Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Pengurusan jenazah dan takziah · Bait 410 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- من بعده التكبير والسلام
- sesudahnya takbir dan salam
- وقادر يلزمه القيام
- serta yang mampu wajib berdiri
Terjemahan bait 410
Sesudahnya takbir dan salam; serta yang mampu wajib berdiri.
Syarah · keterangan lengkap
Penutup rangkaian
Sesudah doa pada takbir ketiga, dilakukan takbir keempat lalu salam. Syarah menganjurkan doa sesudah keempat, tetapi membedakan kesunahan bacaan itu dari unsur wajib yang telah ditentukan.
Berdiri bagi yang mampu
Salat jenazah merupakan fardu kifayah sehingga berdiri diwajibkan bagi yang mampu. Tidak adanya rukuk dan sujud bukan berarti seluruh postur bebas dipilih tanpa ketentuan.
Syarat salat tetap berlaku
Kesucian, aurat, kiblat, dan syarat lainnya tetap diperhatikan. Pelajar dapat mengulang rangkaian empat takbir melalui latihan, sambil membedakan jumlah takbir dari jumlah rakaat yang memang tidak ada pada salat ini.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 112. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
يلزمه القيام
يلزم fi‘il; ه objek; القيام fa‘il yang diakhirkan.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Bait ini berada dalam pembahasan pengurusan jenazah dan takziah. Baca bersama bait 409 dan 411 untuk mengikuti kelanjutan kalimat dan membedakan syarat, pengecualian, serta tingkatan hukumnya.
Intisari & faedah
- Sesudah doa pada takbir ketiga, dilakukan takbir keempat lalu salam.
- Salat jenazah merupakan fardu kifayah sehingga berdiri diwajibkan bagi yang mampu.
Contoh penerapan
Keadaan
Kesucian, aurat, kiblat, dan syarat lainnya tetap diperhatikan.
Cara memahami
Pelajar dapat mengulang rangkaian empat takbir melalui latihan, sambil membedakan jumlah takbir dari jumlah rakaat yang memang tidak ada pada salat ini.
Batas penerapan
Salat jenazah merupakan fardu kifayah sehingga berdiri diwajibkan bagi yang mampu. Tidak adanya rukuk dan sujud bukan berarti seluruh postur bebas dipilih tanpa ketentuan.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Sahih al-Bukhari 1239
Riwayat sahih. Petikan Arab dicocokkan dengan teks sumber bernomor; uraian Indonesia disusun sendiri. Petikan bukan seluruh matan hadis.
Baca petikan Arab
أمرنا باتباع الجنائز وعيادة المريض وإجابة الداعي ونصر المظلوم
Inti makna
Riwayat menyebut tuntunan sosial termasuk mengikuti jenazah, menjenguk yang sakit, memenuhi undangan, dan membantu yang dizalimi.
Kaitan dengan bait
Hadis menyebut kewajiban sosial mengikuti jenazah. Rincian mandi, kafan, salat, penguburan, dan takziah dijelaskan pada halaman syarah yang ditautkan.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Jelaskan pokok dan batas penerapan bait 410: takbir keempat, salam, dan berdiri.
Lihat pembahasan jawaban
Sesudah doa pada takbir ketiga, dilakukan takbir keempat lalu salam. Syarah menganjurkan doa sesudah keempat, tetapi membedakan kesunahan bacaan itu dari unsur wajib yang telah ditentukan. Salat jenazah merupakan fardu kifayah sehingga berdiri diwajibkan bagi yang mampu. Tidak adanya rukuk dan sujud bukan berarti seluruh postur bebas dipilih tanpa ketentuan.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
من بعده التكبير والسلام
sesudahnya takbir dan salam
وقادر يلزمه القيام
serta yang mampu wajib berdiri
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
مِنْ بعدِهِ التكبيرُ والسَّلامُ
Buka penggal 2
وقادِرٌ يلزَمُهُ القيامُ
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 410 — Takbir keempat, salam, dan berdiriNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.