Matan Zubad
Imam Ahmad bin Husain bin Ruslan asy-Syafi‘i (w. 844 H)
Pengaturan tampilan
Pilihan ukuran tersimpan di peramban ini.
Ketuk kata Arab untuk artinya. Pilih Syarah untuk uraian lengkap, atau 7 lainnya untuk bahasa, dalil, dan latihan.
Pembatal dan adab puasa · Bait 477 dari 539
Mufradat · arti kata dan frasa
- أما استياك صائم بعد الزوال
- adapun bersiwak bagi yang puasa sesudah zawal
- فاختير لم يكره
- dipilih pendapat tidak makruh
- ويحرم الوصال
- dan diharamkan wisal
Terjemahan bait 477
Adapun bersiwak bagi yang puasa sesudah zawal; dipilih pendapat tidak makruh; dan diharamkan wisal.
Syarah · keterangan lengkap
Pendapat yang dipilih
Matan secara khusus memilih pendapat tidak makruh bersiwak sesudah matahari tergelincir. Ini melengkapi pembahasan siwak terdahulu dan menunjukkan adanya perbedaan tarjih dalam literatur mazhab.
Kebersihan tetap dijaga
Siwak dibedakan dari sengaja menelan bahan. Penerapan pada pasta atau cairan pembersih memperhatikan agar tidak masuk zat pembatal; nama kebersihan saja tidak menghapus aturan tersebut.
Wisal
Wisal ialah menyambung puasa tanpa berbuka pada malam di antara hari-harinya. Ia berbeda dari puasa beberapa hari berturut-turut yang tetap diselingi berbuka tiap magrib; yang kedua bukan wisal.
Rujukan: Ghayat al-Bayan, halaman tercetak 128. Uraian Indonesia dan contoh merupakan susunan pembelajaran.
Buka halaman sumber ↗I‘rab & tarkib
Baca penggal yang dianalisis bersama matan dan bait terkait. Harakat atau kata tambahan dalam analisis dapat menunjukkan takdir untuk menjelaskan susunan; teks matan tetap dipertahankan.
أما استياك صائم
أما membuka perincian; استياك mudhaf kepada صائم sebagai pelakunya.
Arti istilah bahasa
- Mubtada & khabar
- Pokok yang dibicarakan dan keterangan tentangnya dalam kalimat nominal. Keduanya umumnya marfu‘, kecuali dimasuki unsur yang mengubah hukumnya.
- Fa‘il & na’ib fa‘il
- Fa‘il ialah pelaku pada susunan kata kerja aktif. Na’ib fa‘il menempati kedudukan pengganti pelaku dalam susunan pasif; keduanya marfu‘.
- Maf‘ul bih
- Objek yang dikenai pekerjaan; umumnya manshub. Tidak setiap kata sesudah kata kerja otomatis menjadi objek.
- Idhafah
- Hubungan dua isim, misalnya كتابُ الطالبِ. Isim pertama disebut mudhaf, yang kedua mudhaf ilaih dan majrur.
- Rafa‘, nashab, jar, jazm
- Keadaan i‘rab karena kedudukan kata. Dhammah, fathah, kasrah, dan sukun ialah tanda dasarnya; kata tertentu memakai tanda pengganti atau tanda yang diperkirakan.
- Jar–majrur & zharaf
- Huruf jar bersama isim setelahnya membentuk jar–majrur. Zharaf menerangkan waktu atau tempat. Rangkaian ini melengkapi unsur kalimat sesuai konteks.
- Na‘at, badal, ‘athaf
- Na‘at menerangkan sifat; badal menjelaskan/menggantikan unsur sebelumnya; ‘athaf menghubungkan unsur dengan kata penghubung. Tanda i‘rabnya mengikuti hubungan dalam kalimat.
- Takdir
- Unsur atau tanda yang diperkirakan untuk menjelaskan susunan. Takdir untuk pembelajaran bukan penggantian teks asli matan.
- Masdar, isim fa‘il, isim maf‘ul
- Masdar menunjukkan peristiwa tanpa waktu; isim fa‘il menunjukkan pelaku; isim maf‘ul menunjukkan pihak yang dikenai pekerjaan. Makna akhir tetap mengikuti konteks.
- Wazan, i‘lal, idgham
- Wazan ialah pola pembentukan kata; i‘lal ialah perubahan pada huruf lemah; idgham ialah peleburan huruf tertentu. Pola asal dapat berbeda dari bentuk yang tampak.
Hubungan bait
Bait ini berada dalam pembahasan pembatal dan adab puasa. Baca bersama bait 476 dan 478 untuk mengikuti kelanjutan kalimat dan membedakan syarat, pengecualian, serta tingkatan hukumnya.
Intisari & faedah
- Matan secara khusus memilih pendapat tidak makruh bersiwak sesudah matahari tergelincir.
- Siwak dibedakan dari sengaja menelan bahan.
Contoh penerapan
Keadaan
Wisal ialah menyambung puasa tanpa berbuka pada malam di antara hari-harinya.
Cara memahami
Ia berbeda dari puasa beberapa hari berturut-turut yang tetap diselingi berbuka tiap magrib; yang kedua bukan wisal.
Batas penerapan
Siwak dibedakan dari sengaja menelan bahan. Penerapan pada pasta atau cairan pembersih memperhatikan agar tidak masuk zat pembatal; nama kebersihan saja tidak menghapus aturan tersebut.
Dalil pendukung
Perhatikan kaitan setiap dalil dengan bait. Sebagian mendukung tema umum; rincian hukum tetap dibaca melalui syarah.
Sahih al-Bukhari 1957
Riwayat sahih. Petikan Arab dicocokkan dengan teks sumber bernomor; uraian Indonesia disusun sendiri. Petikan bukan seluruh matan hadis.
Baca petikan Arab
لا يزال الناس بخير ما عجلوا الفطر
Inti makna
Menyegerakan berbuka setelah masuk waktunya merupakan tuntunan kebaikan.
Kaitan dengan bait
Hadis menganjurkan menyegerakan berbuka setelah waktunya. Pilihan makanan, mandi, siwak, dan larangan wisal dijelaskan melalui dalil lain serta syarah.
Buka sumber lengkap ↗Latihan & hafalan
Pahami bait
Jelaskan pokok dan batas penerapan bait 477: siwak sesudah zawal dan larangan wisal.
Lihat pembahasan jawaban
Matan secara khusus memilih pendapat tidak makruh bersiwak sesudah matahari tergelincir. Ini melengkapi pembahasan siwak terdahulu dan menunjukkan adanya perbedaan tarjih dalam literatur mazhab. Siwak dibedakan dari sengaja menelan bahan. Penerapan pada pasta atau cairan pembersih memperhatikan agar tidak masuk zat pembatal; nama kebersihan saja tidak menghapus aturan tersebut.
Uji mufradat
Coba sebutkan arti lafaz sebelum membuka jawabannya.
أما استياك صائم بعد الزوال
adapun bersiwak bagi yang puasa sesudah zawal
فاختير لم يكره
dipilih pendapat tidak makruh
ويحرم الوصال
dan diharamkan wisal
Latihan hafalan
Ucapkan penggal bait, lalu buka teksnya untuk mencocokkan.
Buka penggal 1
أما استِياكُ صائمٍ بعد الزَّوَالْ
Buka penggal 2
فاختيرَ لم يُكْرَهْ ويَحْرُمُ الوِصَالْ
Catatan & masukan pembaca
Ada yang perlu diperbaiki? Bantu kami melalui koreksi, saran, atau rujukan.
Untuk Matan Zubad — Bait 1–539 · Bait 477 — Siwak sesudah zawal dan larangan wisalNaskah 3 · materi pendamping 3
Beri masukan Nama wajib diisi · tanpa daftar akun
Catatan yang telah ditinjau 0
Belum ada catatan yang ditampilkan untuk bagian ini. Masukan Anda tetap dapat dikirim kepada pengelola.