Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 4
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Mukadimah dan adab ilmu · Bait 4 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
وبعد
dan sesudah itu (adapun kemudian)
هذي
inilah
زبد
sari-sari atau intisari
نظمتها
yang kususun menjadi nazam
أبياتها
bait-baitnya
ألف
seribu
بما قد زدتها
beserta apa yang telah kutambahkan padanya
Terjemahan bait 4

Adapun sesudah itu, inilah sari-sari ilmu yang kunazamkan; bait-baitnya seribu beserta apa yang telah kutambahkan padanya.

Syarah · keterangan lengkap

Peralihan menuju tujuan kitab

Wa ba‘du merupakan ungkapan untuk berpindah dari pujian dan selawat menuju pokok pembicaraan. Pengarang menjelaskan karya yang akan dipelajari: rumusan singkat ilmu dalam bentuk syair berirama. Satu bait terdiri atas dua penggal. Dalam pembaca aplikasi ini, keduanya tetap dikelompokkan sebagai satu nomor agar hitungan tidak tertukar dengan jumlah baris di layar.

Arti Zubad

Zubad adalah bentuk jamak zubdah: sari atau bagian inti. Kitab yang dikenal sebagai Shafwat az-Zubad disusun oleh Ahmad bin Husain bin Ruslan, dengan menghimpun pokok fikih mazhab Syafi‘i dalam nazam. Nama tersebut menerangkan sifat ringkasnya. Karena yang disajikan adalah inti, syarat, pengecualian, dan contoh sering memerlukan uraian syarah; pembaca tidak boleh menganggap satu kalimat pendek telah mencakup seluruh rincian suatu masalah.

Bagaimana memahami jumlah seribu?

Penyebutan seribu dalam pengantar merupakan penggambaran jumlah secara pendekatan, bukan alasan memotong naskah tepat pada angka seribu. Pengarang menyebut adanya tambahan, termasuk materi pengantar dan penutup. Untuk tahap aplikasi ini, cakupan dibatasi pada bait 1–100 menurut penomoran yang dijelaskan pada catatan sumber. Judul bab dan basmalah tidak dihitung sebagai bait tambahan. Bagian sesudahnya dapat diteruskan tanpa mengubah urutan pembelajaran yang sudah ada.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 6. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

وبعد هذي زبد نظمتها

بعدُ adalah zharaf yang dibangun di atas dhammah karena mudhaf ilaihnya dihilangkan tetapi maknanya dimaksudkan: sesudah pembuka tadi. هذي isim isyarah sebagai mubtada; زبدٌ khabar. نظمتُها terdiri dari fi‘il madhi, ta pelaku pengarang, dan ha objek; kalimatnya menerangkan زبد.

أبياتها ألف بما قد زدتها

أبياتُ mubtada, ها mudhaf ilaih yang kembali kepada nazam; ألفٌ khabar. ب pada بما bermakna penyertaan. ما menghubungkan tambahan yang disebut; قد menegaskan perbuatan lampau, ت pada زدتُ pelaku, dan ها kembali kepada nazam.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

نظمتها

Akar
ن ظ م
Pola / bentuk
فَعَلَ → نَظَمْتُ

Fi‘il madhi: aku menyusun dalam nazam. ت adalah pelaku, sedangkan ها adalah objek yang disusun.

أبيات

Akar
ب ي ت
Pola / bentuk
أَفْعَال

Jamak taksir dari بيت. Dalam konteks ini artinya baris puisi/bait, bukan bangunan rumah.

Hubungan bait

وبعد menandai perpindahan dari hamdalah dan selawat menuju isi pengantar. Bait 5–6 menerangkan manfaat kitab yang baru diperkenalkan di sini.

Intisari & faedah
  1. Zubad bermakna sari atau bagian inti ilmu.
  2. Penyebutan seribu bersifat pendekatan jumlah dalam nazam, bukan batas materi aplikasi ini.
Contoh penerapan

Keadaan

Seorang pembaca melihat aplikasi baru memuat 100 bait tetapi bait ini menyebut seribu.

Cara memahami

Ia membedakan jumlah seluruh nazam dengan cakupan tahap belajar dalam aplikasi.

Batas penerapan

Nomor 1–100 di aplikasi adalah sebagian kitab, bukan pernyataan bahwa kitab aslinya hanya 100 bait.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Taa-Haa 20:114

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِٱلْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًۭا

Inti makna

Allah Mahatinggi dan Mahabenar; Nabi diarahkan tidak tergesa menerima bacaan wahyu dan berdoa agar ditambah ilmu.

Kaitan dengan bait

Penguat tema bertambah dalam ilmu. Ayat ini bukan dalil tentang judul atau jumlah bait; keduanya merupakan keterangan pengarang.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Ke mana kata ganti ها pada أبياتها kembali?

Lihat pembahasan jawaban

Kembali kepada susunan nazam/kitab yang disebut sebagai زبد pada penggal pertama.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

وبعد

dan sesudah itu (adapun kemudian)

هذي

inilah

زبد

sari-sari atau intisari

نظمتها

yang kususun menjadi nazam

أبياتها

bait-baitnya

ألف

seribu

بما قد زدتها

beserta apa yang telah kutambahkan padanya

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

وبَعدُ هذي زُبَدٌ نظَمتُهَا

Buka penggal 2

أبياتُها ألفٌ بما قد زِدتُها

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 4 — Nama kitab dan bentuk nazamNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan