-hari.

Siapa al-Kalim?

Al-Kalim merupakan gelar bagi Nabi Musa karena Allah berfirman kepadanya. Pengarang menegaskan bahwa kalam yang dinisbahkan kepada Allah tidak berubah menjadi sifat baru hanya karena didengar Musa pada waktu tertentu. Kejadian mendengar pada diri makhluk dibedakan dari keazalian sifat Allah. Bagaimana hakikatnya tidak disamakan dengan percakapan dua manusia.

Membedakan sifat dan sarana

Tulisan, kertas, suara pembaca, serta gerak lidah adalah perkara makhluk yang mempunyai awal. Dalam uraian Asy‘ari, semuanya dibedakan dari sifat kalam Allah yang azali. Pembedaan ini penting agar pembaca tidak menganggap tinta atau suara manusia bersifat azali. Bait berikut menerangkan Al-Qur’an yang ditulis, dibaca, dan dihafal. Pembahasan yang rumit sebaiknya dipelajari melalui definisi yang konsisten, tanpa menjadikannya bahan saling menuduh hanya karena perbedaan penggunaan istilah.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 13. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

كلامه كوصفه القديم

كلامُه mubtada. ك huruf perbandingan; وصفِ majrur dan ه mudhaf ilaih. القديمِ merupakan sifat bagi وصف. Jar-majrur menjadi khabar yang menyatakan kalam termasuk sifat-Nya yang tidak bermula.

لم يحدث المسموع للكليم

لم menafikan dan menjazmkan يُحدِثْ; pelakunya Allah yang dipahami dari konteks. المسموعَ objek dan للكليم jar-majrur terkait dengan yang diperdengarkan kepada Nabi Musa. Baca يُحدِث sebagai bentuk aktif, bukan يَحدُث yang berarti baru terjadi.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

المسموع

Akar
س م ع
Pola / bentuk
مَفْعُول

Isim maf‘ul dari سَمِعَ: yang didengar. Bentuk pasif isim tidak berarti sifat Allah merupakan ciptaan.

الكليم

Akar
ك ل م
Pola / bentuk
فَعِيل

Sebutan Nabi Musa dalam konteks Allah berbicara kepadanya. Makna sebutan dipahami dari riwayat, bukan hanya dari pola katanya.

Hubungan bait

Ini perincian sifat الكلام pada bait 29. Bait 31 kemudian membedakan penulisan, pembacaan, dan hafalan sebagai cara manusia berhubungan dengan Al-Qur’an.

Intisari & faedah
  1. Qadim dalam pembahasan sifat berarti tidak bermula, bukan sekadar sangat tua.
  2. Istilah kalam dalam ilmu akidah perlu dibedakan dari tindakan manusia membaca.
Contoh penerapan

Keadaan

Pelajar menyamakan tinta mushaf dengan sifat kalam Allah.

Cara memahami

Ia mempelajari perbedaan sifat Allah, kandungan wahyu, dan sarana fisik pembacaan atau penulisan.

Batas penerapan

Perincian teologis ini dibaca dalam kerangka syarah pengarang, bukan dengan analogi fisik semata.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS An-Nisaa 4:164

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

وَرُسُلًۭا قَدْ قَصَصْنَٰهُمْ عَلَيْكَ مِن قَبْلُ وَرُسُلًۭا لَّمْ نَقْصُصْهُمْ عَلَيْكَ ۚ وَكَلَّمَ ٱللَّهُ مُوسَىٰ تَكْلِيمًۭا

Inti makna

Allah menyampaikan kisah sebagian rasul dan berfirman langsung kepada Musa; tidak semua rasul dikisahkan di sini.

Kaitan dengan bait

Ayat menetapkan bahwa Allah berbicara kepada Musa; perincian istilah sifat qadim adalah penjelasan akidah pengarang.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apa yang dimaksud qadim dalam pembahasan bait ini?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak memiliki permulaan; bukan benda atau suara makhluk yang sudah berusia sangat lama.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

كلامه

kalam-Nya

كوصفه القديم

seperti sifat-Nya yang azali

لم يحدث

Dia tidak menjadikan baru

المسموع

apa yang didengar

للكليم

oleh al-Kalim (Nabi Musa)

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

كَلامُهُ كَوَصفِهِ القَدِيمِ

Buka penggal 2

لم يُحْدِثِ المسموعَ للكَلِيمِ

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 30 — Kalam Allah yang tidak bermulaNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan