Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 45
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Karunia, takdir, dan akhir kehidupan · Bait 45 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
له عقاب من أطاعه
bagi-Nya menghukum orang yang menaati-Nya
كما
sebagaimana
يثيب من عصى
Dia memberi balasan kepada orang yang durhaka
ويولي نعما
dan menganugerahkan berbagai nikmat
Terjemahan bait 45

Bagi-Nya [secara kekuasaan] menghukum orang yang menaati-Nya, sebagaimana memberi balasan kepada orang yang durhaka dan menganugerahkan berbagai nikmat.

Syarah · keterangan lengkap

Bait yang tidak boleh dibaca sendirian

Redaksi ini berada dalam perdebatan ilmu kalam tentang apakah makhluk dapat mewajibkan sesuatu atas Allah. Pengarang menegaskan tidak ada kekuatan di luar Allah yang mengikat-Nya seperti seorang pemberi kerja terikat utang kepada pekerja. Pembahasan ini mengenai kemungkinan menurut pertimbangan akal, bukan pemberitahuan bahwa Allah mengingkari janji-Nya kepada orang yang taat.

Penjelasan syarah

Ghayat al-Bayan membedakan kekuasaan tersebut dari kenyataan yang Allah kabarkan melalui wahyu: Allah menjanjikan balasan bagi ketaatan, dan berita-Nya benar. Karena itu, bait ini tidak membenarkan kesimpulan bahwa taat tidak berguna atau Allah tidak dapat dipercaya. Amal merupakan sebab yang ditetapkan syariat bagi balasan, sedangkan balasan itu tetap karunia-Nya, bukan tuntutan yang dipaksakan makhluk kepada-Nya.

Nikmat bukan selalu tanda persetujuan

Seorang pendosa dapat memperoleh kesehatan atau kelapangan harta. Pemberian nikmat dunia tidak otomatis berarti perilakunya diridai. Sebaliknya, orang taat yang mengalami kesulitan tidak otomatis sedang dibenci. Arah pendidikan bait ialah tidak mengukur nilai moral hanya dari keuntungan lahir. Hamba terus menaati tuntunan, berharap pada janji Allah, dan tidak mengklaim bisa membaca seluruh hikmah setiap kejadian. Dengan kerangka ini, kebebasan kuasa Allah dan kebenaran janji-Nya tidak dipertentangkan.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 16. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

له عقاب من أطاعه

له khabar didahulukan; عقابُ mubtada dan mudhaf. من maushul sebagai mudhaf ilaih; أطاعه shilah, dengan ه kembali kepada Allah. Ini pembahasan kemungkinan akal dalam kerangka kalam pengarang.

كما يثيب من عصى ويولي نعما

كما menghubungkan perbandingan. يثيبُ dan يولي fi‘il yang dihubungkan; من objek يثيب dengan شilah عصى. نعماً objek يولي, yaitu karunia-karunia yang diberikan.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

عقاب

Akar
ع ق ب
Pola / bentuk
فِعَال

Masdar yang menunjukkan pembalasan/hukuman, berbeda dari nama burung عُقاب karena vokal dan konteksnya.

يولي

Akar
و ل ي
Pola / bentuk
يُفْعِلُ setelah i‘lal

Mudhari‘ dari أَوْلَى, memberikan atau menganugerahkan dalam konteks ini.

Hubungan bait

Bait 42–44 menerangkan karunia dan keadilan. Bait ini memakai sudut kemungkinan akal; jangan memisahkannya dari kebenaran janji Allah dan penjelasan syarah.

Intisari & faedah
  1. Kemungkinan menurut akal dibedakan dari berita pasti dalam wahyu.
  2. Allah menepati janji-Nya; hamba tidak berkuasa memaksa-Nya.
Contoh penerapan

Keadaan

Pelajar menyimpulkan amal tidak berguna setelah membaca bait ini terpisah.

Cara memahami

Ia membaca syarah yang membedakan kemungkinan akal dari janji dan ancaman dalam wahyu.

Batas penerapan

Kalimat kalam tidak boleh dijadikan alasan meninggalkan kewajiban.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS Aal-i-Imraan 3:9

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

رَبَّنَآ إِنَّكَ جَامِعُ ٱلنَّاسِ لِيَوْمٍۢ لَّا رَيْبَ فِيهِ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ لَا يُخْلِفُ ٱلْمِيعَادَ

Inti makna

Doa yang mengakui bahwa Allah akan mengumpulkan manusia pada hari yang tidak diragukan dan tidak menyalahi janji-Nya.

Kaitan dengan bait

Ayat menegaskan Allah tidak menyalahi janji; menjadi batas penting saat memahami kemungkinan akal yang dibahas bait.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Mengapa bait ini tidak berarti janji Allah dapat dianggap palsu?

Lihat pembahasan jawaban

Karena pembahasannya tentang kemungkinan akal dan ketiadaan pihak yang memaksa Allah, sedangkan kebenaran janji-Nya ditetapkan wahyu.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

له عقاب من أطاعه

bagi-Nya menghukum orang yang menaati-Nya

كما

sebagaimana

يثيب من عصى

Dia memberi balasan kepada orang yang durhaka

ويولي نعما

dan menganugerahkan berbagai nikmat

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

لهُ عِقَابُ مَن أطاعَهُ كَمَا

Buka penggal 2

يُثِيبُ مَن عَصَى ويُولِي نِعَمَا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 45 — Kemungkinan akal dan kepastian janji AllahNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan