Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Pengurusan jenazah dan takziah · Bait 408 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- والفرض للصلاة كبر ناويا
- dan kewajiban salat jenazah: bertakbir dengan niat
- ثم اقرأ الحمد
- kemudian baca Al-Fatihah
- وكبر ثانيا
- dan bertakbir kedua
Terjemahan bait 408
Dan kewajiban salat jenazah: bertakbir dengan niat; kemudian baca Al-Fatihah; dan bertakbir kedua.
Syarah · keterangan lengkap
Memulai salat jenazah
Takbir pertama disertai niat salat jenazah. Tidak harus mengenal nama jenazah secara lengkap untuk dapat meniatkan salat atas jenazah yang dihadirkan atau yang disalatkan imam menurut ketentuannya.
Bacaan Al-Fatihah
Setelah pembukaan dibaca Al-Fatihah, kemudian takbir kedua. Istilah al-hamd merupakan sebutan surah, bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah lalu menganggap bacaan wajib selesai.
Rangkaian empat takbir
Bait 408–410 membentuk satu urutan lengkap. Salat jenazah tidak memiliki rukuk dan sujud, sehingga takbir serta bacaan tidak dipadankan dengan rakaat salat lima waktu.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 112. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
ناويا
حال yang menerangkan keadaan pelaku ketika bertakbir, yakni menyertakan niat.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Bait ini berada dalam pembahasan pengurusan jenazah dan takziah. Baca bersama bait 407 dan 409 untuk mengikuti kelanjutan kalimat dan membedakan syarat, pengecualian, serta tingkatan hukumnya.
Intisari & faedah
- Takbir pertama disertai niat salat jenazah.
- Setelah pembukaan dibaca Al-Fatihah, kemudian takbir kedua.
Contoh penerapan
Keadaan
Bait 408–410 membentuk satu urutan lengkap.
Cara memahami
Salat jenazah tidak memiliki rukuk dan sujud, sehingga takbir serta bacaan tidak dipadankan dengan rakaat salat lima waktu.
Batas penerapan
Setelah pembukaan dibaca Al-Fatihah, kemudian takbir kedua. Istilah al-hamd merupakan sebutan surah, bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah lalu menganggap bacaan wajib selesai.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Sahih al-Bukhari 1239
Riwayat sahih. Petikan Arab dicocokkan dengan teks sumber bernomor; uraian Indonesia disusun sendiri. Petikan bukan seluruh matan hadis.
Baca petikan Arab
أمرنا باتباع الجنائز وعيادة المريض وإجابة الداعي ونصر المظلوم
Inti makna
Riwayat menyebut tuntunan sosial termasuk mengikuti jenazah, menjenguk yang sakit, memenuhi undangan, dan membantu yang dizalimi.
Kaitan dengan bait
Hadis menyebut kewajiban sosial mengikuti jenazah. Rincian mandi, kafan, salat, penguburan, dan takziah dijelaskan pada halaman syarah yang ditautkan.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Jelaskan pokok dan batas penerapan bait 408: niat, takbir pertama, dan al-fatihah.
Lihat pembahasan jawaban
Takbir pertama disertai niat salat jenazah. Tidak harus mengenal nama jenazah secara lengkap untuk dapat meniatkan salat atas jenazah yang dihadirkan atau yang disalatkan imam menurut ketentuannya. Setelah pembukaan dibaca Al-Fatihah, kemudian takbir kedua. Istilah al-hamd merupakan sebutan surah, bukan sekadar mengucapkan alhamdulillah lalu menganggap bacaan wajib selesai.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
والفرض للصلاة كبر ناويا
dan kewajiban salat jenazah: bertakbir dengan niat
ثم اقرأ الحمد
kemudian baca Al-Fatihah
وكبر ثانيا
dan bertakbir kedua
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
والفَرْضُ للصَّلاةِ كَبِّرْ ناوِيَاً
Buka penggal 2
ثم اقرإِ الحَمدُ وكَبِّرْ ثانِيَاً
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 408 — Niat, takbir pertama, dan Al-FatihahNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.