Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Nisab dan zakat unta · Bait 425 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- في الفرد والتسعين ضعف الحقة
- pada sembilan puluh satu: dua hiqqah
- والفرد مع عشرين بعد المئة
- dan pada seratus dua puluh satu
Terjemahan bait 425
Pada sembilan puluh satu: dua hiqqah; dan pada seratus dua puluh satu.
Syarah · keterangan lengkap
Dua hiqqah
Sembilan puluh satu sampai seratus dua puluh unta mewajibkan dua hiqqah. Istilah dua kali hiqqah berarti dua ekor, bukan menggandakan umur atau ukuran tubuh satu hewan.
Batas berikut terbuka
Seratus dua puluh satu pada akhir bait memulai tingkat yang diterangkan pada 426. Nazam menempatkan angka dan kewajibannya pada dua bait, sehingga pemisahan tampilan tidak boleh memutus hubungan makna.
Penerapan
Seratus dua puluh belum masuk aturan tiga bint labun. Periksa batas inklusif setiap rentang untuk menghindari perpindahan kategori satu ekor terlalu awal.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 118. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
ضعف الحقة
ضعف mudhaf kepada الحقة, menunjukkan dua kali jumlah kategori tersebut.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Bait ini berada dalam pembahasan nisab dan zakat unta. Baca bersama bait 424 dan 426 untuk mengikuti kelanjutan kalimat dan membedakan syarat, pengecualian, serta tingkatan hukumnya.
Intisari & faedah
- Sembilan puluh satu sampai seratus dua puluh unta mewajibkan dua hiqqah.
- Seratus dua puluh satu pada akhir bait memulai tingkat yang diterangkan pada 426.
Contoh penerapan
Keadaan
Seratus dua puluh belum masuk aturan tiga bint labun.
Cara memahami
Periksa batas inklusif setiap rentang untuk menghindari perpindahan kategori satu ekor terlalu awal.
Batas penerapan
Seratus dua puluh satu pada akhir bait memulai tingkat yang diterangkan pada 426. Nazam menempatkan angka dan kewajibannya pada dua bait, sehingga pemisahan tampilan tidak boleh memutus hubungan makna.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Al-Qur’an 9:103
Surah At-Tawba, ayat 103. Inti makna Indonesia merupakan ringkasan pembelajaran; baca konteks ayat pada sumber.
Baca teks ayat
خُذْ مِنْ أَمْوَٰلِهِمْ صَدَقَةًۭ تُطَهِّرُهُمْ وَتُزَكِّيهِم بِهَا وَصَلِّ عَلَيْهِمْ ۖ إِنَّ صَلَوٰتَكَ سَكَنٌۭ لَّهُمْ ۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Inti makna
Pengambilan zakat dari harta menjadi sarana penyucian; Nabi diperintahkan pula mendoakan mereka.
Kaitan dengan bait
Ayat mendasari pengambilan zakat untuk penyucian. Jenis harta, nisab, kadar, haul, dan fitrah pada bait ini ditetapkan melalui hadis dan rincian syarah, bukan seluruhnya tercantum pada ayat ini.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Jelaskan pokok dan batas penerapan bait 425: sembilan puluh satu dan seratus dua puluh satu.
Lihat pembahasan jawaban
Sembilan puluh satu sampai seratus dua puluh unta mewajibkan dua hiqqah. Istilah dua kali hiqqah berarti dua ekor, bukan menggandakan umur atau ukuran tubuh satu hewan. Seratus dua puluh satu pada akhir bait memulai tingkat yang diterangkan pada 426. Nazam menempatkan angka dan kewajibannya pada dua bait, sehingga pemisahan tampilan tidak boleh memutus hubungan makna.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
في الفرد والتسعين ضعف الحقة
pada sembilan puluh satu: dua hiqqah
والفرد مع عشرين بعد المئة
dan pada seratus dua puluh satu
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
في الفَرْدِ والتسعينَ ضِعفُ الحِقَّةِ
Buka penggal 2
والفَرْدِ مَعْ عشرينَ بَعْدَ المئَةِ
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 425 — Sembilan puluh satu dan seratus dua puluh satuNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.