Lewati navigasi
Pustaka TEMAS / Zubad · Bait 46
Koleksi belajar
FIKIH SYAFI‘I · BAIT 1–539

Matan Zubad

Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)

صَفْوَةُ الزُّبَدِ
Pengaturan tampilan

Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.

Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.

← Daftar bait

Karunia, takdir, dan akhir kehidupan · Bait 46 dari 539

Mufradat · arti kata dan frasa
كذا له
demikian pula bagi-Nya
أن يؤلم الأطفالا
menjadikan anak-anak mengalami rasa sakit
ووصفه بالظالم
dan menyifati-Nya sebagai zalim
استحالا
adalah mustahil
Terjemahan bait 46

Demikian pula bagi-Nya [kuasa] menjadikan anak-anak mengalami rasa sakit; menyifati-Nya sebagai zalim adalah mustahil.

Syarah · keterangan lengkap

Pertanyaan yang dijawab

Mengapa orang yang belum berdosa dapat mengalami sakit atau musibah? Bait membahas pertanyaan teologis itu. Keberadaan penderitaan pada anak tidak menunjukkan anak bersalah atau layak disalahkan. Pengarang menegaskan bahwa Allah tidak bergantung pada kewajiban yang dipaksakan makhluk, dan bahwa kesempurnaan ilmu serta hikmah-Nya tidak disamakan dengan kezaliman manusia.

Batas pengetahuan manusia

Kita dapat mengetahui sebagian hikmah suatu keadaan, tetapi tidak mempunyai dasar memastikan alasan khusus Allah mengizinkan setiap penderitaan. Karena itu, hindari mengatakan kepada keluarga yang berduka bahwa penyakit anak pasti akibat dosa tertentu. Pembahasan umum tentang hikmah tidak memberi pengetahuan gaib mengenai satu kejadian. Iman kepada keadilan Allah berjalan bersama pengakuan bahwa pengetahuan manusia terbatas.

Kewajiban manusia tetap melindungi

Apa yang dibahas tentang kekuasaan Allah bukan izin bagi manusia menyakiti anak. Manusia justru diperintahkan menyayangi, melindungi, mengobati, dan mencegah kekerasan. Ketika melihat anak menderita, respons yang sesuai ialah memberi pertolongan dan dukungan, bukan mengabaikannya dengan alasan takdir. Bait perlu disertai pembedaan tegas antara uraian ketuhanan dan hukum perilaku manusia. Keimanan yang matang menumbuhkan belas kasih dan tanggung jawab terhadap pihak yang lemah.

Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 17. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.

Buka halaman sumber ↗

Catatan teks dan semua rujukan

I‘rab & tarkib

Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.

كذا له أن يؤلم الأطفالا

له khabar didahulukan; أن يؤلم menjadi masdar muawwal pada kedudukan mubtada. يؤلمَ manshub setelah أن dan الأطفالَ objeknya; alif terakhir adalah pelepas rima.

ووصفه بالظالم استحالا

وصفُه mubtada; hā pada masdar bermakna objek yang disifati, yaitu Allah. بالظالم melengkapi وصف. استحالَ fi‘il madhi yang menjadi khabar; alif terakhir untuk rima, bukan bentuk dua pelaku.

Arti istilah bahasa
Mubtada & khabar
Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
Fa‘il & na’ib fa‘il
Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
Maf‘ul bih
Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
Idhafah
Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
Rafa‘, nashab, jar, jazm
Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
Jar–majrur & zharaf
Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
Na‘at, badal, ‘athaf
Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
Takdir
Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
Wazan, i‘lal, idgham
Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Sharaf kata kunci

Akar, pola, dan bentuk kata pilihan dalam bait ini. Pola asal dapat berubah karena i‘lal atau idgham.

يؤلم

Akar
أ ل م
Pola / bentuk
يُفْعِلُ

Mudhari‘ dari آلم, membuat mengalami rasa sakit. Hamzah akar perlu dibedakan dari hamzah pola أفعل.

استحال

Akar
ح و ل
Pola / bentuk
اِسْتَفْعَلَ setelah i‘lal

Dalam konteks ini bermakna mustahil. Satu bentuk dapat mempunyai makna berbeda sesuai pemakaian, termasuk berubah pada konteks lain.

Hubungan bait

Bait ini meneruskan pembahasan sifat perbuatan Allah. Penyebutan rasa sakit pada anak bukan pembebanan dosa anak; bait 47 lalu membahas rezeki.

Intisari & faedah
  1. Penderitaan tidak otomatis berarti hukuman atas dosa orang yang mengalaminya.
  2. Pembahasan sifat Allah tidak menghapus kewajiban manusia menyayangi dan menolong anak.
Contoh penerapan

Keadaan

Seorang anak mengalami kesusahan, lalu orang dewasa menyebutnya hukuman karena kesalahannya.

Cara memahami

Pelajar menghindari tuduhan itu dan mengutamakan kasih sayang serta pertolongan.

Batas penerapan

Bait bukan pembenaran bagi manusia untuk menyakiti anak.

Dalil pendukung

Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.

QS An-Nisaa 4:40

Teks ayat; inti makna Indonesia disusun untuk pembelajaran, bukan terjemahan lengkap.

Baca teks ayat

إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍۢ ۖ وَإِن تَكُ حَسَنَةًۭ يُضَٰعِفْهَا وَيُؤْتِ مِن لَّدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًۭا

Inti makna

Allah tidak menzalimi sedikit pun; kebaikan dilipatgandakan dan dibalas dengan pahala yang besar.

Kaitan dengan bait

Ayat menegaskan Allah tidak menzalimi; pengaitan dengan persoalan penderitaan memerlukan penjelasan hikmah dan keterbatasan pengetahuan manusia.

Buka sumber lengkap ↗
Latihan & hafalan

Pahami bait

Apakah alif pada الأطفالا menunjukkan bahwa anaknya dua?

Lihat pembahasan jawaban

Tidak. Itu alif pelepas rima pada lafaz jamak الأطفال, bukan akhiran mutsanna.

Uji mufradat

Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.

كذا له

demikian pula bagi-Nya

أن يؤلم الأطفالا

menjadikan anak-anak mengalami rasa sakit

ووصفه بالظالم

dan menyifati-Nya sebagai zalim

استحالا

adalah mustahil

Latihan hafalan

Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.

Buka penggal 1

كذا لَهُ أن يُؤلِمَ الأَطفالا

Buka penggal 2

ووصْفُهُ بالظالِمِ استَحَالا

Arab22
BERSAMA MENYEMPURNAKAN PUSTAKA

Catatan & masukan pembaca

Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.

Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 46 — Penderitaan anak dan kesucian Allah dari kezalimanNaskah 3 · materi pendamping 3

Masuk dengan Google agar nama terisi otomatis dan masukan terhubung ke riwayat serta penilaian poin kontribusi.

Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Kutip teks yang ingin dikoreksi opsional
Tambahkan usulan perbaikan & rujukan opsional

Masukan ditelaah pengelola sebelum ditampilkan. Nama yang diisi ikut tampil jika masukan diterbitkan.

Catatan yang telah ditinjau 0

Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.

Beri masukan