Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Sujud sahwi dan perbaikan rukun · Bait 330 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- وعائد قبل انتصاب
- dan yang kembali sebelum berdiri tegak
- يندب سجوده
- disunahkan sujudnya
- إذ للقيام أقرب
- ketika lebih dekat kepada berdiri
Terjemahan bait 330
Dan yang kembali sebelum berdiri tegak; disunahkan sujudnya; ketika lebih dekat kepada berdiri.
Syarah · keterangan lengkap
Masih boleh kembali
Jika teringat tasyahud sebelum berdiri tegak, orang dapat kembali karena belum sempurna memasuki rukun berdiri. Posisi tubuh saat ingat menjadi pembeda dari kasus 327.
Kebutuhan sahwi
Sahwi disunahkan ketika ia telah lebih dekat kepada berdiri sebelum kembali. Bila masih lebih dekat ke duduk atau seimbang, syarah membedakan karena gerak tambahannya belum mencapai keadaan yang sama.
Penerapan
Pelajar memahami arah gerakan secara wajar tanpa mengukur sudut tubuh dengan angka. Tujuan rincian ini memilih tindakan tepat saat teringat, bukan menimbulkan pemeriksaan berulang terhadap gerakan yang telah lewat.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 90. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
يندب سجوده
يندب pasif; سجوده naib fa‘il, sujudnya dianjurkan.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Bait ini berada dalam pembahasan sujud sahwi dan perbaikan rukun. Baca bersama bait 329 dan 331 untuk mengikuti kelanjutan kalimat dan membedakan syarat, pengecualian, serta tingkatan hukumnya.
Intisari & faedah
- Jika teringat tasyahud sebelum berdiri tegak, orang dapat kembali karena belum sempurna memasuki rukun berdiri.
- Sahwi disunahkan ketika ia telah lebih dekat kepada berdiri sebelum kembali.
Contoh penerapan
Keadaan
Pelajar memahami arah gerakan secara wajar tanpa mengukur sudut tubuh dengan angka.
Cara memahami
Tujuan rincian ini memilih tindakan tepat saat teringat, bukan menimbulkan pemeriksaan berulang terhadap gerakan yang telah lewat.
Batas penerapan
Sahwi disunahkan ketika ia telah lebih dekat kepada berdiri sebelum kembali. Bila masih lebih dekat ke duduk atau seimbang, syarah membedakan karena gerak tambahannya belum mencapai keadaan yang sama.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Sahih Muslim 571a
Riwayat sahih. Petikan Arab dicocokkan dengan teks sumber bernomor; uraian Indonesia disusun sendiri. Petikan bukan seluruh matan hadis.
Baca petikan Arab
فليطرح الشك وليبن على ما استيقن ثم يسجد سجدتين قبل أن يسلم
Inti makna
Ketika ragu hitungan salat, ambil yang diyakini dan lakukan dua sujud sebelum salam menurut petikan riwayat.
Kaitan dengan bait
Hadis menjadi dasar membangun hitungan atas keyakinan dan sujud sahwi. Rincian ab‘adh, rukun yang hilang, serta hubungan imam-makmum dijelaskan syarah.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Jelaskan pokok dan batas penerapan bait 330: ingat sebelum berdiri tegak.
Lihat pembahasan jawaban
Jika teringat tasyahud sebelum berdiri tegak, orang dapat kembali karena belum sempurna memasuki rukun berdiri. Posisi tubuh saat ingat menjadi pembeda dari kasus 327. Sahwi disunahkan ketika ia telah lebih dekat kepada berdiri sebelum kembali. Bila masih lebih dekat ke duduk atau seimbang, syarah membedakan karena gerak tambahannya belum mencapai keadaan yang sama.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
وعائد قبل انتصاب
dan yang kembali sebelum berdiri tegak
يندب سجوده
disunahkan sujudnya
إذ للقيام أقرب
ketika lebih dekat kepada berdiri
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
وعائِدٌ قَبلَ انتِصَابٍ يُنْدَبُ
Buka penggal 2
سُجُودُهُ إِذ لِلْقِيَامِ أَقْرَبُ
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 330 — Ingat sebelum berdiri tegakNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.