Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Kewajiban puasa, niat, dan keadaan pelaku · Bait 467 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- وإن يكن فرضا شرطنا نيته
- dan bila wajib, disyaratkan niatnya
- قد عينت من ليله مبيته
- ditentukan jenisnya dan dilakukan pada malamnya
Terjemahan bait 467
Dan bila wajib, disyaratkan niatnya; ditentukan jenisnya dan dilakukan pada malamnya.
Syarah · keterangan lengkap
Sebelum fajar
Puasa wajib seperti Ramadan, qada, atau nazar memerlukan niat malam menurut mazhab ini. Untuk Ramadan, setiap hari memiliki niatnya; maksud dapat terwujud kapan saja pada malam sebelum fajar.
Menentukan ibadah
Niat membedakan puasa Ramadan dari kewajiban lain. Bukan sekadar memutuskan tidak makan demi diet lalu dianggap otomatis menunaikan puasa wajib.
Tidak harus berulang lisan
Maksud yang sudah ada tidak perlu diulang dengan cemas sampai fajar. Bangun sahur dengan tujuan menunaikan Ramadan menunjukkan kehendak ibadah; hafalan lafaz bukan satu-satunya cara memastikan niat.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 126. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
مبيتة
Sifat bagi niat, menerangkan bahwa ia ditempatkan pada malam hari.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Bait ini berada dalam pembahasan kewajiban puasa, niat, dan keadaan pelaku. Baca bersama bait 466 dan 468 untuk mengikuti kelanjutan kalimat dan membedakan syarat, pengecualian, serta tingkatan hukumnya.
Intisari & faedah
- Puasa wajib seperti Ramadan, qada, atau nazar memerlukan niat malam menurut mazhab ini.
- Niat membedakan puasa Ramadan dari kewajiban lain.
Contoh penerapan
Keadaan
Maksud yang sudah ada tidak perlu diulang dengan cemas sampai fajar.
Cara memahami
Bangun sahur dengan tujuan menunaikan Ramadan menunjukkan kehendak ibadah; hafalan lafaz bukan satu-satunya cara memastikan niat.
Batas penerapan
Niat membedakan puasa Ramadan dari kewajiban lain. Bukan sekadar memutuskan tidak makan demi diet lalu dianggap otomatis menunaikan puasa wajib.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Shahih al-Bukhari 1
Hadis dalam Shahih al-Bukhari. Teks Arab berupa petikan; baca riwayat lengkap pada sumber.
Baca petikan Arab
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى
Inti makna
Amal dinilai dengan niat; setiap orang memperoleh menurut niatnya.
Kaitan dengan bait
Hadis mendasari peranan niat dalam ibadah. Batas malam bagi wajib dan sebelum zawal bagi sunah merupakan rincian fikih dari dalil khusus pada syarah.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Jelaskan pokok dan batas penerapan bait 467: niat malam untuk puasa wajib.
Lihat pembahasan jawaban
Puasa wajib seperti Ramadan, qada, atau nazar memerlukan niat malam menurut mazhab ini. Untuk Ramadan, setiap hari memiliki niatnya; maksud dapat terwujud kapan saja pada malam sebelum fajar. Niat membedakan puasa Ramadan dari kewajiban lain. Bukan sekadar memutuskan tidak makan demi diet lalu dianggap otomatis menunaikan puasa wajib.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
وإن يكن فرضا شرطنا نيته
dan bila wajib, disyaratkan niatnya
قد عينت من ليله مبيته
ditentukan jenisnya dan dilakukan pada malamnya
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
وإِن يَكُنْ فَرْضَا شَرَطْنَا نِيَّتَهْ
Buka penggal 2
قد عُيِّنَتْ مِن ليلهِ مُبَيَّتَهْ
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 467 — Niat malam untuk puasa wajibNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.